Mas, kangmas.. plis dengerin curhatku di akhir perjalanan akademis di Montreal ini:
Dulu pernah kukatakan, aku ndak puas mas. Dan sekarang aku tegaskan: AKU NDAK PUWASSSS!!!
Bukan karena fasilitas atau servis dari universitas yang membuatku tidak mendapatkan kepuasan. Mungkin ini cuma karena diriku: yang sok idealis dan mumpuni.
Mas, emas.. aku pulang ndak bawa apa2. Seharusnya aku sekolah, pulang mbawa ilmu. Lha aku ini: ndak ada apa2. Gede tong daripada isinya. Setidaknya demikian yang aku rasa.
Apa ya aku ini salah to, ketika berusaha menyelesaikan tugas belajarku secepatnya, meski akibatnya rada sekenanya dan asal jadi. Ndak, mas, aku ndak mau menyalahkan diriku sendiri. Jauh2 aku ninggalin mas, bukan untuk jadi bahan kambing hitaman.
Lalu mas pasti akan bertanya: "apa to nduk yang membuatmu ndak puas??"
Waduh mas, sudah kutekankan sejak sebelum aku menjalani proses kuliah di sini, aku ndak suka dengan program yang ditawarkan.
Lantas mas akan mencemooh: "lha kalau tidak suka programnya kenapa dijalani, nduk? Kenapa tidak sejak dulu kau hindari? Ndak ada yang memaksamu untuk menjalani program tersebut to?"
Biadab betul cemooh seperti itu. Ketika aku diterima di program ini, aku cuma sarjana kecil yang sedang berjuang mencari pekerjaan untuk mengisi perut sendiri. Maka lantas apa aku menjadi salah ketika aku memilih untuk mengambil kesempatan yang ada, walau kesempatan yang terbuka tidak sesuai yang aku damba??
Kukira ndak cuma aku, mas…
Kukira banyak biologist2 potensial di negeriku yang harus berganti lapangan, untuk sekedar menutup biaya makan dan meneruskan kehidupan. Ndak sedikit kiranya yang justru tidak mendapat pekerjaan sama sekali.
Lantas apa perlu kiranya aku feel guilty dengan caraku melampaui ini??
Aku baik2 saja!!
Itu yang ingin aku katakan pada dunia yang -mungkin- akan menggugatku ketika yang kubawa pulang cuma GPA dan tulisan tugas akhir yang segitu2 saja.
"Minimalis sekali kerjamu, X-A! Harusnya kau bisa lebih baik dari ini, kau masih punya waktu." gugat seseorang yang merasa dirinya sebagai hardworker dan hardthinker.
"Minimalis bagaimana? Takaran apa yang kau gunakan? Jangan bandingkan lompatan sekedar bakteria dengan lompatan seorang manusia, dong!! Ndak nyambung! Aku ini benar2 baru di bidang ini, sudah bisa paham omongan dosen saja sudah untung. Jangan bandingkan diriku dengan dirimu yang sejak dulu memang sudah berkecimpung dibidang itu. Dan jangan bandingkan pula tulisanku dengan tulisanmu. Bagaimanapun, aku tidak dibesarkan dengan bahasa mbahmu itu!!" Aku berteriak. Aku mengujatnya. Ah, dia tidak tau apa2 tentang apa dan siapa yang sedang dihadapinya.
O walah, mas… lha kok ada ya orang yang masih mencelaku dengan segala hasil kerjaku. Mbok ya biarkan aku begini, sudah untung aku masih mau melakoni ini. Sudah untung aku mau menjalani apa2 yang tidak aku ingini.
Dan sudah untung pula banyak sarjana biologi yang mau beralih profesi. Apa ndak buntung negara kita, kalau semua orang harus bekerja sesuai dengan gelarnya?? Setidaknya macetlah itu roda ekonomi!!
Lha memang pancen ngono kuwi to urip kang sejati??
Urip mung sak dermo nglakoni…..