Percayalah pada Takdir

March 17th, 2009 by eikasalim

Percayalah pada takdir, dia tidak akan mengantarkanmu kemana-mana selain kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Percayalah pada takdir, seperti ikhlas percaya seorang anak kecil kepada kehendak Tuhannya sehingga ia rela dititipkan pada rahim siapa saja. Tidak cuma pada rahim yang kaya dan superstar

Percayalah pada takdir, sebagai sebuah kendaraan yang dengan manis akan mengantarkanmu pada Tuhan beserta para malaikatnya.

Maka ikhlaslah pada takdir, jika kau telah merasa melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang manusia. Maka cukupkanlah kegelisahanmu tentang surga dan neraka dan jadilah hamba yang setia.

*Amin*

Mati

January 16th, 2008 by eikasalim

Emang enak jadi *mantan* presiden

Rumahnya dulu gedong magrong-magrong

Istana, orang menyebutnya

Maklum, presiden = raja.

Bukankah raja penghuni istana?

Pun peran raja pula yang di sandang *nya*

Memaksa setiap manusia yang berPancasila untuk sendiko dawuh atas perintah*nya*

Dilarang membantah jika tidak ingin dimamah.

Itu cerita ketika jayanya

Emang enak jadi *mantan* presiden

Rumah masa depannya berdiri megah di atas bukit gemah ripah.

Astana Giri*Laya* kita sebut demikian adanya

Walau ironi, sebab mati tak kunjung terjadi; orang sudah ramai mengerumuni

Tak ingin ketinggalan prosesi demi prosesi.

Lalu apa makna astana itu??

Batu, tanah, tangis, pilu…

Selebihnya, diam

Diam diatas kasus supersemar

Diam di atas kasus korupsi sekian milyar

Diam di atas tahta dan singgasana yang dipeluk hingga renta

Lalu..diam

Langit akan membawanya membumi. Bila tiba saatnya nanti.

(Maka biar aku menangis untuk hutang anak cucu dan keturunanku)

Anakku sayang…

December 27th, 2007 by eikasalim

Aduh sayang kusayang anakku sayang,
lahir di kota yang menyajikan makanan yang serba "tidak fresh"!
Hah apa itu gudeg? Tidak lain adalah sayur nangka yang sudah dipajang diatas kompor selama berhari-hari.
Tempe? Tempe hanyalah persatuan antara jamur dan kedelai, diperam berhari-hari dibalik buntalan daun pisang, jati, atau kertas koran. Dibilang higienis darimana?
Tahu?  Ini juga cuma produk olahan kedelai, tidak ada bersih-bersihnya, makin segar dengan  keringat  si empu pembuatnya. Hmmm…
Gatot? Tiwul? Grontol?

Stop! Jangan sebut makanan2 yang kukonsumsi itu sebagai produk ndesit dan kampungan. Nyatanya, anak pertamaku kutumbuhkan dan kususui dengan  semua itu. Lengkap dengan atribut2nya: sambal terasi berformalin, saos sambal berboraks, penyedap rasa kaya monosodium glutamat. Hmmmm…coba bayangin aja jadi apa anakku sayang… *sambil bercucuran airmata*

Yah, dialah putri kecilku, yang gigi ompongnya masih belum mampu melafadzkan  kata "mama" apalagi "papa". Dialah ILya Shaumi ku yang bertumbuh selama 9 bulan 8 hari di dalam  rahimku (lengkap dengan gudeg, tahu, tempe,  grontol, growol, boraks, MSG, formain…dan lain sebagainya)

Hari ini  ILya ku sudah genap 80 hari, hihihi saatnya kutinggal lari untuk ngeblog lagi, setelah puas kususui dengan asi yang berasal dari lauk teri *mana ada gizi*.

So, again, live in khatulistiwa is not easy. Indonesia gitu loh…

Lalu, setelah ini aku akan pulang lagi, menimang Shaumi sambil makan sambel teras yang baunya pesing setengah mati. Hehehe..salah ding, yang pe*ing itu bau pompol anakku.

(PS. Tulisan ini sedang tidak bermutu, maka  jangan dicela dan dihina)

Live in Khatulistiwa

January 2nd, 2007 by eikasalim

Aku berlari2 kecil menyambutnya. Lelaki ku yang lajang oleh perpisahan. Akhirnya kutemui juga dengan sisa kekuatan sehabis sebuah perjalanan mengelilingi separuh bumi.

"Aku bahagia." sujud syukurku diiringi airmata.

Lelakiku menantang matahari, mencoba melindungi dari panas negeri khatulistiwa. Semua masih semeriah dulu. Jakarta masih semegah dulu. Dan dia pun memelukku. Tak rela kiranya jika pesawat angkasa itu membawaku pergi ke antah berantah. Benua di seberang samudera yang tidak terjamah oleh mata.

"Aku bahagia." sujud syukurku diiringi kesadaran. Kesadaran bahwa kini aku telah menginjak bumi yang sejati, pun dengan kesengsaraannya yang sejati.

Aku menoleh.

Seorang anak kecil mengulurkan tangannya. Kutatap matanya. Diam tak bergeming. Dia meminta.

Aku menoleh.

Tukang koran menjajakan berita. Aceh ditenggelamkan oleh bencana, sekali lagi. Aku diam tak bergeming. Mencoba meresapi kekayaan derita yang bertubi2 dikandung negeri ini.

Aku menoleh.

Gelandangan muda menjadi tua oleh jalanan berjelaga.

Aku menoleh.

Tak ada rimbun pohonan dan sejuk dedaunan lagi.

Tapi, sumpah!

Tak sedikit pun aku aku menoleh lagi pada pesawat udara yang mengajakku terbang serta dari Kanada. Ilusi itu semua. Kehidupan sejati ada di depan mataku kini.

Ku melangkah, sejenak bau busuk menyergap hidung. Bertahan. Menutup indera. Dan melangkah. Itulah syarat hidup di khatulistiwa. Tidak apa2… Jalan ini sudah kupilih untuk kutempuhi. Ndak usah ngantri, bisa main serobot sana-sini. Ndak usah gengsi, bisa pipis di pinggir kali. Ndak usah jaim, bisa memaki2 pake bahasa sendiri.

Diamput!!!

Kenapa begini ku cintai negeri ini. Atau, bagaimana jika sumpahku hanya sebatas bibir belaka? Esok hari aku sudah menangis di depan kaca, membayangkan istana megah di montreal sana. Haduh, nyamuk kucrut pun sempat2nya menggigit pipiku yang jelita.

Maka, aku berhenti menoleh lagi. Agar tidak merindukan istana kaca yang bukan milikku semata.

Ijinkan aku ngeblog seribu tahun lagi

December 24th, 2006 by eikasalim

Hampir pasti, aku akan menulis blog-ku dari lokasi yang berbeda. Mungkin dari puncak Merapi, atau dari hangatnya pantai di Bali. Mimpi.

—————————————————————–

"Selama ini kamu ngeblog buat apa?"

Ngeblog adalah mengisi kekosongan setelah bengong mengerjakan tugas yang berkepanjangan.

Ngeblog adalah tradisi, untuk mengeluarkan unek2 tentang bangsa yang hampir mati, kondisi yang statis, dan kehidupan yang tiada berguna lagi. Tradisi seorang pengamat gila di menaranya yang seperti kaca di negara kutub utara.

Demikianlan kata seorang Indonesian yang putus asa.

"Lalu apa yang akan kau keluahkan lagi tentang bangsamu? Tidak puaskah kau sudah memaki-makinya dalam ribuan kilobyte memori komputermu?"

Sepertinya tidak. Sepertinya  aku tidak akan berhenti memaki.

Maka, ijinkan pula aku ngeblog seribu tahun lagi. Sekedar untuk mengeluarkan kata2. Yang paling tidak beraturan pun tak apa. Untuk memaknai segala peristiwa. Mulai tenggelamnya Aceh Raya sampai hancurnya Jogjakarta.

Maka biarkan blog ini menjadi saksi, bahwa negeriku akan ditenggelamkan bumi sebentar lagi. Bencana di darat dan di masyarakat, sudah membuatnya demikian sekarat.

Aku biarkan blog ini, sekedar  mengomentari, mengomeli, menasihati, menyampah, dan menyumpah.

Lalu jika saatnya aku kembali, menunggui negeri yang sekarat itu. Biarkan pula aku ngeblog lagi, untuk mendokumentasikan sakaratul maut. Untuk merintih, menghiba, menangis terkencing2 bersama rakyat2 jelata.

"Apa tak takut engkau pada lumpur, banjir, tanah, darah, dan nanah?"

Gentarpun tak apa. Blog-ku akan lebih menggentarkan. Membuat mereka tidak berdaya dalam sumpah serapah kata2. Siapa tau mereka menyerah dalam semburan ludah.

"Mereka siapa, maksudmu?"

Ya mereka, yang bebal otaknya. Yang duduk di singgasana, sementara para jelata bergelut dengan lumpur jelaga. Kau pikir, adil itu namanya? Maka, biar saja blog-ku mengumpatnya.

Legalisasikan aku, untuk bicara sekenanya….

Pada sebuah kapal*

December 23rd, 2006 by eikasalim

"Perjalanan, betapapun dekatnya, telah membuat orang berubah. Meski hanya berubah tempat dan waktu. Memanglah jati manusia adalah perubahan……….."

Ya, aku sudah berubah.

Tidak bisa disamakan lagi dengan aku dua tahun yang lalu, yang masih mengandalkan kedua orang tuaku. Mengandalkan sarapan, makan pagi, dan makan malam dari ibuku. Mengandalkan antar-jemput bapakku. Dan mengandalkan tawa riang adikku untuk menghiburku.

Tidak muluk2, kini berani aku katakan: aku BISA mengurus diriku. BISA mengurus suamiku!

Benar kata orang, "Sebuah cobaan, jika tidak membuatmu mati, akan membuatmu lebih kuat".

Aku telah berjalan, aku telah berproses, dan aku telah mengadakan perubahan.

Satu yang belum dan mungkin tidak akan berubah: Cinta dan kecintaan.

Cinta terhadap ayah/ibu, adik. Cinta terhadap emas. Cinta terhadap kehidupan.

Dan, kini pada sebuah kapal. Kupercayakan perjalananku. Tidak usah muluk2, aku hanya ingin kembali… ke pangkuan ibu-ku, ke belaian suami-ku, kepada ketegasan ayah-ku, dan kemanjaan adik-ku. Sesuatu yang kekal dan abadi…melekat dalam memori menjadi jati diri.

Maka pada sebuah kapal, kupercayakan perjalananku: Untuk menemukan kehidupanku kembali…………………..

Menyambut hari baru

December 20th, 2006 by eikasalim

"Nduk cah ayu, sigaraning nyawaku sing tak tresnani, ono opo?"

Bukankah mas sudah menepati janji mas? Satu setengah tahun mas sudah menunggu, dan bukankah layak jika mas berbahagia? Namun, gerangan apakah yang membuatmu bermuram durja? Kerisauan apakah yang kau tanggung dalam kediamanmu itu?

Nduk, mas tidak berada dalam posisi untuk bisa mengerti kegundahanmu. Baiklah, mungkin ringkasnya begini: Nduk mengkhawatirkan kesejahteraan material ketika sampai di negeri kita lagi. Tak cuma debu dan lumpur yang akan kau pegang, bahkan keringat dan kerja keras akan kau jalani setiap hari. Tak jarang, justru malah kedongkolan hati yang akan kau hadapi.

Tapi, please, bersabarlah. Kau pernah demikian perkasa menjalani kehidupan sebagai rakyat jelata di negeri yang serba amburadull. Maka kembalilah menjadi perempuan perkasa itu, yang sejatinya adalah ilalang di tepi jalan: diinjak seperti apapun, akan tumbuh lagi di musim mendatang.

Jangan mentang2 kau telah merasakan enaknya kehidupan di negara merdeka, lantas kau menjadi kristal kaca yang demikian rentan untuk bisa bersentuhan dengan angin dan matahari. Bukan kristal kaca kiranya yang mas ajaki untuk menetapi janji suci di depan Illahi.

Maka nduk, pulanglah.

Pulanglah ke pelukan mas yang menganga terbuka. Kembalilah kepada kecintaan mas yang bersumber hanya pada-Nya.

Sudah, lepas gengsimu seiring lepas landasnya pesawatmu.

Kau sudah bukan lagi single fighter di negeri asing sekarang ini. Jati dan dayamu adalah seorang istri. Maka biarlah aku menunaikan kodratku sebagai suami: mengayomi, menafkahi, menghamili.

Jangan pula kau halangi fitrahmu: untuk menjalani hari2 sebagai seorang ‘ibu’.

Selamat datang, nduk, kekasihku….

Salah jurusan

December 18th, 2006 by eikasalim

Mas, kangmas.. plis dengerin curhatku di akhir perjalanan akademis di Montreal ini:

Dulu pernah kukatakan, aku ndak puas mas. Dan sekarang aku tegaskan: AKU NDAK PUWASSSS!!!

Bukan karena fasilitas atau servis dari universitas yang membuatku tidak mendapatkan kepuasan. Mungkin ini cuma karena diriku: yang sok idealis dan mumpuni.

Mas, emas.. aku pulang ndak bawa apa2. Seharusnya aku sekolah, pulang mbawa ilmu. Lha aku ini: ndak ada apa2.  Gede tong daripada isinya. Setidaknya demikian yang aku rasa.

Apa ya aku ini salah to, ketika berusaha menyelesaikan tugas belajarku secepatnya, meski akibatnya rada sekenanya dan asal jadi. Ndak, mas, aku ndak mau menyalahkan diriku sendiri. Jauh2 aku ninggalin mas, bukan untuk jadi bahan kambing hitaman.

Lalu mas pasti akan bertanya: "apa to nduk yang membuatmu ndak puas??"

Waduh mas, sudah kutekankan sejak sebelum aku menjalani proses kuliah di sini, aku ndak suka dengan program yang ditawarkan.

Lantas mas akan mencemooh: "lha kalau tidak suka programnya kenapa dijalani, nduk? Kenapa tidak sejak dulu kau hindari? Ndak ada yang memaksamu untuk menjalani program tersebut to?"

Biadab betul cemooh seperti itu. Ketika aku diterima di program ini, aku cuma sarjana kecil yang sedang berjuang mencari pekerjaan untuk mengisi perut sendiri. Maka lantas apa aku menjadi salah ketika aku memilih untuk mengambil kesempatan yang ada, walau kesempatan yang terbuka tidak sesuai yang aku damba??

Kukira ndak cuma aku, mas…

Kukira banyak biologist2 potensial di negeriku yang harus berganti lapangan, untuk sekedar menutup biaya makan dan meneruskan kehidupan. Ndak sedikit kiranya yang justru tidak mendapat pekerjaan sama sekali.

Lantas apa perlu kiranya aku feel guilty dengan caraku melampaui ini??

Aku baik2 saja!!

Itu yang ingin aku katakan pada dunia yang -mungkin- akan menggugatku ketika yang kubawa pulang cuma GPA dan tulisan tugas akhir yang segitu2 saja.

"Minimalis sekali kerjamu, X-A! Harusnya kau bisa lebih baik dari ini, kau masih punya waktu." gugat seseorang yang merasa dirinya sebagai hardworker dan hardthinker.

"Minimalis bagaimana? Takaran apa yang kau gunakan? Jangan bandingkan lompatan sekedar bakteria dengan lompatan seorang manusia, dong!! Ndak nyambung! Aku ini benar2 baru di bidang ini, sudah bisa paham omongan dosen saja sudah untung. Jangan bandingkan diriku dengan dirimu yang sejak dulu memang sudah berkecimpung dibidang itu. Dan jangan bandingkan pula tulisanku dengan tulisanmu. Bagaimanapun, aku tidak dibesarkan dengan bahasa mbahmu itu!!" Aku berteriak. Aku mengujatnya. Ah, dia tidak tau apa2 tentang apa dan siapa yang sedang dihadapinya.

O walah, mas… lha kok ada ya orang yang masih mencelaku dengan segala hasil kerjaku. Mbok ya biarkan aku begini, sudah untung aku masih mau melakoni ini. Sudah untung aku mau menjalani apa2 yang tidak aku ingini.

Dan sudah untung pula banyak sarjana biologi yang mau beralih profesi. Apa ndak buntung negara kita, kalau semua orang harus bekerja sesuai dengan gelarnya?? Setidaknya macetlah itu roda ekonomi!!

Lha memang pancen ngono kuwi to  urip kang sejati??

Urip mung sak dermo nglakoni…..

Kau adalah perempuan perkasa

December 17th, 2006 by eikasalim

Kau masih muda ketika meninggalkan negerimu. Pacar yang gantengpun kau relakan di sana, tak bisa diajak serta. Demi cita, katamu. Benar kau Dara perkasa.

Kesempatan untuk menuntut ilmu kau ambil juga, meski masa depan tidak menjanjikan apa2. Hanya kau mempercayainya dengan sepenuh jiwa. Kau bawa ikatan hatimu menyeberang samudera, menjalani kehidupan sebagai pasangan jarak-jauh yang rentan oleh segala peristiwa.

Itu tidak mudah saudariku, aku tau. Bagaimanapun cinta saja tidak cukup. Pasangan butuh komitmen, dan ketika komitmen itu memudar oleh jarak dan komunikasi yang tersendat-sendat. Apa boleh dikata: pacarmu memilih menikah dengan perempuan yang bisa disandingnya, segera.

Patah hatimu, aku tau. Berderai-derai airmata yang kau tumpahkan dalam keremangan kamar kosan sendirian. Kau tidak ingin menceritakannya pada siapa2, apalagi pada keluarga di sana. Hanya akan sedih saja mereka.

Kau hebat, saudariku. Sejenak kemudian, kau menekan rasa sakit dalam dadamu. Mengencangkan tali sepatu dan memenuhi backpack dengan buku. Tenggelam dalam sebuah niche kecil diantara ribuan huruf, angka, dan statistika.

Lalu ijinkan aku menggugat nya:

Solidaritasku sebagai sesama perempuan membuatku mengambil sikap. Biar kuhujat dia yang tidak bisa melihat perempuan perkasa yang telah mencintainya. Demikian pula, biar kuhibur hatimu dengan kata-kataku.

Dear sister,

Benar sudah caramu. Tak perlu lagi bertahlil dengan penyesalan akibat perginya laki2 itu. Anggap saja telah hilang satu parasit dari hatimu, penghambat kemajuanmu sebagai seorang perempuan.

Sungguh, selama laki2 itu tak mampu menunggumu dalam waktu yang sesingkat itu, tak mampu pula ia memangkumu seumur hidupmu. Maka benarlah keputusanmu, ceraikan dia selagi belum menjadi suamimu.

Laki2 itu tidak akan pernah bisa memahami, bahwa sebagai perempuan pelajar di negara manca, kita butuh adalah kesabaran. Menjalani proses yang berbelit2 dan menyakitkan, sebelum kita berhak menyandang gelar Srikandi-Srikandi ilmu pengetahuan.

Nanti saudariku, ketika rutinitas kuliah dan sekolah tidak lagi menghimpit dari segala sisi. Kau akan hadir menjadi a better person. Setidaknya kau lebih punya banyak waktu untuk memikirkan dirimu sendiri, laki2, dan segala tetek-bengeknya.

Setelah itu, laki2 yang lebih baik pun akan kau temui.

Katakan InsyaAllah, saudariku! Dan amini doa-ku…….

Kekosongan

December 14th, 2006 by eikasalim

Dengerin!!  Aku mau pidato sambil mengutip ayat suci Sang Filosofi, entah filsuf dari mana:

Hidup adalah sekedar mengisi kekosongan.

Ndak percaya??? Sejak dulu orang bijak selalu bilang kalau manusia itu adalah makhluk sosial. Saking sosialnya, mana bisa hidup sendirian dan kesepian. Hal ini berlaku juga untuk sebuah kekosongan, manusia tidak bisa hidup dengan ruangan kosong dalam hidupnya, apalagi dalam hatinya.

Lihat saja manusia guwa; melihat guwa yang sedemikian kosongnya, maka dibuatlah gambar2 telapak tangan atau telapak kaki.

Lihat saja ibu rumah tangga; tidak bisa tidak akan memenuhi isi lemarinya dengan pakaian, perhiasan, pernak-pernik segala rupa.

Lihat saja wartawan, yang sibuk kesana-kemari untuk mencari berita dalam upayanya mengisi kekosongan dalam lembaran2 koran atau majalahnya.

Lihatlah remaja yang tidak punya banyak kegiatan, akan mengisi kekosongan dalam hidupnya dengan pacaran atau bernarkoba ria. Bisa saja sih kekosongan itu diisi dengan hal2 yang berguna, namun kalau salah kaprah, akhirnya naluri untuk melakukan hal tidak berguna pula lah yang akan bicara.

Lihatlah orang2 miskin di pinggiran kota, yang mengisi kekosongan perutnya dengan cara apa saja. Mulai ngemis, ngamen, nglacur, ngrampok, segala rupa. Ndak bisa disalahkan to? Wong itu dalam rangka mengisi kekosongan…

Lihat saja bapak-bapak, yang merasa hidupnya kosong, maka kawin lagi lah ia: numpuk bini muda di berbagai kota. Katanya sih merencanakan keluarga, meniru iklan KB: Dua istri saja (belum) cukup!!  [Haduh! Nek ini ketoke kekosongan yang mengada-ada.]

"Lalu kalau yang kosong itu hati, gimana dong, X-A?? Pacar ndak punya, tabungan ndak punya, kerjaan bikin sakit kepala, usia semakin tua, hidup begini2 saja. Terus gimana dong??" sergah seorang teman yang duduk di deretan paling belakang sambil berkaca-kaca. Dia memang selalu merasa sebagai pria tidak beruntung di dunia.

"Mati saja!" jawabku ngawur sambil ngeloyor pergi. *Sadis*