Itung mundur yukk??

Baru saja aku membaca sebuah novel karya penulis terkenal Lilian Jackson Braun berjudul "The Cat Who Could Read Backwards". Awalnya sih aku gag tertarik membaca buku ini, namun gara-gara ngerjain paper gag selesai-selesai, muncullah iseng2ku untuk beli dan baca novel. Beli novelnya cuma di tempat jualan buku bekas di Jalan Saint Laurent dengan harga $1. hahahha… biasalah, ngirit is the best. Kalau bekas aja masih bagus, kenapa beli baru, ya toh?

Di dalam novel itu diceritakan tentang seekor kucing siam yang bisa membaca mundur dari belakang. Contoh: AGUS. Maka dia akan mengendus huruf S-U-G-A. Dari sini, Sang Pemilik akan tau apa yang ingin dikatakan oleh kucing yang bernama Ka’o Ko Kung atau Koko tersebut.

Koko hidup dengan seorang majikan nyleneh yang bekerja sebagai penulis kritik karya seni di kolom sebuah majalah bernama FLUX. Akibat kritikan pedasnya, komunitas seni sangat membenci majikan Koko. Akibatnya, pada suatu saat majikan tersebut di temukan mati tertusuk di depan apartemennya.

Dan…. bisa ditebak akhirnya yang menemukan petunjuk untuk menemukan si pembunuh adalah si Koko dengan cara mengendus nama pembunuhnya dari belakang. He could read backwards! Fantastic.. isn’t it? (Cerita lengkap plus intrik nya baca sendiri yah..)

Setelah membaca novel tersebut, ketertarikanku terhadap kucing Siam menjadi bertambah. Dari keterangan yang aku peroleh, kucing Siam pertama kali diekspor ke daratan North Amerika dari Thailand. Anatomi tubuh kucing ini sangat menarik. Berbeda dari kucing biasa yang cenderung buntal, kucing Siam memiliki tubuh ramping atletis dan memanjang. Warna bulunya pun sangat khas dipengaruhi oleh gen dan lingkungan tempat dia tinggal. Kerumitan perpaduan antara genetik dan fenotipik kucing Siam menjadikan bulu2nyai berwarna putih atau abu-abu sekujur tubuh, dan berwarna hitam-coklat di daerah muka dan kepala.

Yang paling menakjubkan dari kucing Siam adalah matanya yang berwarna biru jernih. Banyak yang menganggap bahwa mata kucing Siam mampu mencerminkan tingkat intelegensia Sang Kucing.

Gerakan kucing Siam juga tergolong atletis, sehingga digambarkan seolah-olah dia bisa melayang ketika melompat.Hal ini disebabkan tubuhnya memanjang dan ditumpu oleh ekor yang panjang, sehingga menimbulkan keseimbangan yang tepat.

Melalui suara-nya pula, banyak orang yang menduga kucing Siam ini bisa berkomunikasi dengan manusia.

Dengan banyaknya keunikan kucing Siam khususnya dan kucing pada umumnya, tak heran jika Lilian Jackson Braun hobi sekali menulis tentang kucing. Sudah ada sekitar 14 buku cerita non-fiksinya yang menceritakan tentang kucing! WOW!

Favoritku, ya tentu saja Koko, si cat who could read backwards.

Hampir sama dengan Koko, saat ini aku pun sedang dihadapkan pada proyek literasi membaca mundur. Bedanya adalah: jika Koko harus membaca huruf, aku harus membaca angka di tanggalan. Huaaaaaaaaaaa :((

3….2….1…..bersedia…siap…..goaaaaaaallllllll

Tiga hari lagi mas datang! 1 Juli 2006….setelah 10 bulan 15 hari menunggu akhirnya……….Hurrayyyyyyyy!!!

Leave a Reply