Ketika kematian menjadi kawan

"Kematian adalah sederhana, sesederhana daun jatuh yang luruh ke bumi. Yang tidak sederhana adalah perasaan manusia, etika dan budaya yang dibawanya…"

Beberapa hari ini dia cuma diam, tidak bergerak,tidak merespon, tidak berbuat apa-apa. Rambut luruh satu persatu akibat kemoterapi yang dijalaninya. Sudah dua bulan ini dia berada di sana, ruang sempit yang selalu bau antibiotik dan painkiller. Sudah beberapa hari pula, beberapa orang berbaju putih didatangkan kepadanya; berdoa sedikit lalu pergi.

"Apa artinya?" tanyanya dalam hati.
"Aku sudah melawan selama berbulan-bulan. Demi ayah, ibu, saudara-saudaraku aku telah melawan."
"Tapi apa aku salah jika ternyata aku kalah?"

Dia asyik beretoris pada dirinya sendiri. Tabung pernafasan dan selang suplai makanan yang menyumbat mulut dan hidunnya, membuat dia kehilangan kesempatan untuk berbicara.
Matanya terpejam namun jiwanya masih mampu memandang: seorang perawat sedang menyuntikkan painkiller di selang infusnya.

"Aku mau euthanasia."
"Bukan bunuh diri."
"Tapi euthanasia."

Wanita berusia senja masuk ke kamarnya. Ibu, dia biasa memanggil seperti itu. Sang ibu duduk pias memandangi wajah puterinya dari balik kacamata tuanya. Ibu menangis. Anak perempuan ini dulu disusuinya dua puluh bulan. Anak perempuan ini sempat menghadiahkan keceriaan dalam hidupnya selama lebih dari 20 tahun sebelum kebahagiaan itu berakhir menjadi kekhawatiran dan teror akan datangnya kematian.

"Maaf, Bu, puteri anda terkena kangker rahim stadium III, sekarang ini satu-satunya jalan adalah kemoterapi."

Ibu jatuh terduduk. Vonis dokter beberapa bulan yang lalu telah menghabiskan energinya dan menguras kesedihannya. Ibu tau, ia akan kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Ini hanya masalah waktu.

Beberapa hari lalu, puteri kehilangan kesadaran. Kata dokter ini sudah permanen. Sel-sel kangker itu telah menghabiskan daya hidup puteri dan membuat dia jadi vegetable: vegetatif phase dari kehidupan. Bernapas namun tidak merespon rangsangan, kata orang "koma".

Tapi puteri masih punya keinginan. Dia harus menyampaikan keinginnanya itu:

"Ibu, aku mau berkawan dengan kematian…"
"Aku mau euthanasia"
"Sudah saatnya aku mengakhiri masa vegetatifku dan kematian otakku."
"Ibu, aku ingin kematian yang sempurna."
"Taukah kau, ibu, jikapun kau putus selang pernapasan dan selang makananku, aku tidak akan merasakan apa2, karena otakku telah mati, syarafku sudah tidak berfungsi, rangsangan sudah tidak berarti apa2 buatku"
"Tolong, ibu, bunuh aku dengan cintamu…"

Malam itu seorang berpakaian putih datang menghampirinya. Dia duduk sebentar memandangi wajah puteri. Meski tidak dengan indera duniawinya, puteri tau siapa yang datang. Suster. Mau apa dia datang malam-malam?

Suster menangis. Dia pandangi  wajah puteri yang pias.

"Aku akan mengenalkanmu pada kawanku, sang kematian." katanya.

Puteri terhenyak. Inilah saatnya.

Suster mencabut selang pernapasan puteri pelan-pelan. Puteri yang jauh hari telah memasuki fase vegetatif diam saja. Ia tidak merasa apa-apa. Ringan bagai biji-biji dandelion meninggalkan grafitasi dunia. Terbang seperti jiwa-jiwa yang dicabut nyawanya.

"Oh, terimakasih suster.."
"Terimakasih, kau telah menghadiahi aku sebuah kematian. Setidaknya, setelah ini, ibu tidak akan memiliki harapan semu lagi bahwa aku akan kembali. Tidak, aku tidak akan kembali."

"Terimakasih, suster, kau telah menjadikan kematian sebagai kawan…"

Beberapa hari kemudian, headline surat kabar memberitakan: SEORANG SUSTER MELAKUKAN PEMBUNUHAN TERHADAP PASIENNYA

Dari suatu tempat yang tidak terdefinisi, "Tolong jangan hukum susterku, dia adalah sahabat yang telah menghadiahi aku kematian. Aku berhak untuk mati…"

"Salahkah aku jika aku ingin kematian menjadi hakku??"

Leave a Reply