Mwaaaaah Mwaaaaaaaahhhhh
jam 6 pagi..
mata masih sipit bagaikan bulat sabit. Kriyip2 ku ku tarik selimutku. Bobok lagi..
Tiba-tiba
"Mwah, bangun Mwah.. udah siang nih. bikinin sarapan, mas hari ini mau ke McLennan"
"Whoaaaaaaaaa (menguap)"
"sebentar lagi.. tanggung nih."
"Ok, mas ke kamar mandi dulu, nanti kalau mas udah selesai mandi kopi ma sarapannya harus siap ya."
Huh emang siapa dia, baru sehari tinggal di apartemenku sudah merintah-merintah begini. Aku mengomel. Terdengar suara laki2 yang kupanggil mas menyanyi-nyanyi di dalam kamar mandi.
Siapa sih dia? Sejak sepuluh bulan lalu aku tidak bersama dengannya, namun hari ini tiba2 aromanya begitu memenuhi kamarku, setelah semalam terjadi adegan Serangan Fajar.
Aduh, paling males deh bangun pagi terus bikin sarapan. Apalagi -sepanjang aku mengenalnya- sarapan means nasi dan kopi. Tidak bisa lidah laki2 itu mencicipi roti dan keju di pagi hari.
"Mah, bikin kopinya yang agak kental ya, biar mas gak ngantuk nanti di kelas."
Tuh kan, belum juga aku beranjak dari selimutku, dia sudah berteriak-teriak. Memang sih, selama 10 bulan ini, dia lah manusia yang paling kurindukan. Namun baru beberapa hari ketemu, sudah memble memble memble…Apalagi bau rokoknya..sama sekali gaaaaaag kece.
Pelan kusibak juga selimutku, matahari Montreal sudah menjelang setengah tiang. Busyet. Aku tidak pernah bangun sepagi ini sebelumnya, ternyata indah juga suasana apartemenku pagi begini.
Namun kok ya ada dia… yang ku kangeni kalau jauh, namun bikin sebel dengan permintaannya yang aneh2 kalau dekat.
Kroncang…kroncang..ceplok..sreng…sreng… klupuk-klupuk..ting..ting..ting…
Setelah bermacam-macam nada yang menyemarakkan pagi..Tada! Akhirnya masterpiece ku: dua piring nasi goreng dan satu gelas kopi kental sudah menghiasi meja.
Nyam..nyam..nyam….tanpa menunggu aba2 dan dalam hitungan menit, nasi gorengku amblas! Wadau….
"Mas, kira-kira dong, itu kan jatah sarapan berdua. Kok dihabiskan sendiri?" Aku bersungut-sungut. Laki-laki itu cuma tertawa, lalu meraih keningku untuk di cium.
"Sudah dulu ya, mah.. Nanti mas pulang kok pas makan siang. Masak yang enak ya.."
Hua. Aku terduduk dengan lesu. Makan siang?? Aku bahkan belum makan pagi, eh, laki2 itu sudah mikir makan siang.
Sebulan kemudian, pk 16.00 petang di Montreal Trudeu
"Mas, hati-hati ya. Pokoknya nanti mas ikuti saja petunjuk di tiket mas. Di situ sudah tertulis nomet gate dan jadwal penerbangannya. Kalau gak tau, nanya aja. Jangan sampai mas kesasar. Kalau sampai kesasar, mas cuma bikin aku semakin pusing saja. Mau dicari dimana. Pokoknya begitu sampai ke tiap transit, mas sms atau nelpon nduk. Nduk akan siaga 24 jam, menunggu kabar dari mas. Tiket nya diletakkan di tas pinggang aja. Jangan lupa paspornya."
"Iya." katanya lirih.
"Mas sakit?"
"Iya."
"Aduh. Mas jangan sakit sekarang. Udah mau boarding nih. Mas harus kuat. Tiketnya udah gak bisa ditunda lagi."
"Nduk, mas sakit di sini." katanya sambil mendekatkan tanganku ke dadanya.
Aku terdiam.
"Mas…" sahutku lirih. Airmata menetes satu persatu.
"Mas sedih harus pergi meninggalkan nduk lagi. Mas tau selama kita bersama-sama, Nduk sudah melakukan banyak hal untuk mas. Nduk mengurusi sarapan, makan siang, makan malam. Bahkan, nduk juga mengurusi mandi dan tidur mas." ia menghela napas.
"Mas tau, sudah banyak mengambil dari nduk meski dalam waktu yang sebentar. Mas membuat nduk berkonsentrasi menjadi housewife bagi mas, bahkan meninggalkan tugas2 nduk sementara."
"Mas jangan ngomong gitu.." sergahku.
"Kini mas pulang, nduk. Mas cuma bisa menantikan nduk juga nyusul mas ke Indonesia segera. Mas tau, keberadaan nduk disamping mas tentulah mengubah status nduk dari seorang pelajar menjadi ordinary housewife, tapi memang hanya posisi itu yang bisa mas tawarkan pada nduk. Maaf kalau selama kunjungan mas di Montreal, mas cuma bikin nduk lebih repot.."
"Mas………." aku tenggelam dalam isak.
No, meskipun aku sering mengomel dan menggerundel dengan pekerjaan rumah tanggaku, namun sama sekali tidak ada niatan bahwa jauh dari mas adalah hidup yang lebih indah dan nyaman. Sungguh, meski mas bau rokok, suka nyuruh, seenaknya sendiri, sedikit jorok dan kemproh dan porno dan nakal, tidak ada yang lebih menyedihkan daripada berjauhan dengan mas…
Sesaat kemudian setelah berpelukan, mas sudah ada di antrian… dia melambaikan tangan.
Ah, dia tampak gagah. Juga kerut-kerut kebijakan di wajahnya membuat dia tampak sangat sabar. Dan memang, dia adalah laki2 tersabar yang pernah kukenal.
"Masss………." bisikku halus.
"Ring..ring..ring.."
Tiba-tiba kudengar suara hape ku berbunyi, sinyal bahwa ada sms masuk:
"Selamat pagi, sayang.. 9 hari lagi kita ketemu di Montreal. Sudah bangun belum. ayo bangun dulu..muach muach..(Aa Agus Salim).
Shit! Gw mimpi…
Segera datang dong mas, sembilan hari ini kok rasanya lamaaaaaaaaa sekaaaaaliiiiiiiiiiii
June 21st, 2006 at 9:10 pm
you miss him…