Archive for June, 2006

Kisah sedih di hari minggu

Saturday, June 17th, 2006

"Jesus, what was going on?"

Nothing, I was just gonna move this little crust when the shaking happened.

I don’t even mean to hurt anything or anybody

"You, son of a bitch!"

I am not. I did that not on purpose.

"SSSSSHhhhhhhhhhhh..Shut up!

"Look at how many people that lay down there."

"You burried them in advance."

No, I did NOT!

"LIAR!!!"

Salah, kau salah teman kecilku… aku bukan a liar, meski memang benar aku LIAR, tidak terkendali dan terkalahkan.

Kau mau apa, jika nyatanya aku memang tidak tunduk kepadamu, melainkan, menyampaikan pesan rahasia dari Sang Penguasa untuk berbuat yang di kehendaki NYA.

You are so stupid…

Ingat lah betapa DIA telah menciptakan gunung2 yang bergerak…. semua tidak statis ditempat, kawan. Dan resikomu sebagai makhluk hidup hanyalah M-A-T-I.

*HAVOC*

You

Colonization of the mind

Friday, June 9th, 2006

Colonization of the mind adalah judul artikel yang ditulis oleh Ashis Nandy (1997). Dia adalah seorang penulis dari India uang sudah menghasilkan beberapa buku terkenal anatara lain: The Intimante Enemy dan Traditions, Tyrannym and Utopias.

Dalam artikel Colonization of the Mind, Nandy mengungkapkan bahwa kolonialisme modern menggunakan pendidikan sebagai senjata untuk menjajah. Jika penjajahan jaman dulu selalu berkaitan dengan senjata tajam, peluru, dan mesiu, penjajahna di jaman sekarang cukup menggunakan prinsip-prinsip alih tekhnologi, bahasa, dan budaya.

Tidak disangkal bahwa penjajahan pikiran (Colonization of the mind) jauh lebih berbahaya daripada penjajahan fisik, karena penjajahan pikiran menggerogoti akar budaya suatu bangsa dan menggantikannya dengan pola pikir dan budaya penjajah -read the WEST-.

Contoh nyata dari Colonization of the Mind adalah masuknya banyak istilah asing dalam bahasa Indonesia. Istilah2 asing ini memusnahkan kekayaan tradisional bahasa Indonesia. Penjelasan untuk hal ini mudah saja: Lihat dari tulisan saya ini, atau dari tulisan anda sendiri, dalam satu paragraf utuh, berapa kata dalam bahasa asing yang muncul. Anda akan terkejut bahwa tulisan yang anda buat pasti mengandung istilah asing. Tentu saja hal ini bukan bermaksud bahwa saya atau anda kebarat-baratan atau keasing-asingan. Namun, kekuatan penjajahan pikiran memang cukup dahsyat, sehingga kita tak akan pernah sadar bahwa kita telah dijajah. Bahkan, kita memeluk ‘nilai-nilai’ atau ‘tatanan’ atau ‘bahasa’ penjajah itu seolah-olah hal-al tersebut lah yang benar dan natural.

Contoh lain lagi adalah generasi MTV yang beredar dikalangan generasi muda kita di tanah air. Banyak generasi muda kita yang mengganggap cara berpakaian dan gaya hidup Britney Spears atau Mandy Moore itu cool. Itu adalah satu2 nya tata berpakaian yang menjadi imaginasi mereka. Bukan berarti mereka mau sok keren dan mau melupakan tradisi berpakaian sendiri, namun adat berpakaian tradisional memang kurang populer dan ‘tidak masuk’ dalam alam pikiran generasi muda. Mereka tidak bisa disalahkan.

Ide-ide budaya barat telah begitu merasuk dalam sumsum tulang, jiwa,raga, dan pikiran masyarakat dunia sekarang ini. Akibatnya, globalisasi nilai dan globalisasi tatanan menjadi wajar dan ‘ngetrend’. Maka tidak heran jika ada yang berpendapat: "Jika mau up to date, ikutilah arus informasi dan globalisasi."

Filter2 budaya di masyarakat banyak yang jebol dan terjadi pergesekan budaya disana-sini. Hal ini mengakibatkan konflik vertikal maupun horizontal dalam masyarakat kita.

Salah satu contoh konflik vertikal yang kita temui, adalah pergontokan antara masyarakat yang menolak dan menerima UU Pornografi serta Pemerintah yang berusaha merumuskan perundangan tersebut. Dalam tataran tertentu, UU Pornografi berusaha melindungi akar budaya masyarakat Indonesia yang tabu terhadap hal-hal yang berbau ‘porno’ dan ‘mesum’, bahkan kalau perlu hal-hal tersebut tidak perlu dibicarakan didepan umum dan cukup menjadi pembicaraan kamar tidur. Namun, dalam tataran tertentu undang-undang pornografi ‘menyalahi’ tata budaya masyarakat yang ada sekarang ini yang sedikit banyak telah berakulturasi -atau terkolonisasi- dengan budaya barat.

Akibat lebih jauh tentu saja bisa kita lihat dari reaksi masyarakat: ada yang mati-matian menolak Undang-undang pornografi dengan berbagai alasan, mulai dari tidak jelasnya batasan pornografi sampai dengan alasan bahwa akar budaya kita sendiri juga porno (dengan menunjuk ke Patung Roro Jonggrang yang tidak memakai penutup dada). Dipihak lain, ada yang berani mati meminta dipercepatnya pengesahan Undang-Undang Pornografi dengan dasar bahwa undang-undang itu akan melindungi masyarakat dari degenerasi moral dan susila.

Bagi saya, poin utamanya adalah ‘refleksi diri’. Yang saya maksud refleksi diri adalah secara jernih melihat ke alam masa lalu dan alam masa kini, lalu menimbang secara jernih relevansi tata budaya tersebut dengan konteks kekinian atau kemasalaluan. Masalah Colonization of the Mind memang bukan semata-mata masalah ‘perubahan budaya’, lebih jau dari itu colonization of the mind adalah ‘perubahan peradaban dan sejarah.’

Siapa yang bisa menyangkal bahwa nilai yang kita anut saat ini sudah berubah banyak dari nilai yang dianut nenek moyang kita. Siapa pula yang bisa menyangkal bahwa nilai yang ada dalam masyarakat sekarang ini bukan lagi murni nilai-nilai penjajah belanda? Ada akulturasi, ada kolonialisasi, ada masa lalu dan kini.

Jadi, bukan waktunya untuk mencerca atau mengutuk atau berramai-ramai melibatkan diri dalam pergulatan fisik untuk menerima atau menolak budaya asing. Tapi saatnya merefleksikan kecocokan budaya itu dengan sejarah masalalu dan masakini, untuk kemudian menerapkannya dengan konteks kekinian.

Biarlah decolonization of the mind menjadi social project dalam konteks social imaginary.

Nandy, A. (1997).Colonization of the mind (pp. 168-177). In Majid Rahnema & Victoria Bawtree (Eds.). The post-development reader. Halifax: Fernwood

Fundraising di Montreal

Tuesday, June 6th, 2006

ACIQ -Associaltion Communite Indonesia du Quebec- (duh bener gak ya ejaannya) telah menyelenggarakan fundraising untuk gempa di Jogja pada tanggal 4 June  2006. Lumayan dalam sehari itu telah terkumpul lebih dari $CAN 2000. (Lihat fotonya di album yaks!?) Rencananya dana akan disumbangkan ke korban di Indo melalui Red Cross International dan UIN SUKA Relief Centre di Jogja.

Buat teman2 yang sudah berpanas dan berhujan dalam mempersiapkan penggalangan dana, saya menyampaikan beribu terimakasih. Salut banget…

Buat teman2 social worker di Suka Relief…. wah kalian emang T-O-P B-G-T. I am really proud of you, guys!!

Buat para penyumbang….tararengkyu…

Buat yang baca blog ini "Ayo nyumbang!"

Salam dari Eka yang muter2 bawa kotak sumbangan

*hiks*

What the heck is going on??

Friday, June 2nd, 2006

Aku merasa seperti mimpi.

Jumat sore 26 mei 2006 7.30 pm waktu Montreal (6.30 am WIB, Sabtu 27 Mei di Jogja).

Aku baru saja pulang dari makan malam bersama salah seorang pejabat MORA. Aku senang karena ketemu dengan teman2 mahasiswa dan makan2 di restauran iran. Roti pita dan menteganya uenaak tenan. Begitu membuka pintu apartemen, pikiranku hanya untuk menghubungi kangmas di Jakarta untuk menceritakan betapa eksotisnya masakan Iran dan nasi safran.

Lima menit kangmas mengajakku bercanda2 dan menceritakan hal2 baru dari petualanganku di restauran iran. Tanganku meraih laptop yang sengaja tidak aku matikan. Aku klik detik.com. Astaga!

"Gempa 5,9 skala Richter guncang Jogja, 23 tewas."

Panik.

Aku buru2 pamit untuk menutup telpon mas. Kubilang aku akan menelpon ibu.

Terlambat.

Sekali, dua kali.. tiga kali… terlambat.

Jaringan komunikasi sudah putus.

Aku lemas.

Terbayang wajah ibu, ayah, adik, dan saudara2 ku. Ku sms satu persatu. Berharap ada jawaban. Nihil.

Kuklik lagi detik.com. Update terbaru: 100-an orang meninggal dunia.

Panik.

"Mas, please telpon ibu di Jogja mas… Gempanya parah sekali…"
"Tenang nduk, gempa seperti itu tidak akan terlalu parah" Mas berusaha menenangkanku.

"Aku takut ada apa2.."

Lima menit kemudian, mas sms:

"Nduk.. hape ibu mati, mungkin habis baterainya."

Menangis.

Pikiranku sudah tidak karuan. Something bad must have happened to them. Detik.com memberi kabar yang semakin tidak menyenangkan

100

200

300

….

Sampai tengah malam waktu Montreal aku tidak mendapatkan berita. Aku putus asa.
Siapapun ku telpon

Siapapun kutanyai kabar Yogya

Nihil.

Lalu tiba2 hape berdering. Sms

"Mbak. bapak ibu selamat dan yg piyungan juga selamat, Dr Devi"

Devi? Dia tetanggaku?? Kenapa bapak/ibu tidak kirim sms sendiri?

Selamat seperti apa?
Bagaimana?
Dimana?

Tidur jam 3 pagi.

Jam 5 pagi hari Sabtu 27 Mei 2006 waktu Montreal aku terbangun dari tidurku yang gelisah. Langsung akses ke detik.com: "Gempa di Jogja menelan korban jiwa 2000 orang, ribuan lainnya luka"

Terhenyak.

It was not an ordinary earthquake. How about my family??

Where were they when the quake happened?

Shock..

Berita foto menunjukkan kerusakan yang parah. Gempa susul menyusul. Warga panik oleh isu tsunami. Rumah hancur. Pasien membludak.

Tidak ada dokter

Tidak ada obat

Darah

Nanah

Tangis

Sedih

——–Habis——–

27 Mei 2006, 11.56 waktu Montreal.

Aku yang kelelahan tiba2 mendapat sms:

"Aq call Devi, ngobrol dengan ibu: omah podo rubuh, tapi omah dewe isih utuh, Om har ngungsi embuh neng endi. Salim."

Alhamdulillah

Sujud syukur

Mengungsi

Bapak ibu mengungsi,

Tenda berkembang didepan rumah. Dari plastik yang tak mampu menahan air hujan. Hatiku sakit. Trenyuh. Teriris.

Sebuah refleksi:
……Kita adalah survivors! Tuhan mengajak kita untuk berdzikir dengan peringatannya…

Berdzikirkah aku?
Bersyukurkah aku?

Mana kutau….