Aku merasa seperti mimpi.
Jumat sore 26 mei 2006 7.30 pm waktu Montreal (6.30 am WIB, Sabtu 27 Mei di Jogja).
Aku baru saja pulang dari makan malam bersama salah seorang pejabat MORA. Aku senang karena ketemu dengan teman2 mahasiswa dan makan2 di restauran iran. Roti pita dan menteganya uenaak tenan. Begitu membuka pintu apartemen, pikiranku hanya untuk menghubungi kangmas di Jakarta untuk menceritakan betapa eksotisnya masakan Iran dan nasi safran.
Lima menit kangmas mengajakku bercanda2 dan menceritakan hal2 baru dari petualanganku di restauran iran. Tanganku meraih laptop yang sengaja tidak aku matikan. Aku klik detik.com. Astaga!
"Gempa 5,9 skala Richter guncang Jogja, 23 tewas."
Panik.
Aku buru2 pamit untuk menutup telpon mas. Kubilang aku akan menelpon ibu.
Terlambat.
Sekali, dua kali.. tiga kali… terlambat.
Jaringan komunikasi sudah putus.
Aku lemas.
Terbayang wajah ibu, ayah, adik, dan saudara2 ku. Ku sms satu persatu. Berharap ada jawaban. Nihil.
Kuklik lagi detik.com. Update terbaru: 100-an orang meninggal dunia.
Panik.
"Mas, please telpon ibu di Jogja mas… Gempanya parah sekali…"
"Tenang nduk, gempa seperti itu tidak akan terlalu parah" Mas berusaha menenangkanku.
"Aku takut ada apa2.."
Lima menit kemudian, mas sms:
"Nduk.. hape ibu mati, mungkin habis baterainya."
Menangis.
Pikiranku sudah tidak karuan. Something bad must have happened to them. Detik.com memberi kabar yang semakin tidak menyenangkan
100
200
300
….
Sampai tengah malam waktu Montreal aku tidak mendapatkan berita. Aku putus asa.
Siapapun ku telpon
Siapapun kutanyai kabar Yogya
Nihil.
Lalu tiba2 hape berdering. Sms
"Mbak. bapak ibu selamat dan yg piyungan juga selamat, Dr Devi"
Devi? Dia tetanggaku?? Kenapa bapak/ibu tidak kirim sms sendiri?
Selamat seperti apa?
Bagaimana?
Dimana?
Tidur jam 3 pagi.
Jam 5 pagi hari Sabtu 27 Mei 2006 waktu Montreal aku terbangun dari tidurku yang gelisah. Langsung akses ke detik.com: "Gempa di Jogja menelan korban jiwa 2000 orang, ribuan lainnya luka"
Terhenyak.
It was not an ordinary earthquake. How about my family??
Where were they when the quake happened?
Shock..
Berita foto menunjukkan kerusakan yang parah. Gempa susul menyusul. Warga panik oleh isu tsunami. Rumah hancur. Pasien membludak.
Tidak ada dokter
Tidak ada obat
Darah
Nanah
Tangis
Sedih
——–Habis——–
27 Mei 2006, 11.56 waktu Montreal.
Aku yang kelelahan tiba2 mendapat sms:
"Aq call Devi, ngobrol dengan ibu: omah podo rubuh, tapi omah dewe isih utuh, Om har ngungsi embuh neng endi. Salim."
Alhamdulillah
Sujud syukur
Mengungsi
Bapak ibu mengungsi,
Tenda berkembang didepan rumah. Dari plastik yang tak mampu menahan air hujan. Hatiku sakit. Trenyuh. Teriris.
Sebuah refleksi:
……Kita adalah survivors! Tuhan mengajak kita untuk berdzikir dengan peringatannya…
Berdzikirkah aku?
Bersyukurkah aku?
Mana kutau….