Apa isinya?
Ketika aku amati bungkusan berwarna kuning berisi 28 pil kecil2 itu aku bertanya-tanya. Apa isinya?
Kuamati sekali lagi: levonorgestrel dan etinilestradiol. Entah bahasa apa. Yang jelas bukan berasal dari bahasa emakku yang Jawa medhok itu. Ah, seharusnya aku tau. Aku kan sudah belajar biokimia ketika s1 dulu, tapi kok ingatanku sama sekali tidak merujuk kepada kosakata itu.
Mungkin aku menderita short-term memory syndrome. Yo wes ben wae.
Lalu, apa sih levonorgestrel dan etinilestradiol?
Menurut artikel yang aku baca, levonorgestrel merupakan turunan dari progesteron yaitu hormon pada wanita yang dihasilkan oleh korpus luteum dan ovarium. Fungsi dari hormon ini untuk mempersiapkan dinding rahim dalam menerima pembuahan. Sedangkan etinilelestradiol sendiri merupakan jenis estrogen yang menghambat ovulasi (pelepasan sel telur dari indung telur). Gabungan keduanya dipercaya akan mencegah kehamilan bila digunakan secara teratur dalam "oral contraception."
Disatu pihak, jenis kontrasepsi ini menurunkan resiko terkena kanker rahim dan kangker payudara, namun efek samping dari pil ini juga cukup bikin takut:
Pil ini bisa menimbulkan sakit kepala; gangguan usus seperti diare, muntah, dan nausea (perasaan tidak nyaman seperti mau muntah); munculnya bercak-bercak darah ketika menstruasi; depresi perasaan dan hasrat seksual yang tidak menentu; chloasma (munculnya bercak biru-coklat di kulit); pendarahan saat menstruasi; dan ketidaknyamanan dalam penglihatan.
Warning!
Pil ini seharusnya tidak diperdagangkan secara umum. (Note: suamiku beli pil ini di apotik tanpa ditanya macam2 oleh apoteker!). Di Kanada, pil ini tidak dijual secara bebas, pengkonsumsi pil ini harus melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter dan selama masa penggunaan harus konsultasi dan medical check up secara rutin.
Pemakaian pil ini tidak lantas benar2 menghambat terjadinya kehamilan, diperlukan rutinitas dan ketelatenan, serta waspada untuk tidak menggunakan obat2 jenis tertentu (misalnya obat antibiotik dan jamu) yang menghambat daya kerja pil kontrasepsi ini.
Tidak boleh mengkonsumsi nikotin selama menggunakan pil ini.
And….
Levonogestrel jika dikonsumsi sendirian (tidak bersama-sama dengan etinilenestradiol) disebut sebagai Plan B atau "after morning pil". Plan B ini dikonsumsi selambat-lambatnya 72 jam setelah terjadinya hubungan seksual yang tidak dibarengi dengan keinginan untuk hamil. Plan B tidak untuk dikonsumsi secara terus-menerus.
Nah, perdebatan medical-ethics dari penggunaan Plan B ini sekarang ini sedang marak. Hal ini karena ditengarai penggunaan Plan B hampir sama dengan aborsi, yaitu menghancurkan zygot/janin yang sudah terimplantasi di rahim. Dan aborsi (bagi sebagian orang) sama dengan pembunuhan.
Hmmm…. namun sekarang tinggal definisi zygot/janin dan kehidupan itu sendiri. Apakah 72-hari-janin bisa disebut hidup?
Lalu apakah emncegah terjadinya kehidupan itu sama dengan membunuh sebuah kehidupan?
Aku mumeeeeeeeeeettttttt
Mungkin aku mengalami gangguan kestabilan emosi akibat levonorgastrel + etinilestradiol. Bisa jadi lho..
*sambil berkaca*