Tsunami dibawah bayang2 dinasti A Tsu

Kita menyebutnya sebagai tsunami. Sebuah kata yang muncul dari
kosakata bahasa Jepang yang berarti "harbour wave" atau gelombang naik
yang terjadi di pelabuhan. Namun sebenarnya istilah tsunami secara umum
menunjuk kepada gelombang pasang besar yang diakibatkan oleh pergerakan
badan air di lautan akibat gempa, landslide (pergeseran bumi), erupsi
vulkanik, atau jatuhnya meteorit raksasa.

Bencana alam yang
terjadi di Pantai Selatan Jawa kemarin (Senin 18 Juli 2006)adalah
tsunami yang dipicu oleh gempa akibat tumbukan lempeng benua Australia
dan Eurasia. Ini adalah tumbukan serupa yang mengakibatkan gempa
dahsyat di Jogja pada akhir Mei lalu.

Lagi-lagi, tsunami di
Pantai Selatan menyebabkan korban jiwa yang teramat banyak, ratusan
nyawa melayang oleh bencana yang seharusnya bisa diprediksi sebelumnya.
Namun, excuse dari pemerintah mengatakan bahwa BMG tidak memiliki cukup
sarana komunikasi untuk menyebarkan early warning system. (Really?
Then, buat apa di kantor pemerintah di pasangi internet?? Buat chating
di MiRC?? So, sebenarnya yang kurang itu adalah koordinasi warning
system di daerah2!)

Padahal dalam kasus gempa di selatan
pangandaran kemarin itu, Pacific Tsunami Warning Centre yang berada di
Hawai sudah mengeluarkan peringatan dini akan terjadinya tsunami sejak
5 menit pasca gempa (http://www.prh.noaa.gov/ptwc/iomsg) . So, kenapa
pemerintah lagi2 tidak bisa berbuat apa2? (

emerintah juga
berexcuse bahwa alat pemantau tsunami di Indo kurang. Hal ini memang
benar adanya, dari 240 alat deteksi tsunami bantuan negara asing pasca
tsunami Aceh 2004, baru sekitar 140-an yang terpasang, itupun beberapa
sudah rusak dan beberapa dicuri orang. *geleng-geleng sambil ngelus
dada*.

Di negara yang rawan gempa, tsunami dan bencana vulkanik
seperti ini, sudah sepantasnya jika pemerintah berjaga2 atas segala
kemungkinan. Paling bagus dibangun tsunami warning system yang
terencana dan terpadu seperti di Hawai. Di sana tiap kilometer garis
pantainya sudah ada alat pendeteksi tsunami dan di jalan2 berdekatan
dengan pantai di pasangi rambu2 petunjuk jalan utuk evakuasi jika
tsunami menyerang.

Paling penting adalah membuat penduduk
educated enough untuk mengetahui apa itu tsunami, bagaimana gejalanya,
dan bagaimana langkah penyelamtan yang tepat jika tsunami datang. Jika
masyarakat sudah cukup berpendidikan mengenai bahaya tsunami, mana tega
mereka mencuri alat deteksinya.

Sungguh, aku encourage hal2
praktis seperti ini untuk dimasukkan dalam kurikulum pendidikan kita,
jangan cuma Bahasa Inggris dan Matematika saja. Pendidikan tanggap
bencana akan meminimalisir jumlah korban, membuat masyarakat aware
serta tidak panikan dan grusah-grusuh dalam menghadapi bencana.

Selanjutnya,
tanggap bencana juga harus dikuasai oleh pemerintah dan aparat agar
efisien dalam melakukan evakuasi dan mengelola bantuan. Paling pentung,
pemerintah harus dididik mulutnya agar tidak janji macam2 setelah
terjadinya bencana sehingga menimbulkan keresahan sosial dalam situasi
yang penuh trauma dan kesedihan.

Terakhir, tidak usah berpikir
macam2 bahwa bencana adalah kutukan atau hukuman dari Tuhan untuk
masyarakat tertentu. Pikiran seperti ini cuma bikin masyarakat kisruh
mencari kambing hitam siapa sebenarnya yang membawa dosa dan tambah
nelongso kok Tuhan tega2nya menghukum orang2 tidak berdosa.

Sudah
jadi takdirnya kalau Indonesia terletak di antara dua benua dan dua
samudera. Sudah jadi takdirnya pula jika lempeng Australia bertumbukan
dengan lempeng Erasia di lautan Hindia sebelah selatan Jawa. Ini adalah
takdir yang tidak usah ditangisi apalagi disesali. Tindakan yang paling
bijaksana adalah memperkokoh sistem peringatan bencana, memperbaiki
sistem evakuasi bencana, dan sistem recovery pasca bencana.

Yang
penting jangan membesar2kan isu2 bencana dan ikut andil dalam keresahan
masyarakat. Tidak mungkin pula penduduk Jawa diminta eksodus keluar
Jawa. Yang mungkin: masyarakat Jawa menata diri untuk hidup dalam
kewaspadaan terhadap bencana.

Jepang saja bisa kok menghadapi
gempa bertubi2 di negerinya, kenapa Indonesia tidak belajar dari
Jepang? Apa menunggu penduduk Indo mati semua baru pemerintah mau
belajar dari pengalaman pahit??? Tidak cukup kah peristiwa Aceh itu??

Kok ya negeriku itu di perintah oleh pemerintahan patron yang suka patronizing its own people dan TIDAK bisa governing its people?

Leave a Reply