Archive for September, 2006

Saturday, September 30th, 2006

Aku hanya orang biasa. Hanya darah dan daging yang mengisi raga. Ekasistensiku cuma sebatas perpaduan otak dan nyawa. Nyawa yang sampai sekarangpun tidak kelihatan wujudnya.

Aku hanya orang biasa. Setumpuk jaringan berpembuluh dan berongga. Eksistensiku cuma sebatas 80 tahunan saja. 80 tahun yang bisa bermakna atau tanpa apa2.

Aku hanya orang biasa. Sedikit otak di kepala, dan segumpal hati di rongga dada. Eksistensiku cuma sebatas 45 kilogram dan 159 meter tinggi badan. Deskripsi fisik yang bisa tak punya arti apa2. Ruang singgah bagi raga yang hanya segitu saja. Dibatasi kulit dan rambut dikepala.

Aku hanya orang biasa. Biasa berbicara karena sering diajak berbicara. Biasa bergerak karena diajak bergerak. Biasa berpikir karena diajak berpikir.

Aku hanya orang biasa. Biasa menangis kalau berduka. Biasa tertawa kalau bahagia. Biasa marah kalau tidak suka.

Aku hanya orang biasa. Dan itu esensialku sebagai manusia.

Berbagi dosa sosial

Friday, September 29th, 2006

Bayangkan jika kau seorang peneliti di bidang biomedis yang didanai oleh publik untuk menemukan obat untuk HIV/AIDS. Kau mendesain sebuah penelitian yang melibatkan baboon (sejenis mamalia tingkat tinggi) sebagai binatang uji.

Kau menggunakan 100 ekor baboon sebagai hewan percobaanmu. Langkah pertama dari percobaanmu adalah mengambil 50 ekor baboon untuk untuk ditreatmen dengan berbagai macam perlakuan. Sisa 50 baboon yang lain kau perlakukan sebagai kelompok kontrol, diinjeksi dengan virus namun tidak diperlakukan macam2.

Dari kelima puluh ekor baboon tersebut, ada yang kau injeksi dengan obat retrovirus merek ini dan itu. Ada diberi vaksin yang kau percaya sebagai anti HIV, untuk kemudian diinjeksi pula dengan virus yang sama.

Kau menunggu efek dari obat terhadap baboon2mu yang sudah terinfeksi HIV/AIDS. Kau catat perilaku mereka dan parameter2 penentu kesehatan. Kau catat hari kematiannya dengan seksama. Sesudah mati, masih kau otopsi pula jaringan2nya: mulai darah, hati, sampai limpa. Kau perhatikan kesakitannya, bahkan sekaratnya. Kau amati tiap penderitaannya.

Hasil dari penelitian ini adalah adanya obat2 yang menghambat aktivitas HIV/AIDS, dan kaupun mengadakan jumpa press untuk mengumumkan hasil penelitianmu, dan mematenkannya menjadi sebuah merek obat. Kau berjaya.

"Bagaimana dengan baboon2mu? Yang telah menberikan nyawa untuk kejayaanmu dan rasmu? Dapat apakah mereka? Sedikit pemakaman yang layakkah? Atau karangan bunga sebagai tanda duka cita?"

"Bagaimana kau akan menjawabnya?"

Lain hari kau kembali lagi ke laboratoriummu. Kau ditugasi untuk meneliti kerusakan otak pada manusia akibat gegar otak dan kau bertanggung jawab untuk mencari obatnya. Namun sebelum ketemu obatnya, kau harus tau betul bagaimana gegar otak bekerja merusakkan sistem saraf dan panca indera.

Lagi2 kau mendesain sebuah penelitian. Pertama kau ambil monyet2 rhesus dari pusat pembiakan. Rhesus2 itu sangat riang gembira meski hidup di penangkaran. Mereka pun bersih dan bersahabat. Kau membawa mereka ke laboratorium.

Untuk membuat gegar otak, kau perlu "mencelakai" rhesus2mu. Pertama2 kau akan memukul kepala2 rhesusmu dengan kekuatan yang sudah kau perhitungkan dengan seksama. Ini untuk menghasilkan keadaan gegar otak dan kerusakan saraf. Awalnya pukulan yang kau berikan ringan saja. Kau amati perilakunya dan fungsi otaknya dengan menggunakan "brain imaging". Kemudian, kau memukulnya lagi dengan kekuatan yang semakin bertambah. Lagi dan lagi perlakuan ini kau ulang2i. Sampai akhirnya binatang ujimu setengah mati dan mengalami sekarat tanpa dignity. Akhirnya, kau menghadiahi mereka euthanasia. Oh ya, kau masih melakukan autopsi juga.

"Bagaimana dengan rhesus2mu? Yang berakhir dengan kematian tanpa penghormatan? Dapat apakah mereka? Mungkin hanya karangan bunga saja? Atau malah tidak pernah ada?"

"Bagaimana kau akan menjawabnya?"

Kant bilang, "Animals are not self-concious and there merely as means to an end. That end is man.." Dengan kata lain Kant ingin mengatakan pada kita, bahwa hewan memiliki derajat nomer dua dalam hierakhi kehidupan. Dengan kata lain, hewan diciptakan untuk manusia. Manusia berhak melakukan apa saja pada makhluk selain manusia, karena manusia adalah makhluk tertinggi dalam pohon evolusi.

"Lalu apakah dengan posisinya sebagai puncak dari evolusi, apakah manusia berhak semena2 pada makhluk selain manusia?"

Ini dilema.

Namun manusia memang sudah bisa mengambil keuntungan dari binatang2 dibumi sejak dulu kala.
Kata Tuhan, bumi dan seisinya memang diciptakan bagi kesejahteraan manusia. Wow, sebuah privilege yang luar biasa. Dengan privilege ini, manusia dihadapkan pada dua pilihan.

Pertama, menggunakan bumi dan seisinya seperlunya saja, sehingga tercipta apa yang dinamakan surga dunia. Pada tataran ini, tentu saja diperlukan kemampuan manusia untuk menjadi penyeimbang. Ngono yo ngono ning ojo ngono. Boleh saja eksperimentasi menggunakan binatang uji, namun jangan menyiksa sekali.

Kedua, menggunakan bumi dan seisinya seenaknya saja. Tindakan ini memicu kesemena-menaan terhadap makhluk selain manusia, bahkan juga kesemena-menaan manusia terhadap manusia lainnya. Gasak sana sini, tabrak sana sini demi keuntungan dan kenikmatan sendiri. Ini praktik yang mudah. Manusia tidak perlu menggunakan pikirannya untuk berbuat begini. Asu gedhe menang kerahe. Boleh saja mengeksploitasi binatang dan bumi seisinya, namun jika ada apa2, tanggung sendiri akibatnya.

Lha wong Tuhan sudah menciptakan kehidupan secara susah2 kok mau di eksploitasi seenaknya. Hidup apapun bentuknya kan sama saja. Semua berasal dari satu dzat yang maha esa. Pancaraning Gusti Kang Murbeng Dumadi!!

Lha wong aku, kamu, dan semua manusia, sama ikan teri itu tidak ada bedanya. Kalau diasinkan daging kita sama enaknya kali ya…????

*Husss, ati2 nek ngomong.*

Inspired by: Albert R. Jonsen

Seven

Thursday, September 28th, 2006

"Shivah"

Aku dapat kata ini dari serial TV Grey’s antomy. Sebuah kata dari bahasa Hebrew yang berarti seven.

Ini merupakan adat orang yahudi untuk menghormati yang meninggal dan menghibur yang ditinggalkan.

Pada saat tujuh hari ini, para tamu yang datang tidak diperkenankan memulai pembicaraan dengan pihak keluarga yang berduka. Sementara itu keluarga yang beduka, tidak akan pergi kemana-mana, tidak akan bekerja, tidak akan bercukur, tidak akan melakukan hubungan sex, dan bahkan tidak akan berganti pakaian. Shivah juga menganjurkan orang untuk duduk atau dalam posisi serendah mungkin, bahkan kalau perlu stay in the floor.

Umumnya, pada saat shivah, para tamu akan membawa makanan yang ditujukan untuk menghibur pihak yang berduka cita.

Shivah dimulai sejak kematian dan dihitung tujuh hari kemudian. Namun pada tiap hari Sabtu, Shivah ditiadakan, artinya tidak boleh ada kedukaan di hari Sabtu, namun pemakaman sendiri boleh dilangsungkan pada hari Sabtu.

Inget tradisi shivah ini, aku jadi teringat tradisi mitung dinani di masyarakat Jogja, yang ditujukan untuk mengantar arwah yang meninggal. Pada tradisi mitung dinani, biasanya pihak keluarga akan menyelenggarakan tahlilah selama seminggu berturut2 dan pada hari ketujuh diadakan tahlilan besar  yang mengundang seluruh kampung untuk kendurian.

Entah bagaimana praktik tradisi ini di Jawa sekarang. Aku yakin sih masih ada. Namun dengan adanya gerakan pemurnian terhadap Islam dan modernisasi, tradisi seperti ini sudah mulai luntur. Tapi menurutku bagus juga jika selama tujuh hari, keluarga yang sedang berduka cita diberi kesempatan untuk memulihkan kesedihan dan dihibur agar bisa mengikhlaskan yang meninggal.

Kematian memang proses alami yang sederhana, sesederhana daun jatuh luruh kebumi. Namun, bagi yang ditinggalkan, kematian tidak pernah sederhana dan mudah. Ia meruntuhkan ketetapan hati, bahkan melemahkan perasaan. Namun, betapapun pedihnya sebuah kematian, hidup akan terus berlanjut. Generasi berganti. Seperti itulah sabda bumi.

"Manusia memang sang maha kesepian…"

Laki2 asing

Sunday, September 24th, 2006

Dia datang setahun yang lalu. Laki2 asing yang bertandang ke kosanku hampir tiap malam minggu. Bukan untukku. Seorang teman diskusi dan secangkir kopi lebih berharga baginya. Waktu itu.

Laki2 itu tiba2 berdiri di dekatku ketika aku sendiri sedang asyik bertanya2 tentang wajah2 di dinding kos yang kelabu. Dia menggeleng. "Tidak tau"  katanya. "Aku pun orang baru."

Tak apa, kataku. Kita bisa berkenalan, setidaknya jadilah temanku walau hari ini saja. Aku sangat kesepian. Lingkungan baru seramai apapun selalu membuatku kesepian. Lingkungan baru ini seolah akan menelanku. Alangkah kesepiannya aku. Pulau ini jelas2 bukan tempatku.

Dia tertawa dan bercerita. Laki2 asing yang tidak pernah kesepian.

Beberapa bulan kemudian dia menyatakan cintanya padaku. Bukan untuk memacariku, melainkan menikahiku. Wow! Terkejut aku. Laki2 asing itu begitu serius dengan ucapannya. Dari gelagatnya pun aku tau: dia jatuh cinta padaku.

Lalu bagaimana denganku?

Dengan adanya tugas belajar ke manca yang tidak bisa kutunda membuatku ragu2 untuk menentukan jawaban. Haruskah aku menikahinya? Waktuku bersama sebelum berangkat "tugas" tidak lah lama. "Iya, menikahlah denganku," katanya menyakinkanku.

Bulan madu yang singkat. Aha! Tak seperti berbulan madu saja. Dia bekerja di kotanya, sementara aku ribut dengan urusan visa. Pyuh! Terus bagaimana? Apa aku tidak bahagia? Lihat saja kenyataanya. Aku bahagia. Dia laki2 yang membuatku selalu tau bahwa dia mencintaiku. Saat hendak berpisahpun dia masih bisa menenangkanku. Amboy, wajah itu! Dia adalah sigaraning nyawaku.

Dia luar biasa. Dia menghiburku dengan sejuta senyuman, menghadiahiku dengan sejuta kecupan. "Jangan khawatir, katanya. "Tahun depan aku pasti mengunjungimu disana".

Kubawa janji itu. Kukenang saat pertemuan. Kubawa ke Sukarno Hatta, mengarungi Pasifik dan daratan North America. Kubawa cintanya turut serta.

Sendiri. Sepi sekali di apartemen sendirian. Sms, telpon, internet, segala macam komunikasi maya membawaku untuk sedikit bermasyuk mesra dengan dia di sana. Lelaki perkasa yang mengilhamiku untuk sabar dan bijaksana. Lelaki dewasa yang lemah lembut bagai sutera.

Musim panas dia tepati janjinya. Bulan madu kedua. Dia korbankan kesibukan dan waktunya, mengalah untuk membuatku bahagia di negara manca. Aku bersyukur dan berbahagia karenanya. Dua bulan yang menakjubkan. Dua bulan yang menampilkan foto2 bahagia luar dalam. Laki2 asing itu kini aku cintai dengan cinta yang lebih dari sebelumnya.

Dia menjadikanku seorang ratu dalam apartemenku. Laki2 asing yang membuatku tertawa bahagia. Masih asingkah dia? Tidak lagi. Dia berhasil mengambilku bahkan dari diriku sendiri.

Apartemen tua bernomor lima.
Sekarang laki2 itu dalam perjalanan menuju dermaganya. Bumi pertiwi yang menyusuinya dengan cinta dan airmata. Dermaga tempatku akan kembali padanya. Menyusulnya.

Apartemen tua bernomor lima.
Kukenang dia, bukan sebagai laki2 asing yang sok ramah menyapa, namun sebagai separuh nyawa yang mencintaiku sepenuh jiwa. Laki2 berpredikat suami yang memberikan apasaja untuk kebahagiaanku: Sang Istri.

Telah kurengkuh tahtanya kini. Laki2 asing tidak lagi sendiri. Dalam hati dia selalu tau bahwa ada cinta yang akan menyusulnya. Aku lah cintanya.

See you di Indonesia, suamiku. Kurangkaikan kata untukmu. Meski tak beraturan dan tak bermakna, bukan hamparan puisi pula; namun demikianlah adanya. Mohon diterima dan sampai jumpa di dermaga sana. Aku bersiap untuk menyusulmu di sana. Kau tak akan pernah asing lagi, selamanya…..

*Kubekali kamu dengan cinta dan doa saja*

Mbabu

Friday, September 22nd, 2006

Seminggu menjelang Ramadan.

Jadwal manggung masih ramai,

Setidaknya seminggu ini aku masih bisa
manggung di kampung Jati, Rambutan, dan Mojo Lawaran.
Lumayan.

Sawerannya kadang seratus semalam. Tentu
saja setelah dibagi dengan para pemain musiknya.

 

Seminggu menjelang Ramadan.

Suamiku masih juga belum pulang.

Katanya merantau di  Jakarta

Tapi kenapa merantau perlu lama dan kabarnya jarang  pula.

Jangan-jangan dia sudah binasa.

Di makan Macan Kemayoran yang bergaya
metropolitan namun berperilaku kaya setan.

Suamiku kerja apa? Mana aku tau, yang jelas
tidak ada duitnya. Yang jelas dia pulang sehabis lebaran, bukan di desa ini.
Melainkan di desa sebelah bukit yang keringnya mana tahan, yang kebanyakan
wanitanya menjadi babu Tuan Pengusaha atau Gundik Tuan Penguasa, dan prianya
jadi tukang bangunan Kontraktor Kaya.

 

Namun aku beda. Jelas beda. Aku bukan babu,
meskipun harus kerja melebihi babu. Aku sudah tebal muka. Yang jelas aku bukan
babu.

 

Seminggu menjelang Ramadan.

Mungkin harusnya aku sukacita seperti guru
ngajiku yang bilang kalau Ramadan datang maka bersuka citalah. Tapi aku harus
bagaimana ya? Masak aku harus bersyukur oleh kehadiran bulan yang membuat
rejekiku semakin seret saja.

 

Seminggu menjelang Ramadan.

Tempat hiburan harus ditutup. Bar, klub,
karaoke, pub. Terus aku gimana ya? Sialan betul aku ini. Setiap lebaran harus
gulung panggung, berhenti dapat penghasilan.

 

Bisa saja sih ganti jualan. Bukan lagi
suara dan goyangan di depan panggung, namun jualan vagina di dalam kamar
rahasia. Sssttt.. diam saja..biasanya bisnis yang beginian masih banyak
peminatnya meski Ramadan tiba.

 

Lha, tapi itu bukan tipeku. Aku punya anak
dua. Benar sih, mereka tidak makan dari makanan yang halal2 betul, tapi
setidaknya aku tidak ingin membesarkan mereka dengan nasi yang haram sekali.
Aku tidak mau itu. Bahkan, identitas pekerjaanku pun anak2ku tidak pernah tau.
Aku ini ibu yang baik, meski suamiku tidak tau. Lho wong ngumpul aja cuma tiap
Ramadan berlalu.

 

Seminggu menjelang Ramadan.

Anakku yang kecil minta dibelikan baju
baru, sementara yang besar minta rukuh baru. Kalau dihitung2 dua macam benda
itu berharga lebih dari 200ribu. Dari mana itu? Ramadan membuat njogetku tidak
lagi payu. Kalau panggung terpaksa digelar, maka polisi sudah siap turun
tangan. Dasar nasibku. Ah, mungkin aku mbabu saja selama Ramadan tiba. Tapi itu
bukan tipeku.

 

Orang
bilang aku ini biduan. Orang bilang aku ini penari renggong jalanan. Artis
kelas pinggiran yang manggung seminggu sekali di desa ini dan itu, diundang
diacara ini dan itu, bisa disenggol ini dan itu.

 

Seminggu
menjelang Ramadan.

Kapolda mengancam akan menutup semua tempat hiburan dan
melarang semua pertunjukan. No pornografi dan pornoaksi, itu kata mereka.


Lha aku bagaimana?
Lha kalau sudah tidak bisa njoget selama sebulan, perutku mau dikasih makan
apa?

Beli baju
buat anakku dari mana?

 

Ramadan..Ramadan..

 

Apa enaknya
kalau ramadan datang aku ganti profesi saja?
Enak saja! Nyari kerja kan tidak gampang.
Apa aku
mbabu saja?
Ndasmu! Mbabu itu bukan tipeku.
Aku tidak dilahirkan
untuk menjadi babu. Setidaknya sampai putus urat pinggulku, aku tidak akan
mbabu.

Wong dadaku saja masih montok dan suaraku
masih banyak yang mau, kok mau mbabu.

 

O alah, Le..thole anakku.

Mbokmu ini kebingungan. Nggak tau mau
bagaimana sama Ramadan.
Dia
datang kok rejekiku jadi hilang. Apa ini salahnya Pak Kyai? Atau salahnya Pak
Polisi? Atau salahnya Pak Walikota?

 

Seminggu
menjelang ramadan.

Penari
ronggeng dipinggir peradaban.

Tak punya
pilihan.

Berhenti
berarti mati

Terus
berarti dicekal polisi.

Apa boleh buat.

Hidup butuh makan.

Asal tak jual vagina sendiri.

 

 

 

Jangan sok tau

Tuesday, September 19th, 2006

Tuhan marah.
Tuhan marah karena ketidakadilan merajalela.
Tuhan marah ketika negara dijual paksa oleh segelintir orang yang menamakan dirinya pengusaha.
Tuhan marah oleh ekspoitasi bumi, laut, hutan, dan pegunungan.

Tuhan marah.

Ya, Tuhan marah sampai menenggelamkan ribuan orang dengan lumpur panas berjelaga
Ya, Tuhan marah sampai menggoyangkan bumi seisinya dengan gempa di Jawa.
Ya, Tuhan marah sambil menyemburkan lava dan lahar di pegunungan berapi Paparan Sunda
Ya, Tuhan marah sambil meniupkan asap di hutan2  Sumatera

Tuhan marah.

Dan dengan marahnya, Tuhan telah mengakhiri penderitaan beberapa yang tak sempat dimanjakan oleh dunia
Dan dengan  marahnya, Tuhan telah mengirim mereka ke surga
Dan dengan marahnya, Tuhan membuat kita lebih bijaksana
Dan dengan marahnya, Tuhan membuat kita menjadi lebih waspada terhadap bencana
Dan dengan marahnya, Tuhan telah mengasah sifat asih dari manusia yang tidak kena celaka

Tuhan marah

Seperti itu cara marahNya.

Sejak dulu memang Tuhan Maha Marah.

Jangan sok tau, Tuhan bukan manusia.

Hari ini kemana?

Sunday, September 10th, 2006

Udara cerah, menurut cuaca sih mostly sunny dengan suhu udara sekitar 11 celsius. Tidak terlalu hangat, namun tidak ada pilihan: aku berencana pergi ke Jardin Botanique de Montreal. Mungkin nunggu agak siang sekalian, biar suhunya naik sedikit, satu derajat tak apalah. Toh nanti pulangnya bisa agak malaman.

Jardin Botanique!
Hmm.. sudah kebayang seperti apa suasananya. Penuh bunga, penuha aroma, banyak orang pacaran, banyak yang bisa diintip dan dijadikan pelajaran. Ups!

Jardin Botanique ini berada di dekat Metro Viau dan Pine IX, serta satu lokasi dengan stadium Olimpique dan Biodome. Aku sudah ke Biodome beberapa waktu yang lalu, so Jardin Botanique ini menjadi tempat impianku.

Denger2 sih, Jardin Botanique ini luwaaaaaas banget. Jika ngotot mau jalan kaki bisa menghabiskan waktu seharian. Di dalamnya ada banyak jenis taman: mulai taman musim semi sampai taman musim dingin, dari koleksi tundra, savana, sampai tropika.

Kayanya indah ya??

Hmmm…saatnya kita ke sana!!

Merdeka!!

Misuh 1001*

Friday, September 1st, 2006

1 September 2006

Hari ini aku kena denda gara2 memarkir mobil di depan hydrant. "Diancuuuk!!!" aku pisuhi petugas parkir yang suka wira-wiri di sepanjang jalanan Center Ville Montreal menggunakan mobil merah-nya.

Brengsek kota ini, punya mobil susah gag punya pun susah. Mau parkir susah, mau berkendara pun susah, semua harus antri, tunduk patuh pada rambu-rambu dan simbol. Diampuuut!

Aku yakin 100%, hal ini tidak akan terjadi di Indonesia. Aku tidak akan perlu pusing melihat lampu merah-kuning-atau hijau sekalipun. Menjadi buta rambu dan buta simbol pun tak apa. Polisi mau mendenda?? Sumpal aja mulutnya dengan lima puluh ribuan setelah itu aku dapat melenggang bebas.

31 Agustus 2006

Bayaran kerjaku di project tertunda karena aku tidak memiliki Social Insurance Number. "Setan!"

Bajingan betul pihak kampus yang ketika mengontrakku tidak menanyakan dulu nomer Social Insurance Number ku, baru sekarang setelah saatnya menerima bayaran aku harus repot2 mengurus SIN. Tetek bengek banget sih?? Sebeeeeeeeeeel!!

Setidaknya kalau di negeri ku, hal ini jarang terjadi. Orang-orang di negaraku akan membayar pekerjanya sebelum keringat pekerja itu kering. No contract, no problem! Setidaknya perjanjian lisan pun cukup bagi boss dan karyawan untuk saling bekerjasama dan saling menguntungkan. Kalau boss mulai macam2 tidak mau bayar hak karyawan, tinggal demo aja! Hasut sana hasut sini, pasti beres!! Kalau perlu sewa provokator biar tambah seru.

29 Agustus 2006

Keparat! Aku dilarang masuk ke perpustakaan karena membawa satu gelas kopi. Di tengah hawa ngantuk yang luar biasa siang itu, aku terpaksa meletakkan kopi Tim Hortons-ku di kotak sampah yang tepat di letakkan di dekat pintu masuk. Bajingan! Mungkin tukang sampahnya tau betul bahwa para penggemar kopi harus membuang gelasnya lebih dulu sebelum bisa masuk ke perpus.

24 Agustus 2006

Diampuuut! Kali ini temanku yang kena siyalnya negara maju. Dia terpaksa membuang semua barang2 berwujud cair dari tas bagasinya akibat peraturan baru dilarang membawa cairan di dalam kabin pesawat. Semua ini gara2 ketakutan berlebihan terhadap terorisme di penerbangan internasional. Sialan!

22 Agustus 2006

Fucking shit! Lagi lagi masalah rokok yang menyebabkan aku kena masalah. Sudah menjadi kebiasaanku merokok di dalam kamar mandi, karena cuma tempat ini yang aman dari suara alarm dan kamera surveillance (cttn: di negeri ini dilarang merokok di tempat umum). Apesnya, hari ini aku lupa bahwa aku merokok di dalam kamar hotel temanku. Baru asyik beberapa klepusan, tiba2 alarm kebakaran berbunyi, membuatku harus memutuskan hajat ingin buang air besar lalu berlarian keluar.

Aku masih belum sadar dari mana titik asap berasal, aku baru sadar bahwa itu berasal dari rokokku setelah temanku ribut2 bau rokok di kamar mandi.

Brengsek!

1 September 2006 again

Conclusion: hidup di negeri maju seperti ini, yang katanya liberal, yang katanya memuja kebebasan, yang katanya sekular, yang katanya kebarat-baratan ternyata tidak membuat segalanya lantas menjadi bebas dan bolah boleh saja. Lebih parah lagi, aku cuma bisa membudidayakan pisuhan setiap kali aku "terpaksa" ngikut aturan.

Kapan ya aku bebas dari negeri penuh belenggu ini, dimana etika sebenarnya tidak terlalu bermakna, yang bermakna adalah logika dan "aturan" atau "aturan yang logis??"

Waaa, embuh.

Dan kini setelah bermisuh-misuh selama beberapa lama, saatnya aku beristighfar: Astaghfirullah…

Tuh kan…aku masih manusia Indonesia yang ber Pancasila, dan berbineka tunggal ika, buktinya setelah misuh masih inget berKetuhanan Yang Maha Esa.

*This writing contents offensive materials and coarse language. Reader discretion is (strongly) advised. The opinion stated above does not reflect the writer’s personality.*