Seminggu menjelang Ramadan.
Jadwal manggung masih ramai,
Setidaknya seminggu ini aku masih bisa
manggung di kampung Jati, Rambutan, dan Mojo Lawaran.
Lumayan.
Sawerannya kadang seratus semalam. Tentu
saja setelah dibagi dengan para pemain musiknya.
Seminggu menjelang Ramadan.
Suamiku masih juga belum pulang.
Katanya merantau di Jakarta
Tapi kenapa merantau perlu lama dan kabarnya jarang pula.
Jangan-jangan dia sudah binasa.
Di makan Macan Kemayoran yang bergaya
metropolitan namun berperilaku kaya setan.
Suamiku kerja apa? Mana aku tau, yang jelas
tidak ada duitnya. Yang jelas dia pulang sehabis lebaran, bukan di desa ini.
Melainkan di desa sebelah bukit yang keringnya mana tahan, yang kebanyakan
wanitanya menjadi babu Tuan Pengusaha atau Gundik Tuan Penguasa, dan prianya
jadi tukang bangunan Kontraktor Kaya.
Namun aku beda. Jelas beda. Aku bukan babu,
meskipun harus kerja melebihi babu. Aku sudah tebal muka. Yang jelas aku bukan
babu.
Seminggu menjelang Ramadan.
Mungkin harusnya aku sukacita seperti guru
ngajiku yang bilang kalau Ramadan datang maka bersuka citalah. Tapi aku harus
bagaimana ya? Masak aku harus bersyukur oleh kehadiran bulan yang membuat
rejekiku semakin seret saja.
Seminggu menjelang Ramadan.
Tempat hiburan harus ditutup. Bar, klub,
karaoke, pub. Terus aku gimana ya? Sialan betul aku ini. Setiap lebaran harus
gulung panggung, berhenti dapat penghasilan.
Bisa saja sih ganti jualan. Bukan lagi
suara dan goyangan di depan panggung, namun jualan vagina di dalam kamar
rahasia. Sssttt.. diam saja..biasanya bisnis yang beginian masih banyak
peminatnya meski Ramadan tiba.
Lha, tapi itu bukan tipeku. Aku punya anak
dua. Benar sih, mereka tidak makan dari makanan yang halal2 betul, tapi
setidaknya aku tidak ingin membesarkan mereka dengan nasi yang haram sekali.
Aku tidak mau itu. Bahkan, identitas pekerjaanku pun anak2ku tidak pernah tau.
Aku ini ibu yang baik, meski suamiku tidak tau. Lho wong ngumpul aja cuma tiap
Ramadan berlalu.
Seminggu menjelang Ramadan.
Anakku yang kecil minta dibelikan baju
baru, sementara yang besar minta rukuh baru. Kalau dihitung2 dua macam benda
itu berharga lebih dari 200ribu. Dari mana itu? Ramadan membuat njogetku tidak
lagi payu. Kalau panggung terpaksa digelar, maka polisi sudah siap turun
tangan. Dasar nasibku. Ah, mungkin aku mbabu saja selama Ramadan tiba. Tapi itu
bukan tipeku.
Orang
bilang aku ini biduan. Orang bilang aku ini penari renggong jalanan. Artis
kelas pinggiran yang manggung seminggu sekali di desa ini dan itu, diundang
diacara ini dan itu, bisa disenggol ini dan itu.
Seminggu
menjelang Ramadan.
Kapolda mengancam akan menutup semua tempat hiburan dan
melarang semua pertunjukan. No pornografi dan pornoaksi, itu kata mereka.
Lha aku bagaimana?
Lha kalau sudah tidak bisa njoget selama sebulan, perutku mau dikasih makan
apa?
Beli baju
buat anakku dari mana?
Ramadan..Ramadan..
Apa enaknya
kalau ramadan datang aku ganti profesi saja?
Enak saja! Nyari kerja kan tidak gampang.
Apa aku
mbabu saja?
Ndasmu! Mbabu itu bukan tipeku. Aku tidak dilahirkan
untuk menjadi babu. Setidaknya sampai putus urat pinggulku, aku tidak akan
mbabu.
Wong dadaku saja masih montok dan suaraku
masih banyak yang mau, kok mau mbabu.
O alah, Le..thole anakku.
Mbokmu ini kebingungan. Nggak tau mau
bagaimana sama Ramadan. Dia
datang kok rejekiku jadi hilang. Apa ini salahnya Pak Kyai? Atau salahnya Pak
Polisi? Atau salahnya Pak Walikota?
Seminggu
menjelang ramadan.
Penari
ronggeng dipinggir peradaban.
Tak punya
pilihan.
Berhenti
berarti mati
Terus
berarti dicekal polisi.
Apa boleh buat.
Hidup butuh makan.
Asal tak jual vagina sendiri.