Berbagi dosa sosial
Bayangkan jika kau seorang peneliti di bidang biomedis yang didanai oleh publik untuk menemukan obat untuk HIV/AIDS. Kau mendesain sebuah penelitian yang melibatkan baboon (sejenis mamalia tingkat tinggi) sebagai binatang uji.
Kau menggunakan 100 ekor baboon sebagai hewan percobaanmu. Langkah pertama dari percobaanmu adalah mengambil 50 ekor baboon untuk untuk ditreatmen dengan berbagai macam perlakuan. Sisa 50 baboon yang lain kau perlakukan sebagai kelompok kontrol, diinjeksi dengan virus namun tidak diperlakukan macam2.
Dari kelima puluh ekor baboon tersebut, ada yang kau injeksi dengan obat retrovirus merek ini dan itu. Ada diberi vaksin yang kau percaya sebagai anti HIV, untuk kemudian diinjeksi pula dengan virus yang sama.
Kau menunggu efek dari obat terhadap baboon2mu yang sudah terinfeksi HIV/AIDS. Kau catat perilaku mereka dan parameter2 penentu kesehatan. Kau catat hari kematiannya dengan seksama. Sesudah mati, masih kau otopsi pula jaringan2nya: mulai darah, hati, sampai limpa. Kau perhatikan kesakitannya, bahkan sekaratnya. Kau amati tiap penderitaannya.
Hasil dari penelitian ini adalah adanya obat2 yang menghambat aktivitas HIV/AIDS, dan kaupun mengadakan jumpa press untuk mengumumkan hasil penelitianmu, dan mematenkannya menjadi sebuah merek obat. Kau berjaya.
"Bagaimana dengan baboon2mu? Yang telah menberikan nyawa untuk kejayaanmu dan rasmu? Dapat apakah mereka? Sedikit pemakaman yang layakkah? Atau karangan bunga sebagai tanda duka cita?"
"Bagaimana kau akan menjawabnya?"
Lain hari kau kembali lagi ke laboratoriummu. Kau ditugasi untuk meneliti kerusakan otak pada manusia akibat gegar otak dan kau bertanggung jawab untuk mencari obatnya. Namun sebelum ketemu obatnya, kau harus tau betul bagaimana gegar otak bekerja merusakkan sistem saraf dan panca indera.
Lagi2 kau mendesain sebuah penelitian. Pertama kau ambil monyet2 rhesus dari pusat pembiakan. Rhesus2 itu sangat riang gembira meski hidup di penangkaran. Mereka pun bersih dan bersahabat. Kau membawa mereka ke laboratorium.
Untuk membuat gegar otak, kau perlu "mencelakai" rhesus2mu. Pertama2 kau akan memukul kepala2 rhesusmu dengan kekuatan yang sudah kau perhitungkan dengan seksama. Ini untuk menghasilkan keadaan gegar otak dan kerusakan saraf. Awalnya pukulan yang kau berikan ringan saja. Kau amati perilakunya dan fungsi otaknya dengan menggunakan "brain imaging". Kemudian, kau memukulnya lagi dengan kekuatan yang semakin bertambah. Lagi dan lagi perlakuan ini kau ulang2i. Sampai akhirnya binatang ujimu setengah mati dan mengalami sekarat tanpa dignity. Akhirnya, kau menghadiahi mereka euthanasia. Oh ya, kau masih melakukan autopsi juga.
"Bagaimana dengan rhesus2mu? Yang berakhir dengan kematian tanpa penghormatan? Dapat apakah mereka? Mungkin hanya karangan bunga saja? Atau malah tidak pernah ada?"
"Bagaimana kau akan menjawabnya?"
Kant bilang, "Animals are not self-concious and there merely as means to an end. That end is man.." Dengan kata lain Kant ingin mengatakan pada kita, bahwa hewan memiliki derajat nomer dua dalam hierakhi kehidupan. Dengan kata lain, hewan diciptakan untuk manusia. Manusia berhak melakukan apa saja pada makhluk selain manusia, karena manusia adalah makhluk tertinggi dalam pohon evolusi.
"Lalu apakah dengan posisinya sebagai puncak dari evolusi, apakah manusia berhak semena2 pada makhluk selain manusia?"
Ini dilema.
Namun manusia memang sudah bisa mengambil keuntungan dari binatang2 dibumi sejak dulu kala.
Kata Tuhan, bumi dan seisinya memang diciptakan bagi kesejahteraan manusia. Wow, sebuah privilege yang luar biasa. Dengan privilege ini, manusia dihadapkan pada dua pilihan.
Pertama, menggunakan bumi dan seisinya seperlunya saja, sehingga tercipta apa yang dinamakan surga dunia. Pada tataran ini, tentu saja diperlukan kemampuan manusia untuk menjadi penyeimbang. Ngono yo ngono ning ojo ngono. Boleh saja eksperimentasi menggunakan binatang uji, namun jangan menyiksa sekali.
Kedua, menggunakan bumi dan seisinya seenaknya saja. Tindakan ini memicu kesemena-menaan terhadap makhluk selain manusia, bahkan juga kesemena-menaan manusia terhadap manusia lainnya. Gasak sana sini, tabrak sana sini demi keuntungan dan kenikmatan sendiri. Ini praktik yang mudah. Manusia tidak perlu menggunakan pikirannya untuk berbuat begini. Asu gedhe menang kerahe. Boleh saja mengeksploitasi binatang dan bumi seisinya, namun jika ada apa2, tanggung sendiri akibatnya.
Lha wong Tuhan sudah menciptakan kehidupan secara susah2 kok mau di eksploitasi seenaknya. Hidup apapun bentuknya kan sama saja. Semua berasal dari satu dzat yang maha esa. Pancaraning Gusti Kang Murbeng Dumadi!!
Lha wong aku, kamu, dan semua manusia, sama ikan teri itu tidak ada bedanya. Kalau diasinkan daging kita sama enaknya kali ya…????
*Husss, ati2 nek ngomong.*
Inspired by: Albert R. Jonsen