Misuh 1001*

1 September 2006

Hari ini aku kena denda gara2 memarkir mobil di depan hydrant. "Diancuuuk!!!" aku pisuhi petugas parkir yang suka wira-wiri di sepanjang jalanan Center Ville Montreal menggunakan mobil merah-nya.

Brengsek kota ini, punya mobil susah gag punya pun susah. Mau parkir susah, mau berkendara pun susah, semua harus antri, tunduk patuh pada rambu-rambu dan simbol. Diampuuut!

Aku yakin 100%, hal ini tidak akan terjadi di Indonesia. Aku tidak akan perlu pusing melihat lampu merah-kuning-atau hijau sekalipun. Menjadi buta rambu dan buta simbol pun tak apa. Polisi mau mendenda?? Sumpal aja mulutnya dengan lima puluh ribuan setelah itu aku dapat melenggang bebas.

31 Agustus 2006

Bayaran kerjaku di project tertunda karena aku tidak memiliki Social Insurance Number. "Setan!"

Bajingan betul pihak kampus yang ketika mengontrakku tidak menanyakan dulu nomer Social Insurance Number ku, baru sekarang setelah saatnya menerima bayaran aku harus repot2 mengurus SIN. Tetek bengek banget sih?? Sebeeeeeeeeeel!!

Setidaknya kalau di negeri ku, hal ini jarang terjadi. Orang-orang di negaraku akan membayar pekerjanya sebelum keringat pekerja itu kering. No contract, no problem! Setidaknya perjanjian lisan pun cukup bagi boss dan karyawan untuk saling bekerjasama dan saling menguntungkan. Kalau boss mulai macam2 tidak mau bayar hak karyawan, tinggal demo aja! Hasut sana hasut sini, pasti beres!! Kalau perlu sewa provokator biar tambah seru.

29 Agustus 2006

Keparat! Aku dilarang masuk ke perpustakaan karena membawa satu gelas kopi. Di tengah hawa ngantuk yang luar biasa siang itu, aku terpaksa meletakkan kopi Tim Hortons-ku di kotak sampah yang tepat di letakkan di dekat pintu masuk. Bajingan! Mungkin tukang sampahnya tau betul bahwa para penggemar kopi harus membuang gelasnya lebih dulu sebelum bisa masuk ke perpus.

24 Agustus 2006

Diampuuut! Kali ini temanku yang kena siyalnya negara maju. Dia terpaksa membuang semua barang2 berwujud cair dari tas bagasinya akibat peraturan baru dilarang membawa cairan di dalam kabin pesawat. Semua ini gara2 ketakutan berlebihan terhadap terorisme di penerbangan internasional. Sialan!

22 Agustus 2006

Fucking shit! Lagi lagi masalah rokok yang menyebabkan aku kena masalah. Sudah menjadi kebiasaanku merokok di dalam kamar mandi, karena cuma tempat ini yang aman dari suara alarm dan kamera surveillance (cttn: di negeri ini dilarang merokok di tempat umum). Apesnya, hari ini aku lupa bahwa aku merokok di dalam kamar hotel temanku. Baru asyik beberapa klepusan, tiba2 alarm kebakaran berbunyi, membuatku harus memutuskan hajat ingin buang air besar lalu berlarian keluar.

Aku masih belum sadar dari mana titik asap berasal, aku baru sadar bahwa itu berasal dari rokokku setelah temanku ribut2 bau rokok di kamar mandi.

Brengsek!

1 September 2006 again

Conclusion: hidup di negeri maju seperti ini, yang katanya liberal, yang katanya memuja kebebasan, yang katanya sekular, yang katanya kebarat-baratan ternyata tidak membuat segalanya lantas menjadi bebas dan bolah boleh saja. Lebih parah lagi, aku cuma bisa membudidayakan pisuhan setiap kali aku "terpaksa" ngikut aturan.

Kapan ya aku bebas dari negeri penuh belenggu ini, dimana etika sebenarnya tidak terlalu bermakna, yang bermakna adalah logika dan "aturan" atau "aturan yang logis??"

Waaa, embuh.

Dan kini setelah bermisuh-misuh selama beberapa lama, saatnya aku beristighfar: Astaghfirullah…

Tuh kan…aku masih manusia Indonesia yang ber Pancasila, dan berbineka tunggal ika, buktinya setelah misuh masih inget berKetuhanan Yang Maha Esa.

*This writing contents offensive materials and coarse language. Reader discretion is (strongly) advised. The opinion stated above does not reflect the writer’s personality.*

Leave a Reply