Archive for October, 2006

And life goes on

Monday, October 30th, 2006

"The nature of human live is like a candle lighted in open air, without any protection from above and every side"

Hidup ibarat lilin. Setiap saat angin bisa datang, menyampaikan berita dari malaikat kematian, maka lilin itu pun berhenti berpendar. Gelap. Gelap sejenak. Namun bisa begitu pekat.

Namun kegelapan tidak akan abadi. Dia bukan seperti lubang hitam semesta yang kelam dan menyerap apa saja. Masih ada harapan. Masih ada nyala2 lilin lain yang harus dijaga. Masih ada banyak alasan bagi kehidupan untuk bertambah usia dan beranjak tua.

Setelah gelap itu, lalu angin akan bertiup lagi diatas kepalaku, mengajak untuk mengarak awan. Ke depan. Ke masa depan. Karena memang beginilah garis hidup manusia.

Yang tertinggal di belakang, lilin2 kecil yang telah padam duluan, mereka akan menjadi embun2 berseri di pagi hari. Maka bangunlah, sambut embun2 itu, tersenyumlah. Dunia ini masih milik kita. Lalu lepaskan embun2 itu ketika matahari mulai meninggi, biarkan dia menjadi awan2 kecil di angkasa. Dia sahabat2 kita yang damai tidur bermakhkota di kerajaan para dewata. Biarkan mereka menunggu kita di alam sana.

Alam yang ada dalam sumber pikiran manusia. Tidak nyata, namun ada.

Then. life goes on.

Telur2 kecil menetas, induk2 singa mencari makan, ayah2 manusia bekerja, aku berkelana mengarak awan menuju kemuaranya.

Dan pasti tiba nanti giliranku. Lilinku padam menyisakan asap tipis di angkasa. Biar saja. Sudah begitu kodratnya. Kematian -sebagaimana hidup- datang dan pergi. Datang dan pergi. Tidak ada yang abadi. Karena hanya kematianlah kawan kehidupan. Sahabat setia demi kelangsungan semesta.

And life goes on.

Sekarang ku kemasi bukuku, berangkat ke kampus, melakukan apa yang harus dilakukan, sebaik2nya, sebisa2nya. Menangispun sudah percuma. Lilin kawanku sudah tiada. Tinggal nanti kujenguk dia, disana. Dalam peraduannya yang serba sederhana. Karena kematian memang sederhana: sesederhana daun2 kecil jatuh luruh ke bumi.

[Ssstt..tapi maaf, ijinkan aku menangis dulu. Sebentar saja, aku kan cuma manusia, air yang ada di mata masih perlu dikuras dan dibersihkan: agar aku bisa melihat lagi dunia..]

And life goes on..

Selamat jalan, Good bye

Sunday, October 29th, 2006

Dear sahabat tersayang,
Kau yang dipanggil Allah sesudah dibersihkan dosamu selama Ramadan
Selamat jalan…
Semoga kebahagiaan abadi dan hakiki kau temui di sana.
Selamat jalan sahabat..

With love,
X-a Salim

Ocean

Saturday, October 28th, 2006

Aku sedang memaknai arti kehidupan.
Membayangkan aku di tempat favoritku.

Angin bertiup dari selatan, kulihat diriku berdiri di sebuah tebing. Tebing terjal berbatu yang tidak goyah diterjang deburan ombak. Dia terus bergelora, membuatku takut sekaligus takjub.
Lalu, embun2 asin melayang membasahi muka berjelaga, aroma garam dan amis ikan dari tempat pelelangan mengacaukan indera. Ini aroma kehidupan, garam dan ikan. Anak nelayan tumbuh dewasa dengan meminum darah lautan, memanjat tebing2 kehidupan.

Sejenak kemudian, burung2 beterbangan di atas kepalaku. Mereka meneriakkan sesuatu yang aku tidak tau. Berebut apa? Sedang bermain apa? Bercerita apa? Rasanya ingin kupinjam telinga mereka. Sejenaaaaaaaaaaak saja. Agar bisa kudengar cerita2 mereka tentang lautan menggila, atau si biru yang tenang jauh di tengah sana. Mungkin juga cerita2 tentang kawanan ikan raksasa perenang abadi sepanjang masa. Atau dongeng2 para prajurit, para nakhkoda, para nelayan, para penjelajah dunia, para bajak yang tak sempat diabadikan dalam kisah2 para pujangga daratan. Atau tentang bintang gemintang yang bersinar lebih terang daripada lampu2 mercu suar.

Ini tempat favoritku.
Berada di bawah bukit. Kakiku basah oleh air yang datang dan pergi. Untuk apa mereka begini saban hari?? Mengantarkan berita dari pulau seberang? Atau hanya sebentuk permainan anak gelombang yang rindu mencium daratan? Atau peluang kehidupan yang diberikan kepada anak2 karang dibatas antara pasir dan perairan? Peluang apa? Kehidupan apa di batas cakrawala sana? Ada apa dibalik titik terbenamnya sang surya?

Anak2 tukik berlari secepatnya menghindari pemangsa di pasir terbuka. Kemana larinya kalau bukan ke perairan tebuka. Tapi kenapa? Apa sedemikian indahnya lautan itu sehingga bayi2 mungil itupun menggantukan harapannya di sana? Surgakah  itu??

Aku tak tau.

Aku berdiri di tempat favoritku. Menuliskan harapan diatas bentangan kanvas putih yang serba basah dan lembab. Lalu datang anak2 ombak, membaca tulisanku satu persatu, dalam sebentar mereka merekam pesanku.

"Wahai, lautan…
"this whisper comes from the heart within:
seumpama mabuk diriku,
itu karena banyak2 cintaku
Seumpama gila diriku
itu karena mendambamu
seumpama bebas diriku
itu karena bersatu denganmu.

Panggilan sayang kekasihku

Tuesday, October 24th, 2006

Ehem..ehem..dari judulnya, tampaknya tulisanku ini akan bersifat pribadi. Tapi biarlah, sekalian curhat buat ngilangin jenuh kerinduan yang menyesak kalbu.

Pacarku itu bukan orang yang romantis. Bilang sayang saja kadang2 harus dipaksa dan diminta, sampai merengek2 kaya anak balita :P.

Tapi untuk panggilan, dia bisa punya segudang istilah untuk memanggilku. Tergantung keadaan atau mood, untungnya aku selalu tau bahwa tiap panggilan itu ditujukan padaku.

"Pus.."
Dia suka terhadap kucing, meskipun kamu tidak memelihara kucing. Jika lihat kucing pasti dipanggil. "Pus..pus.." Ternyata kebiasaan itu berlanjut sampai menikah, yang dipanggil ‘Pus’ bukan kucing saja melainkan aku. Hehehehe aneh ya, aku kok disamakan dengan kucing :)

"Nduk.."
Pacarku itu sudah seperti kakakku sendiri, dalam artian umur dia lebih tua dan sikapnya juga lebih ngemong dan dewasa. Dia juga senang memperlakukanku sebagai adik, makanya dia memanggilku ‘Nduk’. Kalu udah dipanggil begini, wah sifat manjaku jadi muncul, merasa bisa minta apa saja pada ‘kakak’ku itu.

"Fren.."
Ini kalau kami lagi diskusi serius mengenai masalah2 serius seperti filosofi atau agama. Biar dari luar kelihatannya dia pendiam, tapi dia betah loh berdiskusi dengan intens dan mendalam. Nah, disaat2 seperti ini aku dipanggilnya ‘Fren’. Katanya, aku adalah teman diskusi dan perdebatan pendapat. Ah, whateverlah.

"Cay.."
Ini kalau dia lagi centil. Maksudnya ’sayng’ gitu tapi di centil2in jadi ‘cay’. Pasti ada maunya kalau udah manggil begini.

"Yank.."
Panggilan ini ditujukan kalau aku lagi ngamuk and bete. Maksudnya semacam rayuan gitu, namun jaraaaaaang banget digunakan. Bukan karena kami selalu rukun, tapi kata ‘Yank’ ini senjata pamungkasnya untuk meluluhkan hatiku. Masak senjata pamungkas dipakai terus…ga lucu kan?

"Mah.."
Ini kalau dia lagi kangen berat. Aku suka nangis kalau dipanggil begini, jadi inget dia terus dan fungsiku sebagai ‘mah’ yang belum kujalankan sepenuhnya akibat dua benua yang merintangi kami. *Hiks*

"Hun.."
Kata ‘hun’ merupakan bentuk centil dari ‘honey’. Kata ini digunakan kalau sedang sok romantis2an. Maklumlah, kami kan masih pacaran jadi masih suka dengan hal2 berbau romantis dan dramatis beginian.

Akhir2 ini dia suka memanggilku "Mine.."
Apalagi maksudnya ini? Tapi aku suka sih dengan bunyi ‘mine’ kayanya dia tuh saayaanng banget gitu loh. Tapi jadi sebel kecampuran geli kalau dia memanggilku "Mine,mine,mine,mine" (diucapkan dengan cepet tanpa mengambil nafas). Kenapa? Karena itu adalah bunyi yang dikeluarkan burung2 camar di filem Finding Nemo. Hehehhehe..bagi yang sudah nonton filem itu pasti tau deh.

So, bagaimana dengan kekasih2mu, kau panggil apakah mereka? Bagaimana caramu memanggil mereka? Anyway, apapun itu pastikan kekasihmu tau bahwa yang dipanggil adalah dia, hatinya, kalbunya, hidupnya. Karena, ketika seorang wanita dipanggil seorang pria untuk menjadi ‘istri’ maka yang diberikan tidak hanya tubuhnya, namun hati dan jiwanya…

*HUaaaaaa..aku kangeen pada Emas-ku…*

Barangkali lebaran memang begini

Monday, October 23rd, 2006

Barangkali bukan saya saja yang pada hari ini 1 Syawal 1427 H yang merasa aneh berlebaran di negeri orang dengan suasana serba sepi dan dingin. Barangkali saya hanya salah satunya, dan tanpa ingin membesar2kan dan berkeluh kesah pada hari yang istimewa ini, mohon ijinkan saya menuliskan cerita sederhana ini.

22 Oktober 2006
Kemarin aku benar2 merasa tidak ingin keluar rumah. Di samping kehabisan energi karena menghadapi berlembar2 buku, udara di luar juga sangat dingin. Namun mendadak hp berdering menandakan sms masuk. "Nduk, datang ya di acara malam takbiran warga Indonesia di rumahku.."
Aduh, aku pun jadi tergerak ingin berangkat. Namun gimana caranya ya? Aku bingung juga mengingat rumah kawan itu letaknya jauh di ujung barat pulau Montreal.

Eh, untung sekali sore itu ada teman lain yang nelpon. "Segera mandi," katanya, "nanti jam 4 kujemput." waduh apa2an ini. Meski alhamdulillah ada tebengan untuk ber takbiran, dalam satu jam aku harus ngebut mandi dan dandan. Pyuh! Anyway, tak apalah yang penting bisa kumpul di malam terakhir Ramadan dengan teman2 daripada manyun di apartemen seperti tahanan :)

Malam takbiran di negeri orang memang tidak seseru di negeri sendiri. Hanya beberapa puluh orang yang datang, itu pun sudah dengan keluarga masing2 sehingga makhluk ’single’ sepertiku hanya manyun membayangkan indahnya kalau ada ‘Sang Kekasih’ di sampingku. (Hiks..buat kekasihku: aku rindu kamu, mas…)

Malam takbiran pun selesai jam 9, hehehhe terlalu sore jika dibandingkan dengan di Indo yang berakhir jam 6 pagi :) Tapi ya apa boleh buat, takbiran di negeri orang memang begini.

23 Oktober 2006
Aku bangun dengan tidak bersemangat. Aku sudah merencanakan sholat di kampus bersama sister2 dari Moslem Students Association. Ya, meskipun tidak ada yang ku kenal, tapi lebih baik keluar di hari raya daripada ‘ngendon’ di rumah kan??

Baru saja aku selesai mandi, telpon berbunyi: "Nduk, kamu mau sholat dimana? Teman2 di Indo pada sholat di rumah Pak L di West Island, kamu ikut nggak??"
"Wah, aku kayanya sholat di kampus aja deh, mbak… Males dingin banget. Kalau aku emang niat sholat di sana, harusnya aku ga pulang dong, Mbak..Nginep aja biar praktis."
"Nek gitu kita sholat di kampus aja apa ya? "
"Aku emang berencana gitu sih, mbak.. Nek kamu mau ke kampus, kita ketemu di sana ya.."

Puuih! Akhirnya, aku sholat di kampus. Sepi banget cuma ada sekitar 4 shaf jamaah putri dengan kostum warna warni. Tidak kaya di Indo yang semuanya pada pake rukuh warna putih. Justru inilah uniknya lebaran di Montreal bersama dengan sister2 cantik dari berbagai negara.

Lebaranku kali ini dirayakan dengan prayer saja, lalu hang out sebentar di Tim Horton untuk minum kopi. Kurang dari jam 10 aku sudah ada di rumah, berada di depan laptop dan kembali menyibukkan diri dengan membaca buku dan berita2 lebaran di kampung halaman.

Ah, bagaimana ya suasana lebaran di kampungku setelah gempa? Apa mereka berbahagia merayakannya? Aku sungguh rindu sekali pada mereka, walau aku kesepian rindu dan lebaranku biasa2 saja, namun aku merasakan kenyamanan. Teman2 yang jumlahnya tidak seberapa itulah yang telah menghadirkan kenyamanan.

Wahai, Tuhan..
aku bersyukur Kau telah menganugerahiku ramadan yang indah, lebaran yang nyaman, dan hati yang damai. Ini memang tidak sehingar bingar di kampung halaman. Ini hanya sebuah doa sederhana dari hati yang sederhana: puji syukurku karena limpahan rahmatMu, hiasilah hidupku dengan gemerlap cahaya cintaMu. Jadikan masa depanku lebih indah dengan gelimang kasihMu..

Satu lagi, Tuhan,
Terimakasih kau telah menghadirkan persahabatan2 yang begitu indahnya, walau tak kasat mata namun ini sungguh luar biasa.

Dan bagi teman2ku, bagi yang berinteraksi denganku dengan segala pergumulan ide, tingkah laku, dan tutur kataku sebagai manusia yang penuh khilaf dan dosa; mohon bukakanlah pintu maafmu.. Ijinkan aku hadir kembali sebagai sahabat yang lebih baik bagimu dimasa kini dan dimasa mendatang….

Submission

Tuesday, October 17th, 2006

Ada yang pernah nonton film singkat berjudul "submission"? Sebuah film yang ditulis oleh Ayaan Hirsi Ali dan di sutradarai oleh Theo van Gogh. Bagi yang belum nonton, cari di google video dengan keyword submission.

Filem itu bikin geregetan sehingga aku ga tahan untuk akhirnya "follow mix" (ikut campur) dengan cara menulis disini.

Submission adalah terjemahan dari kata "Islam" dalam bahasa Inggris. Dalam filem itu di pertihatkan seorang wanita (mungkin Muslim) yang sedang melakukan "sholat" dan berdialog dengan Tuhan dalam "sholat" itu. Anehnya, si perempuan itu mengenakan pakaian yang sangat transparan (hampir telanjang) dan menggunakan cadar, serta tubuhnya dilukis dengan ayat2 Al-Qur’an.

Dalam filem itu, si perempuan mengadu betapa tidak adilnya perlakuan yang dia terima atas nama Islam. Pertama, dia mengaku sebagai perempuan baik2 dan jatuh cinta pada seorang laki2, namun cinta itu tidak bisa berlanjut dan dia menggugat Allah: "Allah, oh Allah..mengapa kau larang cinta seperti ini?"

Kemudian, dia mengadu lagi bahwa dia dinikahkan secara paksa, namun atas nama ketundukan terhadap agama, dia mengikuti kemauan orangtuanya untuk menikah paksa. Namun yang dia dapatkan adalah pukulan dari suaminya. Dia mengutip ayat Qur’an yang menyatakan bahwa laki2 adalah pemimpin perempuan, dan dia sudah berusaha mengikuti petunjuk Qur’an namun yang dia dapatkan adalah siksaan dan hinaan.

Lalu dia mengadu, menyatakan bahwa dia sudah menutupi tubuhnya, tidak menggunakan perhiasan berlebihan dan menggunakan cadar, semua untuk mengikuti perintah agama. Dia tidak membuka cadarnya kecuali di dalam rumah. Tapi, yang dia dapatkan justru pemerkosaan dari pamannya.

Pada akhir filem, ditunjukkan bahwa perempuan itu menyelesaikan "sholat"nya lalu mengucapkan salam.

Hmmm….aku miris dengan filem ini. Sungguh2 ini bukan filem yang ditujukan untuk memuliakan Islam, melainkan merupakan kritik pedas yang -bagi believers- sangat menyakitkan.

Isu2 untuk menjatuhkan Islam, sebenarnya bukan isu yang baru lagi. Bahkan upaya terang2 untuk menjelekkan Islam, Quran, dan Rasul sudah ada sejak jamannya Rasul.

Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi, cara2 nya pun semakin canggih dan terselubung; menggunakan filem, internet, sandiwara teater, sayembara kartun Muhammad, karya2 -yang diklaim- sebagai akademis, and so on. Bahkan isu2nya sudah mulai merambat ke isu2 universal rights, dll. Islam dinyatakan sebagai agama kekerasan yang melanggar hak asasi manusia yang paling mendasar dan universal.

Akan tetapi, bagiku filem "submission" juga tidak bisa dibenarkan. Filem ini merupakan upaya terang2an dalam menodai Islam. Jika memilih agama juga dianggap sebagai hak dasar, maka filem ini tentu saja akan jatuh pd tataran menginjak2 hak asasi manusia.

Satu hal yang perlu diluruskan adalah: dalam filem itu, Islam digambarkan sebagai agama yang memandang rendah wanita. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Rasul SAW berkata: "Mulialah laki2 yang memuliakan wanita, dan hinalah laki2 yang memuliakan wanita."

Dalam kehidupan Islam di Indonesia, aku kira banyak sekali contoh yang bisa diambil bahwa wanita ditempatkan dalam posisi yang sangat istimewa: bahkan surga pun ada di telapak kaki ibu. Kita pernah memiliki seorang presiden wanita, saudari kita yang perempuan pun tidak pernah memiliki hambatan berarti untuk meniti karir. Jikapun wanita memilih menjadi ibu rumah tangga, masyarakat memberi kesempatan mereka untuk tetap aktif dalam kehidupan sosial baik melalui pengajian maupun PKK. Itu adalah gambaran masyarakat Islam kita yang sederhana dalam kehidupan nyata sehari2.

Kalaupun ada wanita yang dipukul suami, maka kasus ini adalah kasus kekerasan rumah tangga. Ini adalah kasus kekerasan yang umum, tidak memandang agama maupun sosial status masyarakat. Tidak cuma wanita Islam yang bisa menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Coba hitung kasus beginian di Amerika sana, pasti tangan kita tak kan mampu mewadahi jumlahnya.

Jikapun ada perempuan yang mengalami pelecehan seksual, wah di eropa sana juga banyak sekali. Sayangnya, perempuan2 eropa sendiri sampai tidak menyadari bahwa mereka sudah jadi korban perlecehan seksual. Coba saja amati: streaptease dan sex party; apakah itu bukan pelecehan seksual namanya?? Sayangnya hanya sedikit dari mereka yang tau apa arti pelecehan seksual.

So, sebenarnya yang salah itu bukan agamanya, bukan SUBMISSION (ISLAM) itu sendiri, namun yang salah itu adalah kultur masyarakat. Masyarakat sedang sakit, oleh karena itu Islam hadir untuk mengobatinya, memberikan panduan dan arahan untuk terciptanya surga dunia dan akhirat.

Anyway, aku tidak akan banyak2 memberikan judgment terhadap Islam, karena aku bukan ahli fiqih atau tafsir. Yang mau aku tekankan adalah "appreciation". OK lah man, kita berbeda. So what gitu loh?? Mbok jangan saling menghina, wong kalau orang Yahudi digambarkan sebagai alas setrikanya kaum nazi, orang yahudi tentu marah. Jangan saling mendiskriditkan. Agama hadir memberikan pencerahan, kalaupun ada dari praktik2 agama itu yang menyimpang dari nilai yang sesungguhnya, itu adalah penyakit umum yang diderita manusia dan semua agama bisa saja tampak jelek karena penyakit manusia itu. Karena kita memang cuma manusia biasa: cuma homo homini lupus.

Agama itu idealisme-nya masyarakat manusia

*wallahu alam*

Chairil Anwar*

Thursday, October 12th, 2006

Chairil Anwar mengembara di hutan-hutan peradaban.
Menyusuri kali kehidupan
menjejaki stepa-stepa pikiran
mengukir puisi di pasir waktu kenyataan

Chairil Anwar beranak sejarah
melompati waktu melompati hari
bersabda "hidup seribu tahun lagi"

Chairil Anwar menangis menatapi mimpi
ketika "tulang-tulang berserakan"
tidak bisa menggandeng kata menjadi makna
teriakan kosong di senja hampa

Chairil Anwar menggugat matahari
ketika kematian sudah tidak seheroik dulu lagi
orang mati sudah seperti laron dimakan pagi
tak perlu puisi
tak perlu Kerawang Bekasi

"Dan tak perlu sedu sedan itu"
Semua sudah jadi binatang jalang
dari kasta-kasta terbuang
terpinggirkan

tinggal cacing2 merayap
menunggu "senja di pelabuhan kecil…"

Sudah, kataku
hentikan puisimu
Sudah sudahlah

"Sekali berarti sudah itu mati"

*for my best friend, Chairil Anwar

Too much passion wil kill you

Wednesday, October 11th, 2006

"Ok guys..take your seat and please enjoy it for at least 1/2 hour ahead!"

"Before I go further and further, let me introduce my self. Well, as you have read in your schedule, my name is Prof. X. I’m teaching General Biology, but not like ‘common’ Biology that you may expect. I’ll explain it later."

"I’ve been a professor in Biology since 1981, but not so much that I can get from my teaching, except, you know, a regular salary that I receive every month. So, basically, what I am doing here, that is teaching you, is nothing to do with neither salary nor welfare. It is nothing about it! But, I assure you that this is about my passion. So is my course will mostly discuss about passion. Hence, if you feel that you are not comfortable with this "passion" thing you may get out from this room and drop your course right now. Because I will not provide you any information about DNA transcription, translation, or the like. Nor will I provide you with readings related to those "scrap" information. Indeed, you may get those infromation from any sources, whether online of on books, then, you can put those in your brain. When you came into class, all I need is your brain."

"I want you to be passionate about your learning process. I want you to come to my class, ready with your brain and ready to talk. So, for you who might suffer from shyness, dont worry; for I provide a special time to talk, to let out whatever it is in your brain."

"Secondly, I want you also to be passionate about your peers. Listen to what they bring, and comment on them. Dont let them speak alone. Help them with their questions and curiousity. Challenge their idea. Pour your passion about your subject. So, for example you are really intersted in taxonomy, do find out information ralted to taxomomy. It can be the history, the philosophy, or perhaps what culture has taught you about taxonomy. Bring that into class, talk to your buddies and tell them your thoughts or perhaps your confusion. You can also have questions like "Why do we need an international sytem for taxonomy and classification?" Dont be shy if you consider your questions to be so simple or stupid. Believe me, guys, nothing simple in science."

Thirdly, this class is not about creating competitive environment! I dont want you to be obsessed by number and grade, instead I want you to be passionate about the knowledge. I want you to conflicting your idea and thoughts with your peers. They are the ones who have capacity to help you learning in this class. So, if you had anything in mind, talk to your friends. It is all about sharing. Share! Or you die in this class!

"Remember guys, you have to dig the science, cos nothing is true, the truth is out there, ready to be uncovered!"

"Then, please note that I am part of this passion project. So dont forget to invite me to your discussion. I might be as fool as beginners, so dont expect too much from me! I am no expert in this big science either!" 

"As for your presence, I appreciate so much if you can be here every class, because each class may be full of surprise and without your contribution, this class will be less meaningful. Each of you is responsible for having mutual dialogue in this class. In other words, you decide what you can get from this class by the end of the semester. You can be so passive or so active, it is up to you."

"In terms of evaluation, I’ll value your progress. I’ll value your passion. I’ll value your thoughts! And thankfully, I will not give you grade, whether A,B,C or D. From me, you will get ‘pass or fail’. To pass this class, as well as to fail, is quite easy! Bring your passion, then, you’ll pass, otherwise you fail!"

"So guys, this is the intro of this course. I have to let you go to find whatever materials, readings, sources that you may need for next meeting. I’ve given you the outline of the course so you know what to do for next week."

"If you had further questions on how I oraganize the course, you can ask me now or other ways you can send me an email or come to my office. By the way, my office hour is every Tuesday but by appointment, you can come to my office."

(Silence for a moment)

Any questions?

(Students silent)

OK! Class dismissed!

Seorang mahasiswa ngegerundel dalam hati: "Prof. gila!"

Sedih gw

Saturday, October 7th, 2006

Simak penuturan peneliti dari Institute for
Development and Economic Analysis, Dati Fatimah, yang meneliti soal
alokasi anggaran daerah yang timpang. "Di Kabupaten Ciamis, misalnya,
anggaran 2004 untuk penanganan gizi buruk hanya Rp 10 juta, sementara
jamuan makan pemerintah Rp 4 miliar lebih," kata Dati. (Kompas, 7 Oktober 2006)

Sakit hati aku membaca tulisan itu. Kucoba klarifikasi informasi tersebut dengan akal sehatku.

Hmmm. Sebenarnya masuk akal juga ketika jamuan makan pemerintah bisa sampai Rp. 4 M. Pemerintah kan berada pada deretan tertinggi piramida makanan, so untuk mempertahankan fungsi dan perannya sebagai pengayom masyarakat, pemerintah harus makan banyak. Lagipula, pemerintah kan tidak cuma makan untuk dirinya sendiri, ada tamu negara, tamu propinsi, tamu desa, bahkan tamu Rukun Tetangga. Terlebih lagi, pemerintah kan isinya kumpulan orang hebat dengan otak yang hebat dan kemampuan yang luar biasa, sehingga wajar saja dong kalau jatah makan otak pemerintah pun lebih besar daripada rakyat yang otaknya kebanyakan hanya diasah sampai tingkat SD saja.

Hmmm. Mungkin juga karena kebanyakan makan dan duduk dan diskusi, makanya kebiasaan tidur saat sidang juga tak ilang2. Bisa dimengerti…

Gundulmu! Mana ada orang tidur jatah makannya boleh besar daripada rakyat yang mengangkat cangkul dan menyurung gerobak di gang2 sempit ibukota.

Ada yang lebih urgen Bung, daripada mengadakan selamatan tugu selamat datang. Tidak udah diselamati pun, tugu itu sudah selamat sendiri. Mbok ya melek. Matamu! Balita2 kurang gizi masih banyak, ibu2 hamil beresiko kematian tidak kurang jumlahnya, bapak2 tani yang berpenghasilan kurang dari lima ribu sehari jumlahnya bagai laron di pagi hari.

Melek Bung! Ini jaman bukan untuk membesarkan perut lagi. Kita perlu bekerja, jika tidak ingin generasi ke depan tumpas binasa.

Simak Bung, anggaran belanja daerah adalah milik bersama. Asalnya dari keringat bapak2 tua, mbok2 pedagang kaki lima, tukang2 bangungan, pengemis jalanan, petani gurem di pedesaan.

Eh maaf ding, anda masih berhak menentukan mana yang harus dilakukan, karena anda adalah wakil rakyat, wakil kami juga. Atau kami yang salah dan patut dipersalahkan karena telah memilih kalian.

Mana ada lagi pemimpin yang arif seperti khalifah2 yang mulia dulu, yang memikul sendiri gandumnya untuk ibu2 miskin di tepian kota. Sedih gw

Dan aku adalah bagian dari ketimpangan sosial ini. Sedih gw

Hidup memang anjriiiiiiiiiiiiit!!

Ngomelin cinta

Friday, October 6th, 2006

" In this life, we can deny a reality that we once exeperinced falling in love and broken heart"

Cinta pertama?

Hahaha itu saat monyet berubah wujud jadi buaya. Bisa saja terjadi ketika kuliah, SMA, SMP, bahkan SD. Beberapa orang mungkin agak lambat jatuh cinta, atau sadar bahwa dirinya jatuh cinta. Ada yang baru sadar jatuh cinta ketika yang dicintainya sudah tidak berada dalam komunitas yang sama. Misalnya, kita jatuh cinta pada teman SMA, namun baru sadar kalau kita jatuh cinta padanya ketika kita udah kuliah atau malah kerja.

Lalu apa dong setelah cinta pertama?

Beberapa orang berani mengungkapkan perasaannya. Lalu pasangan2 baru bermunculan bagai panu di musim hujan. Mereka tampak bahagia. Maklum cinta pertama memang kadang menimbulkan energi yang sangat dahsyat. Seperti petir di musim kemarau *halah, iki opo meneh??*

Beberapa pasangan survive sampai tua dan akhirnya membangun rumah tangga. Namun pasangan2 yang lain kadang tidak mampu bertahan dan berhenti di tengah jalan.

Namun kehidupan tidak selesai di sini.

Jatuh cinta lagi. Cinta kedua..

Hmm..Bagi beberapa orang jatuh cinta untuk kedua kalinya jauh lebih mudah dan tidak menyakitkan. Mereka belajar dari pengalaman terdahulunya bahwa jatuh cinta bisa sangat menyakitkan dan bisa juga sangat menyenangkan. Tentu saja mereka ingin cinta kedua ini menjadi cinta yang menyenangkan. Namun bukan berarti cinta kedua tidak bisa putus. Cinta bukan sesuatu yang terjamah oleh keabadian. Ia bisa mati dan putus, meskipun setelah berumah tangga sekalipun.

Kemudian apa lagi?

Aha! Cinta ketiga..

Cinta ketiga dialami oleh orang2 yang gagal pada percobaan pertama dan kedua. Tentu saja manusia sudah lebih matang pada cinta ketiga ini. Dan biasanya ketika cinta ketiga datang, orang sudah cukup tua untuk bertindak dan berlaku bijak.

But wait! Lantas bagaimana dunk dengan orang yang juga gagal dengan cinta yang ketiga, di usia yang sangat muda pula?? heheheh berarti orang itu hoby jatuh cinta..

Namun, satu bocoran dari pengalamanku: kadang kita bisa tertipu oleh perasaan sendiri. Kadang kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa kita sedang jatuh cinta atau patah hati. Padahal kekasih dan kasih sayang itu tidak melulu mengenai perasaan debar2 di dada. Ia juga mengenai kesabaran, pengertian, komitmen, dan respect.

So, jika ada orang yang berteriak2 jatuh cinta namun dia tidak siap dihadapkan pada komitmen menikah dan mencari2 alasan untuk menunda pernikahan, bagiku, itu bukan cinta, setidaknya BUKAN cinta yang dewasa…