Ocean

Aku sedang memaknai arti kehidupan.
Membayangkan aku di tempat favoritku.

Angin bertiup dari selatan, kulihat diriku berdiri di sebuah tebing. Tebing terjal berbatu yang tidak goyah diterjang deburan ombak. Dia terus bergelora, membuatku takut sekaligus takjub.
Lalu, embun2 asin melayang membasahi muka berjelaga, aroma garam dan amis ikan dari tempat pelelangan mengacaukan indera. Ini aroma kehidupan, garam dan ikan. Anak nelayan tumbuh dewasa dengan meminum darah lautan, memanjat tebing2 kehidupan.

Sejenak kemudian, burung2 beterbangan di atas kepalaku. Mereka meneriakkan sesuatu yang aku tidak tau. Berebut apa? Sedang bermain apa? Bercerita apa? Rasanya ingin kupinjam telinga mereka. Sejenaaaaaaaaaaak saja. Agar bisa kudengar cerita2 mereka tentang lautan menggila, atau si biru yang tenang jauh di tengah sana. Mungkin juga cerita2 tentang kawanan ikan raksasa perenang abadi sepanjang masa. Atau dongeng2 para prajurit, para nakhkoda, para nelayan, para penjelajah dunia, para bajak yang tak sempat diabadikan dalam kisah2 para pujangga daratan. Atau tentang bintang gemintang yang bersinar lebih terang daripada lampu2 mercu suar.

Ini tempat favoritku.
Berada di bawah bukit. Kakiku basah oleh air yang datang dan pergi. Untuk apa mereka begini saban hari?? Mengantarkan berita dari pulau seberang? Atau hanya sebentuk permainan anak gelombang yang rindu mencium daratan? Atau peluang kehidupan yang diberikan kepada anak2 karang dibatas antara pasir dan perairan? Peluang apa? Kehidupan apa di batas cakrawala sana? Ada apa dibalik titik terbenamnya sang surya?

Anak2 tukik berlari secepatnya menghindari pemangsa di pasir terbuka. Kemana larinya kalau bukan ke perairan tebuka. Tapi kenapa? Apa sedemikian indahnya lautan itu sehingga bayi2 mungil itupun menggantukan harapannya di sana? Surgakah  itu??

Aku tak tau.

Aku berdiri di tempat favoritku. Menuliskan harapan diatas bentangan kanvas putih yang serba basah dan lembab. Lalu datang anak2 ombak, membaca tulisanku satu persatu, dalam sebentar mereka merekam pesanku.

"Wahai, lautan…
"this whisper comes from the heart within:
seumpama mabuk diriku,
itu karena banyak2 cintaku
Seumpama gila diriku
itu karena mendambamu
seumpama bebas diriku
itu karena bersatu denganmu.

Leave a Reply