Sedih gw

Simak penuturan peneliti dari Institute for
Development and Economic Analysis, Dati Fatimah, yang meneliti soal
alokasi anggaran daerah yang timpang. "Di Kabupaten Ciamis, misalnya,
anggaran 2004 untuk penanganan gizi buruk hanya Rp 10 juta, sementara
jamuan makan pemerintah Rp 4 miliar lebih," kata Dati. (Kompas, 7 Oktober 2006)

Sakit hati aku membaca tulisan itu. Kucoba klarifikasi informasi tersebut dengan akal sehatku.

Hmmm. Sebenarnya masuk akal juga ketika jamuan makan pemerintah bisa sampai Rp. 4 M. Pemerintah kan berada pada deretan tertinggi piramida makanan, so untuk mempertahankan fungsi dan perannya sebagai pengayom masyarakat, pemerintah harus makan banyak. Lagipula, pemerintah kan tidak cuma makan untuk dirinya sendiri, ada tamu negara, tamu propinsi, tamu desa, bahkan tamu Rukun Tetangga. Terlebih lagi, pemerintah kan isinya kumpulan orang hebat dengan otak yang hebat dan kemampuan yang luar biasa, sehingga wajar saja dong kalau jatah makan otak pemerintah pun lebih besar daripada rakyat yang otaknya kebanyakan hanya diasah sampai tingkat SD saja.

Hmmm. Mungkin juga karena kebanyakan makan dan duduk dan diskusi, makanya kebiasaan tidur saat sidang juga tak ilang2. Bisa dimengerti…

Gundulmu! Mana ada orang tidur jatah makannya boleh besar daripada rakyat yang mengangkat cangkul dan menyurung gerobak di gang2 sempit ibukota.

Ada yang lebih urgen Bung, daripada mengadakan selamatan tugu selamat datang. Tidak udah diselamati pun, tugu itu sudah selamat sendiri. Mbok ya melek. Matamu! Balita2 kurang gizi masih banyak, ibu2 hamil beresiko kematian tidak kurang jumlahnya, bapak2 tani yang berpenghasilan kurang dari lima ribu sehari jumlahnya bagai laron di pagi hari.

Melek Bung! Ini jaman bukan untuk membesarkan perut lagi. Kita perlu bekerja, jika tidak ingin generasi ke depan tumpas binasa.

Simak Bung, anggaran belanja daerah adalah milik bersama. Asalnya dari keringat bapak2 tua, mbok2 pedagang kaki lima, tukang2 bangungan, pengemis jalanan, petani gurem di pedesaan.

Eh maaf ding, anda masih berhak menentukan mana yang harus dilakukan, karena anda adalah wakil rakyat, wakil kami juga. Atau kami yang salah dan patut dipersalahkan karena telah memilih kalian.

Mana ada lagi pemimpin yang arif seperti khalifah2 yang mulia dulu, yang memikul sendiri gandumnya untuk ibu2 miskin di tepian kota. Sedih gw

Dan aku adalah bagian dari ketimpangan sosial ini. Sedih gw

Hidup memang anjriiiiiiiiiiiiit!!

One Response to “Sedih gw”

  1. Riza Says:

    apakah kita pernah mendengar berita menyenangkan di negara ini sejak SBY naik tahta??tumbalnya sudah terlalu banyak. bagaimana kalo ke depannya mencalonkan presiden yang mau prihatin saja…haha.

Leave a Reply