Archive for November, 2006

Ketawa seperti anak kecil

Wednesday, November 29th, 2006

"Kadang kita ditertawakan, atau malah tidak tau kalau kita sedang ditertawakan??"

Sebuah cerita dalam perjalanan karir akademisku:

Hari ini -seperti biasa- aku ngetem di Lantai 6, McLennan. Dengan sok gagah -seperti halnya pelajar sungguhan- aku bawa2 komputer dari rumah. Seperti pelajar sungguhan pula, aku penuhi backpack-ku dengan buku, kotak makan siang, dan air minum. {Laga2nya sih seperti mau tinggal di perpus lamaaaa gitu loh}.

Spot terbaik pun sudah kududuki. Pertama-tama yang kulakukan adalah menyambungkan laptop ke colokan di dinding, lalu memasang headset di telinga. Biar bisa konsentrasi dari suara2 kaki yang berlalu lalang di dekatku. {Spot terbaikku itu berada di carrel yang berjajar diantara ribuan buku, jadi di sekitarku banyak orang lalu lalang untuk mengacak-acak buku dirak-rak}.

Menit pertama aku buka yahoo messenger, chatting sebentar dengan teman di ujung benua sana, yang masih ngelayap malam2 jaga warnet. Hiks, kau memang teman yang hebat malam2 masih nyari rejeki pula {Buat yg merasa disinggung jangan Geer}. Seperempat jam pertama aku habiskan untuk melanglang dari satu koran ke koran lain. Sambil senyum kecil2 baca cerita wagu2 dari negeriku. Bahkan ada lagi yang paling wagu: Ki Gendeng mau nyantet Bush, agar tidak menang pemilu. Hahahah..kayanya dia harus menyantet SEMUA simpatisan Partai Republik dan Demokrat di Amerika sana juga. What a waste of time! Mending nyantet gw, supaya cepat selesai kuliah.Hehehehehe

Setengah jam berikutnya, aku sudah asyik dengan email. Ada mbak ini yang nanyain kabar, tante itu yang nanyain utang, bang anu yang ingin kenalan, mas ani yang ngajak gojekan. Wadau rame juga mailbox-ku hari ini. Ketambahan email2 dari milis a,b,c,d,e…x…Wah semarak sempurna. Satu jam berlalu cuma untuk ngebahas itu semua.

Jam berikutnya, aku kebelet beol. Terpaksa lari ke toilet dulu. Waduh, masih harus ngantri juga rupanya. Terpaksa deh ditahan-tahan. Caranya? Ada deh ;) {Bukan pakai nyelipin batu di anus lho yaa…}.

Setelah email, apa lagi? Waduh, rupanya ada lagu baru yang muncul dari mBak Nelly Furtado. Aduh, dengerin dulu ah..Hehehe..satu album habis juga deh akhirnya. Asyiknya sambil nyari2 lirik2nya sehingga bisa ngikutin nada dan iramanya. Na.na.na.na..

Kulirik jam dipojok sebelah kanan dekstop. Ups! Udah jam 2, saatnya kupergi makan siang. Hmmmm, kantin di perpus tidak menyediakan makanan enak. So, aku terpaksa ke SSMU mengunjungi counter Tiki Ming untuk memesan semangkuk sup Wonton. Aduh, hangat dan nikmat. Apalagi dingin2 begini, diiringi hujan rintik2…wah pokoknya nikmat tiada terhingga.

Sejam kemudian balik ke perpus. Aku kok merasa ngantuk. Kayanya harus tidur sebentar deh. Akhirnya mampirlah aku ke pojokan. {DI McLennan ada sleeping corner -itu istilahku- yaitu tempat deretan sofa2 empuk, dimana kita boleh ngapain aja, asal tidak mengeluarkan suara}.

Rasanya tadi aku terpejam sebentar, tapi kok ternyata lama juga ya. Waduh ini sudah jam 4. Aku belum sempat ngetik dan baca apa2.

Akhirnya, kembali juga aku ke spot kerjaku di lantai 6. Dengan bersusah payah kubuka file2 microsoft basi kerjaan kemarin hari. "Oh, my gosh!" aku mendesis. Sejenak tak percaya. Aku masih belum mengedit 50 lembar paperku. Aduh, padahal besok aku ketemu supervisor pula, padahal aku maunya segera selesai pula, padahal..padahal…

"You have a new message" kata YM-ku tiba2. Waaah, rupanya temanku mengupdate blog-nya. Waduh aku juga tidak mau ketinggalan ah.

Gedubrak, akhirnya ngebloglah aku sambil meninggalkan perkerjaan yang tersisa.

"Oh, adinda, kapan kau bisa pulang jika begini caranya??" {Tanya mas-ku sambil megangi kepala}

{Aku cuma nyengir kuda}

Onani intelektual

Friday, November 24th, 2006

Aku punya sedikit masalah. Masalahku adalah:

Aku akan ujian. Kata orang pendadaran. Yaitu ketika semua data dan fakta harus aku kuasai sampai titik koma. Kalau perlu halaman referensinya juga dihapal luar kepala.  Mungkin juga aku harus menghapal ini dan itu karena ini dan itu potensial mengundang pertanyaan. Atau juga aku perlu refer ke ani dan anu, karena ani dan anu adalah pakar di bidangku. Biar dianggap pintar dan bisa lulus ujian, perlu juga kan sering2 kusebut nama ani dan anu. Atau mungkin perlu juga mengutarakan konsep yg dakik-dakik dan muluk-muluk sampai berbusa-busa mulut dan ubun-ubunku.

Gundulmu! Pada akhirnya, aku tidak beroleh apa2. Menjelang ujian pendadaran, dan aku tidak mendapat apa2 selain pengalaman membaca berlembar2 makalah yang melelahkan mata, mengkritik teori2 masa silam, dan mencoba menggali fakta2 yang sudah ada. Mempresentasikan dengan teknologi power point mutakhir, mencoba segagah2nya: Lha wong sudah sepantasnya kan kalau calon sarjana itu gagah dan tau segalanya!

Gombal! Justru pada saat2 seperti inilah, aku temui kekosongan.Pendidikan formal ini cuma mengharapkan ku untuk berpandai2 mengeluarkan isi otakku kedalam mesin ketik dan menjadikannya file2 microsoft word yang rapi jali. Namun sesungguhnya, lipatan2 otakku tidak serapi itu! Otakku ada fantasinya, ada ide jahatnya, ada intriknya, ada nafsu dan angkaranya! Ada cinta dan kesepiannya! Ada keindahan dan kemegahannya! Bagaimana bisa merangkum semia kompleksitas itu dalam sejumlah kertas!! Bahkan libido-ku pun tidak terpenuhi dalam 50 halaman kertas yang berbusa-busa menawarkan hasil karya intelektual.

Sungguh aku tidak puas. Pergaulanku dengan dunia akademik, profesor, guru, buku dan sistem tidak lantas membuatku menjadi tau apa2 yang ingin aku tau. Akhirnya, menjelang pendadaran begini aku cuma meratapi 50 halaman tulisanku tanpa mendapat esensi dan pencerahan berarti. Semua hitam, seperti times new roman yang gundul-gundul dan tidak berirama. Wahai Tuhan, aku ingin keriting!! Aku ingin nuansa! Aku ingin berwarna!

Kenapa tidak kugambar saja karya intelektualku dengan warna2 tinta seperti manusia guwa yang menulis cerita2nya! Mengapa tidak kubikin sendratari saja kapasitas otakku ini seperti Ramayana dan Sinta di Prambanan sana! Ah, setidaknya mbikin sambel terasi masih lebih puas rasaya ketimbang menulis begini….

Wahai Saraswati, aku tidak puas begini. Ini bukan ilmu, bukan pula kekayaan diri. Ini hanya 50 halaman di kertas persegi yang melegitimasiku sebagai sarjana. Pada dasarnya, ini sama sekali tidak menjadikanku sarjana kehidupan, punggawa dari dewa pendidikan dan penerangan. Ini hanya cerita sebuah onani intelektual yang tidak sejati…

Atau aku harus kembali dari titik dimana aku berawal? Menggugat guru TK-ku yang mengajariku membaca setengah memaksa? Menggugat guru SD-ku yang menyuruh menghapal Pancasila tanpa terbata-bata?

Bodoh!
Sekolah bukanlah guru sejati, sebab sang guru sejati tidak akan pernah memproklamirkan diri. Sejak aku dilahirkan Sang Guru Sejati sudah mengaspirasiku untuk bernapas, mengenyot tetek ibu, menangis…semua tanpa aba2….Bahkan bermain cinta pun juga tidak perlu aba2 kan?? Hanya Sang Guru Sejati yang bisa menginspirasi tanpa harus melakukan presentasi.

Aku….cuma sang Onanist intelektual dlm upaya mencari kesejatian. Biar saja apa adanya. Ijinkan aku pisuhi diriku ini, sekali ini….

BusHyeet deh

Monday, November 20th, 2006

"Bismillah..dengan rasa tak sabar, aku ingin menyampaikan gugatan."

Keluargaku sedang dalam gonjang-ganjing. Ayah dan para paman sedang menantikan "tamu"…..

Akhirnya hari itu "dia" datang, setelah diwanai oleh konflik yang tak berujung pangkal dari beberapa anggota keluarga. Ada yang setuju, ada yang menggugat dan menghujat. Bahkan, kebanyakan orang menganggap kedatangannya cuma menimbulkan masalah. Lebih baik tidak pernah menginjakkan kaki di tanah yang sudah turun temurun dari jaman Sriwijaya dan Majapahit dihuni oleh kami sekeluarga *sambil mengepalkan tinju ke udara!!*

Aku bingung. Mungkin aku terlalu naif untuk memahami adat dan tata cara dalam keluargaku. Setahuku, nenek selalu berwanti-wanti untuk menghormati tamu, walau betapa bencinya kita terhadap tamu itu. Seperti halnya Empu Gandring yang menerima kedatangan Ken Arok dengan tangan terbuka, meskipun pada saat itu dia -mungkin- sudah tau bahwa Ken Arok menyimpan kelicikan dan kemunafikan.

"Dia" orang besar. Itu aku tau. Setidaknya wajahnya sering aku lihat di televisi. Dengan kebesarannya pula, dia memang berkuasa. Karena kekuasaannya pula, ayah dan paman-pamanku ketakutan dibuatnya. Mereka ingin menghadirkan yang istimewa untuknya. Taman di depan rumah kami pun di bersihkan, maksudnya pohon2 puluhan tahun pun akan dipangkas. Tukang kebun keluarga bilang kalau "dia" akan datang dengan helikopter. Wah, seumur-umur aku belum pernah meihat helikopter mendarat di kebun rumah kami. Alangkah asyiknya!!

Tapi ibuku menangis, membayangkan baling2nya akan merusak kolam teratai disamping rumah membuat ibu selalu bersedih. Juga kakak perempuanku marah-marah, dia tidak terima karena tidak diijinka ayah untuk membuat keributan di hari H. Bahkan tidak juga untuk berinternetan atau email2an dengan pacarnya di Irak. Kasihan betul kakak perempuanku.

Yang lebih sadis adalah tindakan uwakku, demi menolak kedatangan "dia", uwak menyiapkan santet khusus. Iih serem amat ya. Tapi, bagi aku yang kecil ini, rasanya asyik2 saja melihat uwak memotong kobra, gagak, kambing lalu minum darahnya.Hiiyy… Kakak laki2ku yang sekolah di pesantren bilang, "Itu syirik, namanya. Menyekutukan Allah."

Ah aku tak paham.

Yang jelas, aku libur dari sekolah. Ayah sengaja memerintahkan anak2nya yang masih duduk di bangku sekolah untuk libur. Tiga hari! Wah, enaknya. Aku berencana akan bermain sepak bola dengan teman2 lain di belakang rumah. Biasanya belakang rumah kami menjadi pasar kecil, tempat mbok-mbok bakul menggelar dagangan, lalu tukang2 ojek bersliweran. Tapi kali ini ayah sengaja menutup belakang rumah kami, tidak ada aktifitas ekonomi selama "dia" berkunjung. Semua untuk "dia"

Sebenarnya, dari berita yang kudengar, "dia" cuma berkunjung sebentar. Cuma mampir katanya, setelah seharinya mengunjungi tetangga kami di sebelah utara sana. Tapi, kok ayah dan para paman sibuknya luar biasa. Bahkan, ketika kakak tertuaku menikah, mereka tidak sesibuk ini loh.

Ah, bagi anak kecil seperti aku, pikiranku sederhana saja. Mungkin "dia" terlalu kaya, terlalu gagah. terlalu berkuasa, terlalu mumpuni, dan terlalu arogan untuk bisa mendapat sambutan yang biasa-biasa. Apalagi kalau "dia" datang tanpa mendapat pengawalan, wah bisa jadi sudah jadi dendeng oleh ulah sepupu-sepupuku yang mengacungkan pedang menolak kehadirannya.

Anyhow, yang jelas "dia" tadi sudah datang. Ayah dan paman-paman menyambutnya di beranda. Wah entah apa yang mereka bicarakan, kaku sekali, layaknya bukan seperti teman lama. Bahkan pertanyaan yang ayah ajukan padanya dijawab datar2 saja. Senyumnya seperti menyeringai, mencemooh keluarga kami yang terlampau sederhana. Yah, sudah nasibnya sih kami tidak pernah kaya. Sebenarnya kami punya banyak penghasilan, tapi gimana lagi, wong keluarga kami besar sekali.

Sebagai anak kecil aku memang tidak tahu menahu pembicaraan itu intinya apa. Kok seperti formalitas saja. Diakhir perjumpaan, ayah menjabat tangan "dia". Seolah-olah tersenyum bangga, beberapa wartawan mengambil gambar dan mewawancara. Ai..ai..ai.. kok sepertinya kami sekeluarga jadi tontonan para tetangga. Hahahahahaha

Indahnya perbedaan

Sunday, November 19th, 2006

Kemarin aku nongkrongin Parade Santa Claus. Sebuah parade tahunan yang datang lebih awal tahun ini. Masih 18 November, bok! Tapi kayanya Montreal sudah siap menyambut kedatangan Santa dengan kereta salju dan para kurcacinya.

Paradenya ramai sekali. Berbagai elemen masyarakat turut serta berparade, berkostum, berjingkeakan, bersuka cita. Wah, aku pun juga jadi hanyut dalam suasana. Meski sedikit mendung dan dingin, ah tidak ada yang mau beranjak sebelum parade selesai. Alhasil terpaksa berdesak-desakan. Semua etnis tumplek blek: yang ada didepanku orang Filipina, disampingnya orang Perancis, di belakangku Orang Jepang dan Arab, di kananku orang Afrika, di kiriku orang Brazil -Amerika Selatan-. Aha!!

Yah itulah Montreal. Terlalu banyak perbedaan, terlalu banyak perayaan, dan terlalu banyak festifal. Herannya, meskipun banyak perbedaan, Montreal tidak lantas menjadi chaotic dan penuh huru-hara. Melainkan semakin manis dan mempesona.

Bayangin, setiap tahunnya ada kurang lebih 30 festifal di Montreal. Apa saja dijadikan festifal. Mulai dari Festifal Natal (Christmast in the Garden or Santa Claus festifal), festifal Jazz, festifal Gay (gay pride), festifal anak2 (Fete des Enfants), festifal kembang api, festifal lampion (Lantern in Chinesse Garden), festifal musik Arab, festifal musik ritmik, festifal film porno (hahhahaha). Pokoknya ada2 saja.

Uniknya lagi, ketika ada satu festifal, semua orang (hitam, putih, kuning, pendek, tinggi, gendut, kurus, botak gondrong), semuanya boleh ikutan or nonton! N gratis! Contonya: aku seorang Muslim, tapi nonton festifal Santa, nonton festifal pumkin menyambut Haloween, festifal Summer Solistice (adatnya Romawi), dst, dst..

Anyway, ini lah yang jadi cerita manis tentang Montreal, disamping semua tangis bombay tersedu sedan ditengah ngerjain paper, peer, tugas, dan merindukan Sang Kekasih… uhuk..uhuk..

Andai saja pluralisme di Indonesia bisa sedemikian indahnya…

Tapi sudah ding, Indonesia pernah membuktikan keindahan hidup dalam pluralisme dan perbedaan. Remember: kita pernah punya lagu Satu Nusa Satu Bangsa, kita punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika, kita punya Ketuhanan Yang Maha Esa.

Siapa sangka Indonesia pernah demikian indahnya…

Ah, Indonesia memang pantas dicintai.

Negeri yang aneh

Wednesday, November 15th, 2006

Di negeri ini, anak-anak kecil perutnya buncit, malnutrisi dan kena infeksi. Infeksinya bisa apa saja: mulai cacing tambang, cacing gelang, sampai panu dan malaria. Namun anak-anak tetaplah anak-anak, inguspun dijadikan mainan, tak bebaju tetap juga berlarian di kolong jembatan. "Hide and seek" bersama teman2. Ah, mungkin "hide and sick" bersama malaikat kematian.

Di negeri ini, perempuan-perempuan muda melacurkan diri di pinggir sungai. Tidak apa-apa, katanya. Yang penting asap mengepul dari dapur rumah tangga, syukur-syukur bisa beli bedak dan beha. Tapi wanita tetaplah wanita, kalau haid tiba sudah tidak bisa apa-apa. Ah, jangan-jangan tidak makan pula. Kasihan.

Di negeri ini, kere-kere pada musim tertentu bisa bersuka cita. Yaitu musimnya demonstrasi dan anarkhi yang menyulut pada kerusuhan massa. Semakin besar kerusuhan, semakin banyak hasil jarahanan. Itu katanya. Walau pada akhirnya, kere-kere pula yang masuk penjara. Hah! Memang biasa, aktor intelektual memang terlalu pintar menampakkan wujud fisiknya. Atau, jangan2 aktor intelektual itu tidak pernah ada? Artinya, memang kere lah yang mendalangi anarkhi itu sendiri. Ironi.

Di negeri ini, laki-laki baik dan lugu pun bisa menjadi eksekutor paling sadis. Coba saja, siapa yang menyangka kalau M.Nuh bisa merakit bom bunuh diri, siapa yang menyangka Imam Samudera menjadi dalang bencana. Kala itu….

Di negeri ini, kereta-kereta pedati sudah tidak berfungsi lagi, becak sudah terpinggirkan, andong hanya untuk keperluan wisata. Semua mengarah keserbacepatan dan keserbamewahan; walau akhirnya cuma menimbulkan polusi dan kemacetan. Katanya, busway pun ikut-ikutan menjadi penyebab mampetnya jalana ibukota. Siapa sangka.

Di negeri ini, kita bisa mati kapan saja dengan cara apa saja. Keluar rumah di sambar truk nyelonong karena kelebihan muatan sudah biasa, terlindas diperlintasan kereta karena sopir tidak waspada sudah banyak ceritanya, dibunuh saudara karena rebutan harta warisan sudah jamak adanya.  Nyawa manusia tak lebih berharga daripada sekotak mi dan sepiring nasi. Kayanya.

Pemerintah ribut-ribut urusan pornografi, ribut-ribut urusan hukum syar’i, bahkan terakhir ini ribut-ribut kedatangan diktator tunggal jagad raya dari Amerika sana. Tapi ya begitu itu pemerintahan dalam negeri kami, Sepi ing gawe rame ing pamrih.

Fly Away Home

Sunday, November 12th, 2006

"Thanks for those who inspire me with the values of hardwork and the passion of integrity."

Hari ini aku menonton filem documenter tentang sekelompok ilmuwan di Kanada yang berusaha menyelamatkan populasi burung angsa crane (Cygnus sp). Angsa besar yang bentangan sayapnya lebih dari 1 meter.

Berawal pada tahun 1941, pada saat itu burung cranes menjadi sangat langka, hanya terdapat 15 burung dalam satu kawanan (flock). And this was the ONLY flock at the time.

Satu flock ini bermigrasi secara tahunan dari Kanada ke Texas, dengan tempat dan rute yang sama. Namun, masalahnya, di dunia ini hanya terdapat satu kawanan (flock). Jika terjadi apa2 terhadap kawanan itu, maka habislah populasi burung angsa besar ini di dunia.

Pada tahun 1994, dimulailah usaha conservationists untuk mengembalikan populasi burung cranes. Mereka berusaha menambah jumlah flock. Serta mengubah pola migrasi sehingga nantinya flock2 tersebut tidak hanya migrasi dengan satu rute (Kanada-Texas), melainkan ke rute2 yang lain. Tantangan terbesarnya adalah: mengubah pola migrasi yang sudah terbentuk sejak 160 milyar tahun!! Ini merupakan pola migrasi yang diturunkan dalam populasi burung2 itu secara turun menurun. Burung2 muda akan belajar dari orang tua-nya tempat dia dilahirkan dan rute dimana dia harus bermigrasi.

So, ide dasar para ilmuwan itu adalah memberi memori baru pada generasi baru burung2 cranes. Mereka menetaskan telur2 cranes di tempat penampungan. Sejak kecil burung2 itu dibiasakan dengan surrogate parents (manusia yang menyamar sebagai burung cranes), lengkap dengan kostum dan paruh buatan.

Selain itu, sejak kecil burung2 itu dibiasakan untuk mendengar suara gantole (Pesawat ringan berawak manusia yang bisa terbang rendah). Pesawat gantole ini lah yang akan mengajak kawanan baru tersebut bermigrasi dengan rute baru. So, a man will fly  with a flock! Manusia akan mengajak burung2 bermigrasi. What a weird!

Tapi, ini kejadian betulan. Sejak didirikannya Migration Operation di tahun 1994, para surrogate parents berhasil mengajak burung2 cranes bermigrasi ke tempat yang baru, menunjukkan rute2 baru yang belum pernah dikenal oleh nenek moyang burung cranes sebelumnya. Hasil kerja keras mereka berhasil dengan gemilang. Saat ini jumlah burung cranes yang berhasil dikembalikan kehabitatnya ada 400-an ekor, dan diperkirakan masih membutuhkan 20tahun kerja keras untuk mengembalikan jumlahnya agar stabil dari kepunahan.

Wow! Aku speechless deh liat filem ini. Benar2 usaha yang luar biasa dan berdedikasi tinggi yang dilakukan oleh para conservationist di North America sana. Benar2 suatu pembuktian bahwa manusia diberikan kelebihan oleh Allah untuk menjadi khlaifah. Subhanallah…

P/S Filemnya berjudul Fly Away Home. Wajib nonton bagi para conservationist!

Investasi Abadi

Tuesday, November 7th, 2006

Hari ini gw dapet email dari teman gw, asalnya dari salah satu milis. Emailnya singkat saja, intinya begini, investasilah di http://www.investasiabadi.com. Pertama liat email ini, gw langsung aja curiga. Maklum, gw pernah punya pengalaman yg ga enak dengan inves2 beginian.

Ceritanya gini, mungkin sekitar setahun yg lalu, gw nyoba2 www.12daily.com. Ga banyak sih uang yg gw investasikan, tp cukup lah buat beli pulsa sampai telinga berdenging. Hiks.

Gw rutin ngikutin aja ‘cara main’ di website itu, belajar gimana caranya surfing dll. Emang sih pertama2nya jumlah uang gw nambah, tapi dikiit banget. Cuma sekitar 0.6 % dari nilai investasi gw.

Selang beberapa minggu, lha dalah, website-nya tiba2 tutup. Wekekekeke ternyata ketipu gw nih. Katanya sih ada masalah internal perusahaan itu, bahkan melibatkan proses hukum segala. Wadau, ngeri kan?? Akhirnya perusahaan jadi2an itu tutup, dan uang gw amblas. Hahahaha..padahal gw udah berencana muluk2 kalau uang itu mejadi 12 kali lipat seperti dijanjikan, gw mau beli tiket agar mas bisa nyusul gw. *Ada2 saja*

Setelah kejadian itu, gw selalu wanti2 pada teman2 yg mau investasi online -apa saja- agar berhati2. Jika tidak tau betul sistem dan kredibilitas perusahaan lebih baik GAK USAH deh.

Waktu gw inves di 12daily.com, gw cuma ikut2an aja sih. Temanku -lumayan- sukses di bidang yang sama. Hehehe itu karena dia tau mensiasatinya, sementara gw gagal total karena gw gak paham sama sekali sistemnya. Uang amblas, kesalnya bertumpuk2. Yang paling ngeselin adl sudah "njagak-ke" mau beli tiket buat mas.

Eh, lha kok Tuhan itu Maha Pemberi Kejutan. Ada saja cara Tuhan untuk membuatku tersenyum. Setelah gagal dalam bisnis bohong2an, alhamdulillah, mas malah dapat rejeki dari sumber yang lain shg bisa beli tiket. Hihihihihi.. kaya kejatuhan durian deh.

Mulai saat itu, gw sudah jauh2 dengan yg namanya investasi online yg kagak jelas juntrunganya gitu. Kagak ada yg namanya uang nganggur dan kerja mudah, lalu kekayaan jadi berlimpah. Sumpeh deh! Kalau mau kaya, kerja itu wajib. Biasanya siy, perusahaan2 online itu cuma mengeruk uang kita, lalu dibawa lari entah kemana. Ada aja cara mereka untuk meninabobokan mangsa.

So, jika ada teman2 yang pernah atau akan menjadi korban dari investasi2 ga bener seperti itu, belajarlah dari pengalaman gw. Emang pahit dan malu2in sih, tapi gw membuka cerita gw ini biar teman2 tidak ada yg keblinger. Itung2 amal ma’ruf nahi munkar gitu loh..hehehhehe. Prinsipnya satu: kalau mau makan ya kerja, meras otak keluar keringat.

Terus, hari ini gw juga baca perdebatan sengit mengenai Maxgain (Perusahaan non-online yang ngakunya investasi, Forex gitu). Nada2nya sih, Maxgain ini menipu banyak orang dengan ngaku2 dijadiin karyawan, padahal disuruh jadi investor. Ah, ini menambah keyakinan gw, bahwa buannyaak bisnis2 investasi online/non-online yg ga bener. So, bagiku sendiri, saatnya jauh2 dari iming2 gituan deh.

Nah, kira2 www.investasiabadi.com itu perusahaan investasi beneran ga ya? Hehehe, jangan2 uang kita bener diinvestasikan secara ABADI alias ga balik2.

Dunia maya memang berbahaya!!

Ngedumel, ngomel, sambil nyanyi, fals pula

Friday, November 3rd, 2006

Jaman dulu, paling suka lihat acara sidang umum mpr di masa pemerintahan Suharto. Suka ketawa dengan sinis kalau liat para bapak-ibu pakai jas safari rapi, tapi ketika di syuting kelihatan lagi tidur, ngiler lagi. hehehehe.. mungkin karena kecapekan kali ya.

Terus lucu banget waktu mereka ngomong; kadang pakai istilah begini: "Menggaris bawahi.." heheheh kayanya mereka bawa garisan banyak banget kali ya.

Nah, paling heboh kalau udah muncul paduan suara wakil rakyat. Dialog kasarannya begini:
"Setuju ga Suharto jadi presiden?"
"Setujuuuu uuuu uuuu uuuu."
Heheheh jadi inget ama Dedi Dhukun (tapi ga ada hubungannya, nih)

Tapi sekarang udah beda kali ya? Kan udah jamannya pasca-reformasi. Insya Allah, para wakil rakyat tidak lagi menjadi aristokrat2 kecil di tengah Indonesia yang Maha Besar.

Dengan pesimis suamiku bilang: "Pemerintah Indonesia itu secara default adalah pemerintahan patron yang memerintah dengan gaya2 raja2 dan ratu2 jaman batu. Dimana kekuasaan berada pada sekelompok orang, dan kemiskinan menjadi kewajiban mutlak bagi rakyat."

Pemerintahan patron ini secara kultur maupun historis akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan pemerintahan demokratis seperti negara2 di Amerika Utara. Di negara2 itu, pemerintahan hadir karena rakyat -para imigran- butuh sebuah organisasi untuk melayani kebutuhan mereka. Dengan kata lain, secara default negara2 imigran itu memiliki pemerintahan demokratis.

Nah, ide demokratisasi ini kalau diterapkan di Indonesia, bisa jadi kacau balau -kaya sekarang-. Kenapa? Karena demokrasi datang terlambat. Penguasa sudah terlanjur menjadi tuhan2 kecil di sistem pemerintahan Indonesia Yang Maha Esa.

So? So?

Mengubah Indonesia menjadi lebih demokratis? Bisa. Asalkan, pemerintah-nya mengubah setting default dari patronisme menjadi service-centered. Yah, bukan hal yang mudah sih. Menginstal paradigma berpikir baru yang mengubah paradigma kuno tidak akan pernah mudah. Mungkin seribu Bandung Bondowoso pun tidak akan mampu menegakkan candi2 demokrasi di negeri ini. Wiiih sadis.

Tulisan tidak berguna

Wednesday, November 1st, 2006

"Selalu lebih gelap ketika lampu baru saja dimatikan.."

Sekarang sudah beberapa saat sesudah lampu dimatikan, aku sudah menghela napas dan mengambil jeda. Maka, life goes on, dan saatnya untuk tersenyum lagi melihat dunia. Ah, bersyukurnya aku masih punya mata.

Dan….mataku pun tertumbuk pada sebuah rak yang menyediakan berderet2 tauge kedelai di toko cina. Kim Phat nama tokonya. Aku belum pernah sesensitif ini melihat tauge, tapi hari ini, tauge benar2 menggugah rasa kemanusiaanku!! *sambil mengepalkan tangan ke udara*

Tauge adalah kecambah. Dalam bahasa SPT (nama mata kuliah di Biologi, kepanjangan dari Struktur dan Pertumbuhan Tumbuhan), kecambah dihasilkan dari perpanjangan plumula, radicula, caulicula yang kesemuanya itu adalah stem cell kehidupan. Kalau dalam bahasa manusia, kecambah itu bisa disamakan sebagai  ‘infants’ atau baby  yang usianya masih sangat muda, mungkin sekitar 1 atau 2 hari.

Nah, yang aku lihat hari ini adalah kecambah kedelai. Cara membuatnya aku sudah tau: kedelai dicuci, ditiriskan, lalu disiram tiap hari, maka baby-baby kedelai akan muncul. Kebayang ga sih betapa sadisnya, kita sengaja mengecambahkan kedelai, menghidupkan sang embrio, memberinya kesempatan untuk bernafas lalu dengan sengaja membunuh dan memakannya dalam usia yang masih muda.

Andai saja kecambah2 itu seperti manusia yang bisa merasakan sakit, pasti mereka sangat nelangsa. Bayangin deh, pertama, biji2 yang mengandung embrio itu dicuci di air dingin..bbbrrrr.. pasti sangat dingin  bagi -seekor- embrio. Lalu tiba2 saja ditempatkan di wadah yang ditutup dengan kain agar tidak terkena sinar matahari (sinar matahari membuat batang tauge jadi pendek2). Embrio2 itu terus disiram sampai menjadi baby kedelai. Sesudah menjadi baby kedelai, tiba2 mereka diekspose dengan sinar dan kulit2nya dihilangkan dengan cara dicuci terus menerus, kadang sampai diremes2 sehingga batangnya ada yang hancur. Lalu akar2nya dipotong.  Ih sadis.

Then, baby2 itu dikemas berdesak2an di dalam wadah plastik dan dipajang di toko sayuran. Hiks, tidak ada kesempatan buat tumbuh atau  benafas. Kalau perlu bahkan manusia memfrozenkan baby2 kecambah itu biar tahan lama. Brutal.

Nah, yang lebih ngeri cara makannya. Orang2 barat memakan tauge mentah: artinya memakan baby2 kedelai hidup2. Mereka menyebutnya salad. Hiks..salad kok ngeri gitu ya. Coba seandainya baby2 kedelai itu punya darah, pasti kalau digigit udah berlepotan merah gigi2 manusia yang memakannya. Ngeri deh pokoknya.

Kalau di restoran China, chef akan langsung memasukkan baby2 kedelai itu ke dalam wok (wajan) panas menyala. Seketika jadi garing dan keriting. Hiiiy..kematian oleh luka bakar yang hebat. Lalu anak2 manusia memakannya dengan suka cita. Sadis bin brutal.

Namun, katanya memakan makhluk hidup itu normal sih. Bahkan dalam ilmu biologi sampai ada istilah piramida makanan dan jaring2 makanan.

Dan kayanya.. yang tidak normal itu otakku. Masak baby kedelai saja dijadikan bahan tulisan.

*Ada2 saja*