BusHyeet deh
"Bismillah..dengan rasa tak sabar, aku ingin menyampaikan gugatan."
Keluargaku sedang dalam gonjang-ganjing. Ayah dan para paman sedang menantikan "tamu"…..
Akhirnya hari itu "dia" datang, setelah diwanai oleh konflik yang tak berujung pangkal dari beberapa anggota keluarga. Ada yang setuju, ada yang menggugat dan menghujat. Bahkan, kebanyakan orang menganggap kedatangannya cuma menimbulkan masalah. Lebih baik tidak pernah menginjakkan kaki di tanah yang sudah turun temurun dari jaman Sriwijaya dan Majapahit dihuni oleh kami sekeluarga *sambil mengepalkan tinju ke udara!!*
Aku bingung. Mungkin aku terlalu naif untuk memahami adat dan tata cara dalam keluargaku. Setahuku, nenek selalu berwanti-wanti untuk menghormati tamu, walau betapa bencinya kita terhadap tamu itu. Seperti halnya Empu Gandring yang menerima kedatangan Ken Arok dengan tangan terbuka, meskipun pada saat itu dia -mungkin- sudah tau bahwa Ken Arok menyimpan kelicikan dan kemunafikan.
"Dia" orang besar. Itu aku tau. Setidaknya wajahnya sering aku lihat di televisi. Dengan kebesarannya pula, dia memang berkuasa. Karena kekuasaannya pula, ayah dan paman-pamanku ketakutan dibuatnya. Mereka ingin menghadirkan yang istimewa untuknya. Taman di depan rumah kami pun di bersihkan, maksudnya pohon2 puluhan tahun pun akan dipangkas. Tukang kebun keluarga bilang kalau "dia" akan datang dengan helikopter. Wah, seumur-umur aku belum pernah meihat helikopter mendarat di kebun rumah kami. Alangkah asyiknya!!
Tapi ibuku menangis, membayangkan baling2nya akan merusak kolam teratai disamping rumah membuat ibu selalu bersedih. Juga kakak perempuanku marah-marah, dia tidak terima karena tidak diijinka ayah untuk membuat keributan di hari H. Bahkan tidak juga untuk berinternetan atau email2an dengan pacarnya di Irak. Kasihan betul kakak perempuanku.
Yang lebih sadis adalah tindakan uwakku, demi menolak kedatangan "dia", uwak menyiapkan santet khusus. Iih serem amat ya. Tapi, bagi aku yang kecil ini, rasanya asyik2 saja melihat uwak memotong kobra, gagak, kambing lalu minum darahnya.Hiiyy… Kakak laki2ku yang sekolah di pesantren bilang, "Itu syirik, namanya. Menyekutukan Allah."
Ah aku tak paham.
Yang jelas, aku libur dari sekolah. Ayah sengaja memerintahkan anak2nya yang masih duduk di bangku sekolah untuk libur. Tiga hari! Wah, enaknya. Aku berencana akan bermain sepak bola dengan teman2 lain di belakang rumah. Biasanya belakang rumah kami menjadi pasar kecil, tempat mbok-mbok bakul menggelar dagangan, lalu tukang2 ojek bersliweran. Tapi kali ini ayah sengaja menutup belakang rumah kami, tidak ada aktifitas ekonomi selama "dia" berkunjung. Semua untuk "dia"
Sebenarnya, dari berita yang kudengar, "dia" cuma berkunjung sebentar. Cuma mampir katanya, setelah seharinya mengunjungi tetangga kami di sebelah utara sana. Tapi, kok ayah dan para paman sibuknya luar biasa. Bahkan, ketika kakak tertuaku menikah, mereka tidak sesibuk ini loh.
Ah, bagi anak kecil seperti aku, pikiranku sederhana saja. Mungkin "dia" terlalu kaya, terlalu gagah. terlalu berkuasa, terlalu mumpuni, dan terlalu arogan untuk bisa mendapat sambutan yang biasa-biasa. Apalagi kalau "dia" datang tanpa mendapat pengawalan, wah bisa jadi sudah jadi dendeng oleh ulah sepupu-sepupuku yang mengacungkan pedang menolak kehadirannya.
Anyhow, yang jelas "dia" tadi sudah datang. Ayah dan paman-paman menyambutnya di beranda. Wah entah apa yang mereka bicarakan, kaku sekali, layaknya bukan seperti teman lama. Bahkan pertanyaan yang ayah ajukan padanya dijawab datar2 saja. Senyumnya seperti menyeringai, mencemooh keluarga kami yang terlampau sederhana. Yah, sudah nasibnya sih kami tidak pernah kaya. Sebenarnya kami punya banyak penghasilan, tapi gimana lagi, wong keluarga kami besar sekali.
Sebagai anak kecil aku memang tidak tahu menahu pembicaraan itu intinya apa. Kok seperti formalitas saja. Diakhir perjumpaan, ayah menjabat tangan "dia". Seolah-olah tersenyum bangga, beberapa wartawan mengambil gambar dan mewawancara. Ai..ai..ai.. kok sepertinya kami sekeluarga jadi tontonan para tetangga. Hahahahahaha
November 20th, 2006 at 10:13 am
nih bude ..aneh makin lama makin aneh !
November 20th, 2006 at 4:52 pm
Mmg Bushyett dahh… hehe.
gak tau jg tuh, kok ayah n paman2, uwak2 n bude2 itu gak malu ya, menyambut tamu yg gak tau malu itu secara berlebihan n bikin orang serumah jd bahan tertawaan tetangga, hehe.
November 20th, 2006 at 5:45 pm
ya ya,..sebaiknya didoakan yang terbaik saja untuk itu semua..hehe. namanya juga tamu, datang sekali, ok aku mengerti, datang dua kali (masih menyebalkan) ok kamu khan kuperingatkan, datang ketiga kali dan masih menyebalkan (pukul aja!!!!)