Ngedumel, ngomel, sambil nyanyi, fals pula
Jaman dulu, paling suka lihat acara sidang umum mpr di masa pemerintahan Suharto. Suka ketawa dengan sinis kalau liat para bapak-ibu pakai jas safari rapi, tapi ketika di syuting kelihatan lagi tidur, ngiler lagi. hehehehe.. mungkin karena kecapekan kali ya.
Terus lucu banget waktu mereka ngomong; kadang pakai istilah begini: "Menggaris bawahi.." heheheh kayanya mereka bawa garisan banyak banget kali ya.
Nah, paling heboh kalau udah muncul paduan suara wakil rakyat. Dialog kasarannya begini:
"Setuju ga Suharto jadi presiden?"
"Setujuuuu uuuu uuuu uuuu."
Heheheh jadi inget ama Dedi Dhukun (tapi ga ada hubungannya, nih)
Tapi sekarang udah beda kali ya? Kan udah jamannya pasca-reformasi. Insya Allah, para wakil rakyat tidak lagi menjadi aristokrat2 kecil di tengah Indonesia yang Maha Besar.
Dengan pesimis suamiku bilang: "Pemerintah Indonesia itu secara default adalah pemerintahan patron yang memerintah dengan gaya2 raja2 dan ratu2 jaman batu. Dimana kekuasaan berada pada sekelompok orang, dan kemiskinan menjadi kewajiban mutlak bagi rakyat."
Pemerintahan patron ini secara kultur maupun historis akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan pemerintahan demokratis seperti negara2 di Amerika Utara. Di negara2 itu, pemerintahan hadir karena rakyat -para imigran- butuh sebuah organisasi untuk melayani kebutuhan mereka. Dengan kata lain, secara default negara2 imigran itu memiliki pemerintahan demokratis.
Nah, ide demokratisasi ini kalau diterapkan di Indonesia, bisa jadi kacau balau -kaya sekarang-. Kenapa? Karena demokrasi datang terlambat. Penguasa sudah terlanjur menjadi tuhan2 kecil di sistem pemerintahan Indonesia Yang Maha Esa.
So? So?
Mengubah Indonesia menjadi lebih demokratis? Bisa. Asalkan, pemerintah-nya mengubah setting default dari patronisme menjadi service-centered. Yah, bukan hal yang mudah sih. Menginstal paradigma berpikir baru yang mengubah paradigma kuno tidak akan pernah mudah. Mungkin seribu Bandung Bondowoso pun tidak akan mampu menegakkan candi2 demokrasi di negeri ini. Wiiih sadis.
November 5th, 2006 at 5:19 pm
demokratisasi secara default. aku belum pernah menemukan setting apapun selalu dalam keadaan default. perubahan-perubahan yang selalu terjadi mengemukakan bahwa default system selalu tidak terjadi. ya to…!! menurutku yang harus diperbaiki dulu adalah para pemimpinnya, leaders of the country….moralitas dan mentalitas yang baik harus menjadi dasar…..