Onani intelektual
Aku punya sedikit masalah. Masalahku adalah:
Aku akan ujian. Kata orang pendadaran. Yaitu ketika semua data dan fakta harus aku kuasai sampai titik koma. Kalau perlu halaman referensinya juga dihapal luar kepala. Mungkin juga aku harus menghapal ini dan itu karena ini dan itu potensial mengundang pertanyaan. Atau juga aku perlu refer ke ani dan anu, karena ani dan anu adalah pakar di bidangku. Biar dianggap pintar dan bisa lulus ujian, perlu juga kan sering2 kusebut nama ani dan anu. Atau mungkin perlu juga mengutarakan konsep yg dakik-dakik dan muluk-muluk sampai berbusa-busa mulut dan ubun-ubunku.
Gundulmu! Pada akhirnya, aku tidak beroleh apa2. Menjelang ujian pendadaran, dan aku tidak mendapat apa2 selain pengalaman membaca berlembar2 makalah yang melelahkan mata, mengkritik teori2 masa silam, dan mencoba menggali fakta2 yang sudah ada. Mempresentasikan dengan teknologi power point mutakhir, mencoba segagah2nya: Lha wong sudah sepantasnya kan kalau calon sarjana itu gagah dan tau segalanya!
Gombal! Justru pada saat2 seperti inilah, aku temui kekosongan.Pendidikan formal ini cuma mengharapkan ku untuk berpandai2 mengeluarkan isi otakku kedalam mesin ketik dan menjadikannya file2 microsoft word yang rapi jali. Namun sesungguhnya, lipatan2 otakku tidak serapi itu! Otakku ada fantasinya, ada ide jahatnya, ada intriknya, ada nafsu dan angkaranya! Ada cinta dan kesepiannya! Ada keindahan dan kemegahannya! Bagaimana bisa merangkum semia kompleksitas itu dalam sejumlah kertas!! Bahkan libido-ku pun tidak terpenuhi dalam 50 halaman kertas yang berbusa-busa menawarkan hasil karya intelektual.
Sungguh aku tidak puas. Pergaulanku dengan dunia akademik, profesor, guru, buku dan sistem tidak lantas membuatku menjadi tau apa2 yang ingin aku tau. Akhirnya, menjelang pendadaran begini aku cuma meratapi 50 halaman tulisanku tanpa mendapat esensi dan pencerahan berarti. Semua hitam, seperti times new roman yang gundul-gundul dan tidak berirama. Wahai Tuhan, aku ingin keriting!! Aku ingin nuansa! Aku ingin berwarna!
Kenapa tidak kugambar saja karya intelektualku dengan warna2 tinta seperti manusia guwa yang menulis cerita2nya! Mengapa tidak kubikin sendratari saja kapasitas otakku ini seperti Ramayana dan Sinta di Prambanan sana! Ah, setidaknya mbikin sambel terasi masih lebih puas rasaya ketimbang menulis begini….
Wahai Saraswati, aku tidak puas begini. Ini bukan ilmu, bukan pula kekayaan diri. Ini hanya 50 halaman di kertas persegi yang melegitimasiku sebagai sarjana. Pada dasarnya, ini sama sekali tidak menjadikanku sarjana kehidupan, punggawa dari dewa pendidikan dan penerangan. Ini hanya cerita sebuah onani intelektual yang tidak sejati…
Atau aku harus kembali dari titik dimana aku berawal? Menggugat guru TK-ku yang mengajariku membaca setengah memaksa? Menggugat guru SD-ku yang menyuruh menghapal Pancasila tanpa terbata-bata?
Bodoh!
Sekolah bukanlah guru sejati, sebab sang guru sejati tidak akan pernah memproklamirkan diri. Sejak aku dilahirkan Sang Guru Sejati sudah mengaspirasiku untuk bernapas, mengenyot tetek ibu, menangis…semua tanpa aba2….Bahkan bermain cinta pun juga tidak perlu aba2 kan?? Hanya Sang Guru Sejati yang bisa menginspirasi tanpa harus melakukan presentasi.
Aku….cuma sang Onanist intelektual dlm upaya mencari kesejatian. Biar saja apa adanya. Ijinkan aku pisuhi diriku ini, sekali ini….
November 24th, 2006 at 10:20 am
Nice posting Eka!!! I like it, as always
Thanks for the reminder, indeed, ilmu pengetahuan tidak lebih dari setetes air di samudra luas. There are so many things beyond our imagination. Anyway, goodluck with the final presentation!
November 26th, 2006 at 7:35 pm
Tenang mba,..sebruwet-bruwetnya otak, dan sehentak-hentaknya cemas ketika berlebihan beban,..sesungguhnya disitulah kita berfikir bukan?
sukses deh untuk final examnya!! selamat datang di dunia ilmu pengetahuan yang sedikit lebih tinggi mba…