Archive for December, 2006

Ijinkan aku ngeblog seribu tahun lagi

Sunday, December 24th, 2006

Hampir pasti, aku akan menulis blog-ku dari lokasi yang berbeda. Mungkin dari puncak Merapi, atau dari hangatnya pantai di Bali. Mimpi.

—————————————————————–

"Selama ini kamu ngeblog buat apa?"

Ngeblog adalah mengisi kekosongan setelah bengong mengerjakan tugas yang berkepanjangan.

Ngeblog adalah tradisi, untuk mengeluarkan unek2 tentang bangsa yang hampir mati, kondisi yang statis, dan kehidupan yang tiada berguna lagi. Tradisi seorang pengamat gila di menaranya yang seperti kaca di negara kutub utara.

Demikianlan kata seorang Indonesian yang putus asa.

"Lalu apa yang akan kau keluahkan lagi tentang bangsamu? Tidak puaskah kau sudah memaki-makinya dalam ribuan kilobyte memori komputermu?"

Sepertinya tidak. Sepertinya  aku tidak akan berhenti memaki.

Maka, ijinkan pula aku ngeblog seribu tahun lagi. Sekedar untuk mengeluarkan kata2. Yang paling tidak beraturan pun tak apa. Untuk memaknai segala peristiwa. Mulai tenggelamnya Aceh Raya sampai hancurnya Jogjakarta.

Maka biarkan blog ini menjadi saksi, bahwa negeriku akan ditenggelamkan bumi sebentar lagi. Bencana di darat dan di masyarakat, sudah membuatnya demikian sekarat.

Aku biarkan blog ini, sekedar  mengomentari, mengomeli, menasihati, menyampah, dan menyumpah.

Lalu jika saatnya aku kembali, menunggui negeri yang sekarat itu. Biarkan pula aku ngeblog lagi, untuk mendokumentasikan sakaratul maut. Untuk merintih, menghiba, menangis terkencing2 bersama rakyat2 jelata.

"Apa tak takut engkau pada lumpur, banjir, tanah, darah, dan nanah?"

Gentarpun tak apa. Blog-ku akan lebih menggentarkan. Membuat mereka tidak berdaya dalam sumpah serapah kata2. Siapa tau mereka menyerah dalam semburan ludah.

"Mereka siapa, maksudmu?"

Ya mereka, yang bebal otaknya. Yang duduk di singgasana, sementara para jelata bergelut dengan lumpur jelaga. Kau pikir, adil itu namanya? Maka, biar saja blog-ku mengumpatnya.

Legalisasikan aku, untuk bicara sekenanya….

Pada sebuah kapal*

Saturday, December 23rd, 2006

"Perjalanan, betapapun dekatnya, telah membuat orang berubah. Meski hanya berubah tempat dan waktu. Memanglah jati manusia adalah perubahan……….."

Ya, aku sudah berubah.

Tidak bisa disamakan lagi dengan aku dua tahun yang lalu, yang masih mengandalkan kedua orang tuaku. Mengandalkan sarapan, makan pagi, dan makan malam dari ibuku. Mengandalkan antar-jemput bapakku. Dan mengandalkan tawa riang adikku untuk menghiburku.

Tidak muluk2, kini berani aku katakan: aku BISA mengurus diriku. BISA mengurus suamiku!

Benar kata orang, "Sebuah cobaan, jika tidak membuatmu mati, akan membuatmu lebih kuat".

Aku telah berjalan, aku telah berproses, dan aku telah mengadakan perubahan.

Satu yang belum dan mungkin tidak akan berubah: Cinta dan kecintaan.

Cinta terhadap ayah/ibu, adik. Cinta terhadap emas. Cinta terhadap kehidupan.

Dan, kini pada sebuah kapal. Kupercayakan perjalananku. Tidak usah muluk2, aku hanya ingin kembali… ke pangkuan ibu-ku, ke belaian suami-ku, kepada ketegasan ayah-ku, dan kemanjaan adik-ku. Sesuatu yang kekal dan abadi…melekat dalam memori menjadi jati diri.

Maka pada sebuah kapal, kupercayakan perjalananku: Untuk menemukan kehidupanku kembali…………………..

Menyambut hari baru

Wednesday, December 20th, 2006

"Nduk cah ayu, sigaraning nyawaku sing tak tresnani, ono opo?"

Bukankah mas sudah menepati janji mas? Satu setengah tahun mas sudah menunggu, dan bukankah layak jika mas berbahagia? Namun, gerangan apakah yang membuatmu bermuram durja? Kerisauan apakah yang kau tanggung dalam kediamanmu itu?

Nduk, mas tidak berada dalam posisi untuk bisa mengerti kegundahanmu. Baiklah, mungkin ringkasnya begini: Nduk mengkhawatirkan kesejahteraan material ketika sampai di negeri kita lagi. Tak cuma debu dan lumpur yang akan kau pegang, bahkan keringat dan kerja keras akan kau jalani setiap hari. Tak jarang, justru malah kedongkolan hati yang akan kau hadapi.

Tapi, please, bersabarlah. Kau pernah demikian perkasa menjalani kehidupan sebagai rakyat jelata di negeri yang serba amburadull. Maka kembalilah menjadi perempuan perkasa itu, yang sejatinya adalah ilalang di tepi jalan: diinjak seperti apapun, akan tumbuh lagi di musim mendatang.

Jangan mentang2 kau telah merasakan enaknya kehidupan di negara merdeka, lantas kau menjadi kristal kaca yang demikian rentan untuk bisa bersentuhan dengan angin dan matahari. Bukan kristal kaca kiranya yang mas ajaki untuk menetapi janji suci di depan Illahi.

Maka nduk, pulanglah.

Pulanglah ke pelukan mas yang menganga terbuka. Kembalilah kepada kecintaan mas yang bersumber hanya pada-Nya.

Sudah, lepas gengsimu seiring lepas landasnya pesawatmu.

Kau sudah bukan lagi single fighter di negeri asing sekarang ini. Jati dan dayamu adalah seorang istri. Maka biarlah aku menunaikan kodratku sebagai suami: mengayomi, menafkahi, menghamili.

Jangan pula kau halangi fitrahmu: untuk menjalani hari2 sebagai seorang ‘ibu’.

Selamat datang, nduk, kekasihku….

Salah jurusan

Monday, December 18th, 2006

Mas, kangmas.. plis dengerin curhatku di akhir perjalanan akademis di Montreal ini:

Dulu pernah kukatakan, aku ndak puas mas. Dan sekarang aku tegaskan: AKU NDAK PUWASSSS!!!

Bukan karena fasilitas atau servis dari universitas yang membuatku tidak mendapatkan kepuasan. Mungkin ini cuma karena diriku: yang sok idealis dan mumpuni.

Mas, emas.. aku pulang ndak bawa apa2. Seharusnya aku sekolah, pulang mbawa ilmu. Lha aku ini: ndak ada apa2.  Gede tong daripada isinya. Setidaknya demikian yang aku rasa.

Apa ya aku ini salah to, ketika berusaha menyelesaikan tugas belajarku secepatnya, meski akibatnya rada sekenanya dan asal jadi. Ndak, mas, aku ndak mau menyalahkan diriku sendiri. Jauh2 aku ninggalin mas, bukan untuk jadi bahan kambing hitaman.

Lalu mas pasti akan bertanya: "apa to nduk yang membuatmu ndak puas??"

Waduh mas, sudah kutekankan sejak sebelum aku menjalani proses kuliah di sini, aku ndak suka dengan program yang ditawarkan.

Lantas mas akan mencemooh: "lha kalau tidak suka programnya kenapa dijalani, nduk? Kenapa tidak sejak dulu kau hindari? Ndak ada yang memaksamu untuk menjalani program tersebut to?"

Biadab betul cemooh seperti itu. Ketika aku diterima di program ini, aku cuma sarjana kecil yang sedang berjuang mencari pekerjaan untuk mengisi perut sendiri. Maka lantas apa aku menjadi salah ketika aku memilih untuk mengambil kesempatan yang ada, walau kesempatan yang terbuka tidak sesuai yang aku damba??

Kukira ndak cuma aku, mas…

Kukira banyak biologist2 potensial di negeriku yang harus berganti lapangan, untuk sekedar menutup biaya makan dan meneruskan kehidupan. Ndak sedikit kiranya yang justru tidak mendapat pekerjaan sama sekali.

Lantas apa perlu kiranya aku feel guilty dengan caraku melampaui ini??

Aku baik2 saja!!

Itu yang ingin aku katakan pada dunia yang -mungkin- akan menggugatku ketika yang kubawa pulang cuma GPA dan tulisan tugas akhir yang segitu2 saja.

"Minimalis sekali kerjamu, X-A! Harusnya kau bisa lebih baik dari ini, kau masih punya waktu." gugat seseorang yang merasa dirinya sebagai hardworker dan hardthinker.

"Minimalis bagaimana? Takaran apa yang kau gunakan? Jangan bandingkan lompatan sekedar bakteria dengan lompatan seorang manusia, dong!! Ndak nyambung! Aku ini benar2 baru di bidang ini, sudah bisa paham omongan dosen saja sudah untung. Jangan bandingkan diriku dengan dirimu yang sejak dulu memang sudah berkecimpung dibidang itu. Dan jangan bandingkan pula tulisanku dengan tulisanmu. Bagaimanapun, aku tidak dibesarkan dengan bahasa mbahmu itu!!" Aku berteriak. Aku mengujatnya. Ah, dia tidak tau apa2 tentang apa dan siapa yang sedang dihadapinya.

O walah, mas… lha kok ada ya orang yang masih mencelaku dengan segala hasil kerjaku. Mbok ya biarkan aku begini, sudah untung aku masih mau melakoni ini. Sudah untung aku mau menjalani apa2 yang tidak aku ingini.

Dan sudah untung pula banyak sarjana biologi yang mau beralih profesi. Apa ndak buntung negara kita, kalau semua orang harus bekerja sesuai dengan gelarnya?? Setidaknya macetlah itu roda ekonomi!!

Lha memang pancen ngono kuwi to  urip kang sejati??

Urip mung sak dermo nglakoni…..

Kau adalah perempuan perkasa

Sunday, December 17th, 2006

Kau masih muda ketika meninggalkan negerimu. Pacar yang gantengpun kau relakan di sana, tak bisa diajak serta. Demi cita, katamu. Benar kau Dara perkasa.

Kesempatan untuk menuntut ilmu kau ambil juga, meski masa depan tidak menjanjikan apa2. Hanya kau mempercayainya dengan sepenuh jiwa. Kau bawa ikatan hatimu menyeberang samudera, menjalani kehidupan sebagai pasangan jarak-jauh yang rentan oleh segala peristiwa.

Itu tidak mudah saudariku, aku tau. Bagaimanapun cinta saja tidak cukup. Pasangan butuh komitmen, dan ketika komitmen itu memudar oleh jarak dan komunikasi yang tersendat-sendat. Apa boleh dikata: pacarmu memilih menikah dengan perempuan yang bisa disandingnya, segera.

Patah hatimu, aku tau. Berderai-derai airmata yang kau tumpahkan dalam keremangan kamar kosan sendirian. Kau tidak ingin menceritakannya pada siapa2, apalagi pada keluarga di sana. Hanya akan sedih saja mereka.

Kau hebat, saudariku. Sejenak kemudian, kau menekan rasa sakit dalam dadamu. Mengencangkan tali sepatu dan memenuhi backpack dengan buku. Tenggelam dalam sebuah niche kecil diantara ribuan huruf, angka, dan statistika.

Lalu ijinkan aku menggugat nya:

Solidaritasku sebagai sesama perempuan membuatku mengambil sikap. Biar kuhujat dia yang tidak bisa melihat perempuan perkasa yang telah mencintainya. Demikian pula, biar kuhibur hatimu dengan kata-kataku.

Dear sister,

Benar sudah caramu. Tak perlu lagi bertahlil dengan penyesalan akibat perginya laki2 itu. Anggap saja telah hilang satu parasit dari hatimu, penghambat kemajuanmu sebagai seorang perempuan.

Sungguh, selama laki2 itu tak mampu menunggumu dalam waktu yang sesingkat itu, tak mampu pula ia memangkumu seumur hidupmu. Maka benarlah keputusanmu, ceraikan dia selagi belum menjadi suamimu.

Laki2 itu tidak akan pernah bisa memahami, bahwa sebagai perempuan pelajar di negara manca, kita butuh adalah kesabaran. Menjalani proses yang berbelit2 dan menyakitkan, sebelum kita berhak menyandang gelar Srikandi-Srikandi ilmu pengetahuan.

Nanti saudariku, ketika rutinitas kuliah dan sekolah tidak lagi menghimpit dari segala sisi. Kau akan hadir menjadi a better person. Setidaknya kau lebih punya banyak waktu untuk memikirkan dirimu sendiri, laki2, dan segala tetek-bengeknya.

Setelah itu, laki2 yang lebih baik pun akan kau temui.

Katakan InsyaAllah, saudariku! Dan amini doa-ku…….

Kekosongan

Thursday, December 14th, 2006

Dengerin!!  Aku mau pidato sambil mengutip ayat suci Sang Filosofi, entah filsuf dari mana:

Hidup adalah sekedar mengisi kekosongan.

Ndak percaya??? Sejak dulu orang bijak selalu bilang kalau manusia itu adalah makhluk sosial. Saking sosialnya, mana bisa hidup sendirian dan kesepian. Hal ini berlaku juga untuk sebuah kekosongan, manusia tidak bisa hidup dengan ruangan kosong dalam hidupnya, apalagi dalam hatinya.

Lihat saja manusia guwa; melihat guwa yang sedemikian kosongnya, maka dibuatlah gambar2 telapak tangan atau telapak kaki.

Lihat saja ibu rumah tangga; tidak bisa tidak akan memenuhi isi lemarinya dengan pakaian, perhiasan, pernak-pernik segala rupa.

Lihat saja wartawan, yang sibuk kesana-kemari untuk mencari berita dalam upayanya mengisi kekosongan dalam lembaran2 koran atau majalahnya.

Lihatlah remaja yang tidak punya banyak kegiatan, akan mengisi kekosongan dalam hidupnya dengan pacaran atau bernarkoba ria. Bisa saja sih kekosongan itu diisi dengan hal2 yang berguna, namun kalau salah kaprah, akhirnya naluri untuk melakukan hal tidak berguna pula lah yang akan bicara.

Lihatlah orang2 miskin di pinggiran kota, yang mengisi kekosongan perutnya dengan cara apa saja. Mulai ngemis, ngamen, nglacur, ngrampok, segala rupa. Ndak bisa disalahkan to? Wong itu dalam rangka mengisi kekosongan…

Lihat saja bapak-bapak, yang merasa hidupnya kosong, maka kawin lagi lah ia: numpuk bini muda di berbagai kota. Katanya sih merencanakan keluarga, meniru iklan KB: Dua istri saja (belum) cukup!!  [Haduh! Nek ini ketoke kekosongan yang mengada-ada.]

"Lalu kalau yang kosong itu hati, gimana dong, X-A?? Pacar ndak punya, tabungan ndak punya, kerjaan bikin sakit kepala, usia semakin tua, hidup begini2 saja. Terus gimana dong??" sergah seorang teman yang duduk di deretan paling belakang sambil berkaca-kaca. Dia memang selalu merasa sebagai pria tidak beruntung di dunia.

"Mati saja!" jawabku ngawur sambil ngeloyor pergi. *Sadis*

 

Menikah*

Wednesday, December 13th, 2006

"To love somebody is not just a strong feeling- it is a decision, it is a judgment, it is a promise, [and it is a commitment]." (Erich Fromm)

Alkisah temanku perempuan, usianya sebaya denganku, masih muda, cantik, cekatan, dengan karir yang bagus di usianya yang sangat muda. Aku sempat iri dengan keberuntungannya dalam berkarir. Sungguh cepat betul dia mendapat pekerjaan, sementara aku butuh waktu yang lama. Bahkan sampai sekarangpun, karirku bisa dibilang begitu2 saja: tidak menjanjikan materi apalagi kesejahteraan.

Dia begitu tangguh, begitu lulus kuliah, pergi dari kampung halaman pun dia lakoni. Menaklukkan bumi nusantara yang demikian luas, itu cita2nya. Walhasil, dia pun bekerja di perusahaan multi nasional dengan gaji sekian juta per bulan. Hidup enak, tidak kekurangan, teman banyak, duit berlimpah.

Namun dia mengeluh. Dia mengeluh tak bahagia. Dia mengeluh dan mengiri pada kebahagiaanku yang tampak demikian sempurna.

"Apa katamu?" tanyaku setengah membelalak.
"Aku ini tak lebih dari housewife yang kerjanya mencereweti suami tiap hari. Menanyakan ini itu sampai suami kadang bingung mau menjawab yang mana dulu. Mengecek sarapannya, makan siangnya, dan makan malamnya. Menunggu saat gajian untuk bisa merencanakan anggaran satu bulan. Apa yang kau iri dari kehidupanku??"

"Kau punya lelaki."

"Hah! Apa pula itu. Tiap wanita juga akan punya lelaki jika sudah gilirannya." kataku membela.

"Lalu kapan giliranku?" tanyanya meredup. Ada getaran halus dari suaranya, seolah ingin menggugat sebuah ketidakberuntungan. Sebuah gugatan yang tidak masuk akal bagiku, dia toh masih sangat muda.

"Lha kau ini nyari pacar saja tidak berani." kataku menghakimi.

"Bukan tidak berani. Tapi aku selalu ragu untuk menerima laki2 yang datang. Benarkah mereka serius? Atau cuma menjajaki untuk kemudian lari setelah mengetahui siapa diriku ini."

"Lha memang siapa dirimu?"

"Kau tau, di usiaku yang semuda ini orang memanggilku ‘ibu’. Disaat kamu masih dipanggil ‘mbak’ bahkan ‘dik’ oleh kolega2mu, aku sudah dipanggil ‘ibu’! Mana ada orang kantor yang berani macam2 sama ‘ibu2′. Kalau pun ada yang mendekatiku, mereka dari kalangan ‘bapak2′ yang usianya jauh lebih tua dariku. Aku benci begini, X-a. Aku ingin laki2 seusiaku yang sematang aku.. dst…dst.."

"Ah kau kebanyakan kriteria! Terus kau mau bagaimana? Keluar dari pekerjaan yang menempatkanmu sebagai ‘ibu2′ itu? Atau menetap sebagai ‘ibu2′ dan menemukan ‘bapak2′ muda?"

"Gundulmu! Aku makan apa kalau keluar. Lagipula, pekerjaan ini sudah jadi cita2ku sejak dulu. Aku membangun karirku ini sejak jaman kau belum lahir, X-a! Yang aku benci, kenapa sampai sekarang aku lebih bermain logika daripada cinta. Proses screening untuk mendapatkan laki2 terbaik sungguh menyakitkan sekali. Sakit dan melelahkan. Bagaimanapun juga aku tidak mau dikatakan perempuan gampangan to?? Apalagi diusiaku dan dikarirku yang sematang ini? Aku juga harus seimbang dengan laki2 pilihanku to?"

"Ya kalau memang itu proses yang ingin kamu jalani, sabar aja dulu sambil berjalannya waktu…. Kau pikir nikah diusia muda gampang apa?? Kau pikir kisah hidupku lantas menjadi sempurna karena telah menikah? Orang itu kan wang sinawang to, Jeng. Sama seperti pekerjaan, rumah tangga pun butuh komitmen, butuh dedikasi, butuh totalitas. Kau tidak bisa menilai bahwa ketika orang sudah menikah lantas habis perkara. Justru menikah itu menimbulkan banyak perkara baru. Kadang bahkan yang kita nikahi tidak hanya satu gelintir lelaki, namun juga kakak2 ipar, adik2 ipar, mertua, om2 dan saudara2 yang bejibun banyaknya. Bahkan kadang seorang wanita juga menikahi pekerjaan suami. Misal, suami seorang petani, paling tidak si istri harus cawe2 mempersiapkan bekal suami di sawah. Bukan begitu?"

"Tapi bukankah lebih baik sedih-sepi, suka-duka berdua daripada sendirian? Kemana2 lontang-lantung sendiri?"

"Yah, pikiran demikian memang benar juga. Apalagi ketika kita semakin dewasa. Orang2 disekeliling kita semakin sibuk dengan urusannya masing2. Akhirnya yang tertinggal cuma suami, yang menjadi satu2nya sahabat sejati, satu2nya teman curhat yang bisa dipercayai dan mau membantu sepenuh hati"

"Tuuhh, bener kan??!! Aku mau nikaaahhhh!"

Temanku mulai histeris. Sebuah percakapan yang tidak berguna. Aku tidak bermaksud untuk membuatnya semakin merana. Namun, ujung2nya kata2ku hanya memberi kesimpulan bahwa menemukan pasangan hidup adalah segala2nya. Padahal bukan itu yang menjadi maksudku.

Akhirnya kukatakan diam2: "Maaf teman, dulu aku pun pernah mengalami kegelisahan serupa. Yaitu ketika aku dalam perjalanan panjang sebelum akhirnya menemukan seorang pasangan. Mungkin kegelisahanku tidak berkepanjangan, karena aku segera memberanikan diri membuat keputusan: sudah tiba waktuku untuk menikah, maka aku menikah saja. Tidak usah banyak kriteria, bikin sakit kepala. Kau jangan meniru caraku, karena kau punya hidupmu. Jika menunggu dan memilih-milih pasangan yang tepat membuatmu lebih nyaman, jalani saja…"

*for a friend yang lagi gelisah

Republik Toet

Monday, December 11th, 2006

Waktu kutinggalkan negaraku masih berupa kerajaan. Presidennya otoriter ndak karuan. Main ciduk sana-sini. Bungkam sana-sini.

Negara itu besar memang. Mungkin hampir 1/4 Kanada tercinta. Bedanya, negara itu berupa kepulauan. Laut luas membiru di tepi Pasifik raya. Penduduknya sebagian besar bertani dan berlaut, mengendarai perahu2 luar biasa menyusuri pulau2 hijau jamrud khatulistiwa.

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa

Itu syair lagu yang sering kunyanyikan. Ditemani seragam merah putih, berdiri ditengah lapangan terik. Memandang ke arah bendera pusaka, walau aku tak yakin itu pusaka siapa, dan punya kekuatan apa?

Indonesia sudah kutinggalkan sejak lama. Hanya bahasanya saja yang masih melekat dalam bibir dan ludahku. Logat Jawa medhokpun tak bisa kutinggalkan. Tak urung kemanapun aku pergi di tengah2 Kanada ini, semua orang mengenaliku sebagai Asia, atau lebih parah lagi: Jawa!!

Ia kutinggalkan sejak berubah menjadi republika, ketika semua anggota dewan sudah toet semua. Bagai kerupuk udang yang melempem, meski hanya tertiup angin. Ketika hukum menjadi simbol belaka, dan penegak hukum cuma cari untung dan selamat bagi pribadi dan anggota pribadi. Ketika raja2 sudah tidak ada yang sekuat Bandung Bandawasa atau Dinasti Syailendra, arsiteknya pun sudah tidak mampu membangun kejayaannya Borobudur dan Prambanan.

Maka sah2 saja to kalau kutinggalkan Indonesia?

Apa hukumnya kalau kutinggalkan Indonesia??

Ndak ada, Jo! Yang ada adalah pertengkaran moralku sendiri yang sok alimis, nasionalis, agamis, lamis!

Kenapa to mau ninggalin Indonesia segala?

Halah biyung, biyung, di Indonesia itu ndak ada yang aman. Jadi pengusaha dituduh kolusi, jadi pengacara harus pinter muncul di Tivi, jadi DPR dicurigai korupsi. Jadi dosen pun juga malah dientuti. Blaik!

Kesana kena, kesini kena. Kiri kanan penuh marabahaya. Darat, laut, udara, taruhannya nyawa semua. Mau Mas Senopati, mau Mas Adam, atau Pakde Lion: amburadul semua! Naik gethek saja masih bisa terjungkal je. Lha mbok pikir jalan kaki pun aman? Keserempet, kesandung, kebentur, ketabrak: itu mah biasaaa…

Lha, apa bukan lebih baik kiranya kalau negeri yang seperti itu ditinggalkan saja?

Yuk hijrah saja dari republik toet ini. Biar bisa jadi WNA dan nonton pertunjukan realisme sebuah ketoetan dan keamburadulan.

Ambumu, Yu! Hijrah kemana?

Ke Kanada??

Lha kok minul!!

Pikun kok kolektif

Thursday, December 7th, 2006

"Mbok..simbok..sudah…wes pokoke gombal! Aku sudah tidak mau lagi ngurusi berita2 ra genah. Mau yang digosipkan itu politisi lah, wakil rakyat lah, artis lah. Ndak peduli! Wong semua juga sudah jadi sama saja. Lali kacang sama kulitnya. Lha dulu waktu kampanye, ndakik-ndakik katanya mau memperbaiki moral rakyat, tapi jebule moralnya sendiri malah kere, sekere-kerenya. Melik nggendong lali!!"

"E..ee…ee ndak boleh begitu, Le. Kualat. Sejak jaman mbah-mbahmu dulu, lha ya wakil rakyat dari Pohon Beringin itu to yang mengayomi. Kita punya budi besar lho sama punggawa2 Pohon Beringin yang sudah pensiun. Kalau ada satu atau dua dari ranting2 beringin itu yang busuk, rak yo wajar. Hatimu kudu jembar, Le. Memaafkan, beri kesempatan to, Le, Pohon Beringin kalau disiram bisa hidup lagi dan kembali ke jalan yang benar."

"Inget, Le.. dulu jaman Pohon Beringin masih dipunggawani Pak Harmoko, walah simbok dan orang2 kampung ini sering kecipratan rejeki. Sik penting nyoblos gambar ringin, nanti diberi beras dan bantuan macam2. Lha jalan aspal di depan rumah ini kan atas kemenangan Pohon Beringin juga to Le.."

"Walah, mbok…. naif kok dipelihara. Ya terang saja kaya, makmur, lha wong duwit utangan. Lambe politisi itu kan turah semua, mbok. Bisanya ngobral janji dan meninabobokkan rakyat. Rakyat dikibuli semua dengan materi. Lha hayo, sampai 50 tahun Indonesia merdeka,masih banyak anak2 Indonesia yang  buta aksara, perempuan2 gobloknya masih luar biasa. Di poligami masih mau2 saja. Korupsi merajalela. Kolusi? Haduh nomer satu sedunia!"

"Negara kita ini mengalami kepikunan kolektif lho, Mbok. PERMISIF. Mudah melupakan, mudah memaafkan. Sudah pikun, bobrok lagi. Lak yo mesakne anak2ku to, Mbok. Ra ono sik iso digugu lan ditiru. Kabeh wes dadi koyo asu: rebutan balung seru kerahe"

"Haduh, ngomongmu kok jadi dakik2 ngene, to? Kepikunan kolektif bagaimana? Permisif bagaimana? Pesimis kok dipiara, to Le.."

"Lha iya, to, Mbok… Coba, ketika wakil rakyat itu ketahuan berbuat mesum, coba itung ada berapa diantara kita2 ini yang memaafkan begitu saja. Beberapa malah mengambil apologi bahwa Pak YZ itu cuma manusia, bisa salah dan khilaf. Terus, sebentar lagi pasti akan dilupakan. Malah2, bisa2 YZ kembali lagi yang-yangan sama ME. Lha wong katanya masih cinta, je. Lha kok nyimut tenan!! Lebih parah lagi, Pohon Beringin bahkan belum menjatuhkan sangsi apa2. Padahal, inget loh Mbok, jamannya Kanjeng Nabi dulu orang zina ya dirajam…ditimbuni pakai batu sampai mampus. Lha ini..yang zina wakil rakyat, je… Apa cuma cukup dirajam saja?"

"Njur karepmu itu piye?"

"Ya diseret ke pengadilan gitu loh. Apa ga berani 120 juta rakyat nyeret wakil2nya yang bejat ke depan pengadilan? Tapi yo embuh ding, Mbok… aku sendiri juga bingung. Lha wong pengacara orang kaya pasti ngetop2 semua, je. Pinter banget membalik-balikkan kata. Blaik! Jangan2 mereka juga juga punya akses untuk jual beli hukum pidana, ya, mbok?? Walah, ruwet. Nek semua sudah memihak kepada kekuasaan, terus yang memihak kita ini siapa ya, mbok? Lha coba, lihat saja, Pengacara orang kaya kok kayanya itu2 saja, dan sering menang pula… Kadang aku bingung, mereka itu pengacara atau penyiar to ya? Wajahnya bolak-balik muncul di layar kaca??"

"Embuh..Le… embuh… omonganmu iku tak rasak2ke kok rodo moralis. rodo idealis. Wes, nek nggo Simbok, asalken ada yang bagi2 beras buat makan besok pagi, cukuplah kiranya."

"Wo alaahh…mbok…mbok… jiwa ngere kok diopeni.."

Saatnya untuk malu

Monday, December 4th, 2006

Semua orang pada latah.

Kenapa?

Kemarin orang2 masih hangat membicarakan bagaimana baiknya relokasi korban lumpur Lapindo.

Eh, lha dalah, kemudian kok arah beritanya jadi ndak nggenah….

Cerita dari media ke media santer menyoroti kasus poligami-nya Paklik Gym yang mengemparkan masyarakat Bandung dan sekitarnya. Argumentasi yang diusung mirip seperti kontroversi Puspo Wardoyo ketika mengumumkan Poligami Award. Malah para pemburu berita ngobok2 friendsternya Nyah Gym pula. Gendeng! Bahkan friendsterpun bisa jadi bahan gosip ria.

Poligami oh poligami… Although it is legal, doesn’t mean it never hurts.

Kasak-kusuk selanjutnya adalah beredarnya ‘video game’ Yahya Zaini yang sedang bermain filem dengan seorang wanita, Eva Maria katanya. Tiba2 halaman komentar di koran jadi semarak: penuh hujatan dan tanda tanya, penuh kalimat kasar dan cerca. "Kau, DPR! Tak seharusnya ngesek diluar nikah. Itu zina! Betul itu cuma soal selakangan, namun jika selangkanganmu sendiri tidak kau jaga, bagaimana selangkangan rakyat dan masyarakatmu, bangsa dan negaramu, anak dan generasimu??"

Lalu tiba2 rakyat pun terbagi dalam dua blog besar: satu berusaha menghakimi bahkan dengan kata dan cara keji. Kedua: berusaha membela dan menutupi [dengan cara mengatakan, "Dia cuma manusia..bla..bla.. Jangan lihat kesalahannya saja, lihat pula jasanya..bla..bla.."].

Dan di tengah blog2 besar itu, muncullah blog ini! Yang menggugat siapa saja yang pantas digugat. Bahkan menggugat diri ini yang terlanjur berbakat menelanjangi aib dan bergosip. Bergunjing sana-sini, menyelidik sana-sini, ngintip sana-sini.

Ah, mungkin aku tidak lebih baik dari mereka… Setidaknya mereka mendapat rasa malu sebagai hukumannya, namun malu kah aku ketika memaparkan kesalahan orang segamblang2nya, meski dalam tulisan saja??? Malukah aku ketika nyari2 berita2 tentang mereka??

Seharusnya, aku lebih mawas diri……

————————-

+ Kenapa, nduk??
- Bangsat, mas! Aku sudah terkena sindrom munafikisme dan Merriyahnya gossipria. + Hahaha..biasa kalau kamu sudah kurang kerjaan, pasti cuma begitu itu kerjaannya. Mbok yang positif to, nduk… setidaknya nyari resep di internet lebih berguna daripada baca berita2 yang tidak jelas juntrungannya.
-Kan lagi tren mas, berita2 gituan. Aku kan juga ga mau gagap informasi to, mas…
+ Kenapa? Biar gak ketinggalan berita katamu?? Gundulmu, itu bukan berita, nduk…Itu dokumen super secret dari babak kehidupan manusia.
-Terus aku harus komentar apa, Mas? Aku kan juga ikut bertanggung jawab atas kebobrokan mental di negara kita?
+ Sok kamu! SSttt..sudah, tanggung jawabnya pada Mas saja. Jadi istri yang baik dan membesarkan anak2 bermental baik. Itu cukup kiranya.

[Hmmmm....Kayanya, mas-ku ga sekasar ini deh biasanya..]