Ijinkan aku ngeblog seribu tahun lagi

Hampir pasti, aku akan menulis blog-ku dari lokasi yang berbeda. Mungkin dari puncak Merapi, atau dari hangatnya pantai di Bali. Mimpi.

—————————————————————–

"Selama ini kamu ngeblog buat apa?"

Ngeblog adalah mengisi kekosongan setelah bengong mengerjakan tugas yang berkepanjangan.

Ngeblog adalah tradisi, untuk mengeluarkan unek2 tentang bangsa yang hampir mati, kondisi yang statis, dan kehidupan yang tiada berguna lagi. Tradisi seorang pengamat gila di menaranya yang seperti kaca di negara kutub utara.

Demikianlan kata seorang Indonesian yang putus asa.

"Lalu apa yang akan kau keluahkan lagi tentang bangsamu? Tidak puaskah kau sudah memaki-makinya dalam ribuan kilobyte memori komputermu?"

Sepertinya tidak. Sepertinya  aku tidak akan berhenti memaki.

Maka, ijinkan pula aku ngeblog seribu tahun lagi. Sekedar untuk mengeluarkan kata2. Yang paling tidak beraturan pun tak apa. Untuk memaknai segala peristiwa. Mulai tenggelamnya Aceh Raya sampai hancurnya Jogjakarta.

Maka biarkan blog ini menjadi saksi, bahwa negeriku akan ditenggelamkan bumi sebentar lagi. Bencana di darat dan di masyarakat, sudah membuatnya demikian sekarat.

Aku biarkan blog ini, sekedar  mengomentari, mengomeli, menasihati, menyampah, dan menyumpah.

Lalu jika saatnya aku kembali, menunggui negeri yang sekarat itu. Biarkan pula aku ngeblog lagi, untuk mendokumentasikan sakaratul maut. Untuk merintih, menghiba, menangis terkencing2 bersama rakyat2 jelata.

"Apa tak takut engkau pada lumpur, banjir, tanah, darah, dan nanah?"

Gentarpun tak apa. Blog-ku akan lebih menggentarkan. Membuat mereka tidak berdaya dalam sumpah serapah kata2. Siapa tau mereka menyerah dalam semburan ludah.

"Mereka siapa, maksudmu?"

Ya mereka, yang bebal otaknya. Yang duduk di singgasana, sementara para jelata bergelut dengan lumpur jelaga. Kau pikir, adil itu namanya? Maka, biar saja blog-ku mengumpatnya.

Legalisasikan aku, untuk bicara sekenanya….

2 Responses to “Ijinkan aku ngeblog seribu tahun lagi”

  1. Riza Says:

    dan selamat memasuki pujanggaisme atau boleh kusebut “bloggers….”

    aku menantimu dengan kata-kata “cadas” mu mba…

  2. dina Says:

    monggo mbak…
    sudah saya legalisasikan.
    (kata mbak eka: dina, siape elo? hehehe).
    selama kita masih bisa bicara, kita mmg harus bicara kan?
    Semangattt!!!

Leave a Reply