Kau adalah perempuan perkasa

Kau masih muda ketika meninggalkan negerimu. Pacar yang gantengpun kau relakan di sana, tak bisa diajak serta. Demi cita, katamu. Benar kau Dara perkasa.

Kesempatan untuk menuntut ilmu kau ambil juga, meski masa depan tidak menjanjikan apa2. Hanya kau mempercayainya dengan sepenuh jiwa. Kau bawa ikatan hatimu menyeberang samudera, menjalani kehidupan sebagai pasangan jarak-jauh yang rentan oleh segala peristiwa.

Itu tidak mudah saudariku, aku tau. Bagaimanapun cinta saja tidak cukup. Pasangan butuh komitmen, dan ketika komitmen itu memudar oleh jarak dan komunikasi yang tersendat-sendat. Apa boleh dikata: pacarmu memilih menikah dengan perempuan yang bisa disandingnya, segera.

Patah hatimu, aku tau. Berderai-derai airmata yang kau tumpahkan dalam keremangan kamar kosan sendirian. Kau tidak ingin menceritakannya pada siapa2, apalagi pada keluarga di sana. Hanya akan sedih saja mereka.

Kau hebat, saudariku. Sejenak kemudian, kau menekan rasa sakit dalam dadamu. Mengencangkan tali sepatu dan memenuhi backpack dengan buku. Tenggelam dalam sebuah niche kecil diantara ribuan huruf, angka, dan statistika.

Lalu ijinkan aku menggugat nya:

Solidaritasku sebagai sesama perempuan membuatku mengambil sikap. Biar kuhujat dia yang tidak bisa melihat perempuan perkasa yang telah mencintainya. Demikian pula, biar kuhibur hatimu dengan kata-kataku.

Dear sister,

Benar sudah caramu. Tak perlu lagi bertahlil dengan penyesalan akibat perginya laki2 itu. Anggap saja telah hilang satu parasit dari hatimu, penghambat kemajuanmu sebagai seorang perempuan.

Sungguh, selama laki2 itu tak mampu menunggumu dalam waktu yang sesingkat itu, tak mampu pula ia memangkumu seumur hidupmu. Maka benarlah keputusanmu, ceraikan dia selagi belum menjadi suamimu.

Laki2 itu tidak akan pernah bisa memahami, bahwa sebagai perempuan pelajar di negara manca, kita butuh adalah kesabaran. Menjalani proses yang berbelit2 dan menyakitkan, sebelum kita berhak menyandang gelar Srikandi-Srikandi ilmu pengetahuan.

Nanti saudariku, ketika rutinitas kuliah dan sekolah tidak lagi menghimpit dari segala sisi. Kau akan hadir menjadi a better person. Setidaknya kau lebih punya banyak waktu untuk memikirkan dirimu sendiri, laki2, dan segala tetek-bengeknya.

Setelah itu, laki2 yang lebih baik pun akan kau temui.

Katakan InsyaAllah, saudariku! Dan amini doa-ku…….

4 Responses to “Kau adalah perempuan perkasa”

  1. Riza Says:

    amiiin. nampaknya selalu ada kompleksitas dalam hidup. tak terkecuali rasa mengerti yang selalu diminta seseorang terhadap orang lain.

    “gak, aku pengen kamu ngertiin aku..” disisi lain “kamu pengen itu, ngertiin dulu aku…”

    dan masalah itu ga akan pernah selesai.

    kalo boleh bernasehat,..jangan berkeputusan cepat manakala hati sedang gundah, karena kegundahan itu akan terbawa bersama keputusan itu.

  2. lonely Says:

    hmmm, koyo kisahku dewe . . . . .

  3. X-a Says:

    Hlo, lha mas Lonely itu rak laki2 to? Padahal kisahku ttg seorang perempuan?? Haduh!

  4. can Says:

    hem ka ok banget.
    gw banget deh kisah lo ini hahaha tunangan gw yang biadab ditinggal kerjo golek upo malah pacaran ma cewe lain. Tapi masa nangis bombay wes lewat ka. Pokokna okay banget de tulisan elo… !!!!

Leave a Reply