Pada sebuah kapal*
"Perjalanan, betapapun dekatnya, telah membuat orang berubah. Meski hanya berubah tempat dan waktu. Memanglah jati manusia adalah perubahan……….."
Ya, aku sudah berubah.
Tidak bisa disamakan lagi dengan aku dua tahun yang lalu, yang masih mengandalkan kedua orang tuaku. Mengandalkan sarapan, makan pagi, dan makan malam dari ibuku. Mengandalkan antar-jemput bapakku. Dan mengandalkan tawa riang adikku untuk menghiburku.
Tidak muluk2, kini berani aku katakan: aku BISA mengurus diriku. BISA mengurus suamiku!
Benar kata orang, "Sebuah cobaan, jika tidak membuatmu mati, akan membuatmu lebih kuat".
Aku telah berjalan, aku telah berproses, dan aku telah mengadakan perubahan.
Satu yang belum dan mungkin tidak akan berubah: Cinta dan kecintaan.
Cinta terhadap ayah/ibu, adik. Cinta terhadap emas. Cinta terhadap kehidupan.
Dan, kini pada sebuah kapal. Kupercayakan perjalananku. Tidak usah muluk2, aku hanya ingin kembali… ke pangkuan ibu-ku, ke belaian suami-ku, kepada ketegasan ayah-ku, dan kemanjaan adik-ku. Sesuatu yang kekal dan abadi…melekat dalam memori menjadi jati diri.
Maka pada sebuah kapal, kupercayakan perjalananku: Untuk menemukan kehidupanku kembali…………………..
December 25th, 2006 at 8:39 pm
Sail to the heaven ya. Sail to the nature of heart. Sail to the native of the soul. I’m the sallow and you’re the mollow….Please be brave to search the hollow, in this point.