Apa2an ini?*
Saturday, December 2nd, 2006"Mah, kita teguhi rumah tangga kita ini. Papah toh tidak akan menikah lagi. Mamah saja yang akan menjadi pendamping hidup papah…dunia-akhirat."
Lega, kusambut uluran tangan suamiku. Kucium dengan mesra. Dia meraih keningku, mengecupnya dalam damai. Sebuah ritual dalam perjalanan cinta kami, terutama setelah kami sama2 bersembahyang, menyatakan cinta kami kepada-Nya, dan kepada rumah tangga yang kami bangun dengan cinta, kasih, keringat, bahkan airmata.
Lengkap sudah rasanya hidupku. Suamiku, meski bukan pejabat, namun dia termasuk orang berpengaruh. Ia dicintai oleh banyak orang. Dan di atas cinta itu, ada cintaku dan cinta anak2 yang selalu memujanya sebagai laki2 pilihan dan ayah terbaik. Allah, bersyukur aku karena-nya. Bersyukur hatiku, karena Kau telah mengaruniaku kebahagiaan berlebih dengan kehadiran laki2ku dan anak2 kecilku.
Karir suamiku pun bisa dibilang bagus. Dalam usia yang menjelang kepala 4, dia memiliki banyak kesibukan: mulai dari jualan tabloid sampai mendirikan MLM berbasis usaha bersama. Aku memang tidak terlibat dalam urusan mencari uang dan pergaulan suami-ku di luar rumah untuk mencari nafkah. Bahkan, kadang aku merasa bersyukur karenanya. Suamiku benar2 memperlakukanku sebagai perhiasan terindah yang tidak ingin dipaparkannya pada debu dan tanah. Dengan cara ini, aku tau dia mencintaiku.
Subhanallah, laki2 terbaikku. Seseorang yang selalu lembut dan tidak pernah mencelaku. Memberikan yang terbaik kepada anak2 dan lingkungan tempat dia tinggal.
Sampai suatu ketika…..
"Mamah, Papah tau keputusan ini berat bagi Mamah. Papah pun tidak memaksa mamah untuk membuat keputusan sekarang. Tapi coba dipikirkan ya, sayang.. Papah melakukan ini untuk kebaikan kita bersama. InsyaAllah, Papah sanggup menjalankan amanah ini, sekali lagi..hanya untuk kecintaan Papah kepada-Nya"
Apa-apaan kau, Pah? Anak-mu yang paling besar saja sudah menjelang dewasa. Usia papah juga sudah tidak muda. Apa kah yang kurang dari diri Mamah? Tak cukup-kah pengabdian Mamah kepada Papah? Jika Papah ingin membantu perempuan itu, tak perlu lah sampai menikahinya…
Aku terdiam. Mana berani ku gugat suamiku. Ia terlanjur begitu sempurna bagiku, wakil Tuhan dalam dunia kecilku. Aku terlanjur mempercayai apapun keputusan yang dibuatnya. "Dia telah mengambil diriku bahkan dari diriku sendiri.."
Kehidupan baru harus kujalani kini: anak2 punya mamah baru lagi, dan suamiku sudah bukan milikku pribadi. Atau mungkin sejak dulu dia tidak pernah kumiliki? Pergaulannya di luar rumah tidak pernah aku ketahui, cerita2nya di kasur mungkin hanya kisah2 ‘cover story’. Astaghfirullah, bagaimana mungkin aku bisa memiliku gugatan keji terhadap laki2 bersih yang telah lama sekali kunikahi. Aku berbisik: "Mungkin, bagaimanapun…..aku memendam ketidakikhlasan ketika aku harus berbagi suami. Laki2ku tidak perlu tau ketidakikhlasanku ini, bahkan jika bisa kusembunyikan juga dari Illahi."
"Kriiiing…."
Telpon berdering membangunkan lamunanku, cerita sedihku.
MAs: "Lagi ngapa nduk?"
Nduk: "Eh, mas.. ini aku lagi nulis blog."
MAs: "Apa temanya, nduk?"
Nduk: "Poligami."
MAs: "Ah, imajinasi mu pasti berlebihan lagi."
Nduk: "Ya maaf, mas…tapi ada selebritis kawin lagi.."
MAs: "Ah biasa itu, Nduk…Yang penting bukan mas kan yang kawin lagi……."
Nduk: "He-em.."
Aku mengangguk diam2, sambil mensyukuri keadaanku yang begini-ini: semoga rumah tangga kami tidak mengundang kehadiran istri2 baru lagi, madu2 baru dari kembang yang tidak bertuan. InsyaAllah…
*Fatima Mernissi, atas gugatan terhadap kehidupan perempuan*