Pikun kok kolektif

"Mbok..simbok..sudah…wes pokoke gombal! Aku sudah tidak mau lagi ngurusi berita2 ra genah. Mau yang digosipkan itu politisi lah, wakil rakyat lah, artis lah. Ndak peduli! Wong semua juga sudah jadi sama saja. Lali kacang sama kulitnya. Lha dulu waktu kampanye, ndakik-ndakik katanya mau memperbaiki moral rakyat, tapi jebule moralnya sendiri malah kere, sekere-kerenya. Melik nggendong lali!!"

"E..ee…ee ndak boleh begitu, Le. Kualat. Sejak jaman mbah-mbahmu dulu, lha ya wakil rakyat dari Pohon Beringin itu to yang mengayomi. Kita punya budi besar lho sama punggawa2 Pohon Beringin yang sudah pensiun. Kalau ada satu atau dua dari ranting2 beringin itu yang busuk, rak yo wajar. Hatimu kudu jembar, Le. Memaafkan, beri kesempatan to, Le, Pohon Beringin kalau disiram bisa hidup lagi dan kembali ke jalan yang benar."

"Inget, Le.. dulu jaman Pohon Beringin masih dipunggawani Pak Harmoko, walah simbok dan orang2 kampung ini sering kecipratan rejeki. Sik penting nyoblos gambar ringin, nanti diberi beras dan bantuan macam2. Lha jalan aspal di depan rumah ini kan atas kemenangan Pohon Beringin juga to Le.."

"Walah, mbok…. naif kok dipelihara. Ya terang saja kaya, makmur, lha wong duwit utangan. Lambe politisi itu kan turah semua, mbok. Bisanya ngobral janji dan meninabobokkan rakyat. Rakyat dikibuli semua dengan materi. Lha hayo, sampai 50 tahun Indonesia merdeka,masih banyak anak2 Indonesia yang  buta aksara, perempuan2 gobloknya masih luar biasa. Di poligami masih mau2 saja. Korupsi merajalela. Kolusi? Haduh nomer satu sedunia!"

"Negara kita ini mengalami kepikunan kolektif lho, Mbok. PERMISIF. Mudah melupakan, mudah memaafkan. Sudah pikun, bobrok lagi. Lak yo mesakne anak2ku to, Mbok. Ra ono sik iso digugu lan ditiru. Kabeh wes dadi koyo asu: rebutan balung seru kerahe"

"Haduh, ngomongmu kok jadi dakik2 ngene, to? Kepikunan kolektif bagaimana? Permisif bagaimana? Pesimis kok dipiara, to Le.."

"Lha iya, to, Mbok… Coba, ketika wakil rakyat itu ketahuan berbuat mesum, coba itung ada berapa diantara kita2 ini yang memaafkan begitu saja. Beberapa malah mengambil apologi bahwa Pak YZ itu cuma manusia, bisa salah dan khilaf. Terus, sebentar lagi pasti akan dilupakan. Malah2, bisa2 YZ kembali lagi yang-yangan sama ME. Lha wong katanya masih cinta, je. Lha kok nyimut tenan!! Lebih parah lagi, Pohon Beringin bahkan belum menjatuhkan sangsi apa2. Padahal, inget loh Mbok, jamannya Kanjeng Nabi dulu orang zina ya dirajam…ditimbuni pakai batu sampai mampus. Lha ini..yang zina wakil rakyat, je… Apa cuma cukup dirajam saja?"

"Njur karepmu itu piye?"

"Ya diseret ke pengadilan gitu loh. Apa ga berani 120 juta rakyat nyeret wakil2nya yang bejat ke depan pengadilan? Tapi yo embuh ding, Mbok… aku sendiri juga bingung. Lha wong pengacara orang kaya pasti ngetop2 semua, je. Pinter banget membalik-balikkan kata. Blaik! Jangan2 mereka juga juga punya akses untuk jual beli hukum pidana, ya, mbok?? Walah, ruwet. Nek semua sudah memihak kepada kekuasaan, terus yang memihak kita ini siapa ya, mbok? Lha coba, lihat saja, Pengacara orang kaya kok kayanya itu2 saja, dan sering menang pula… Kadang aku bingung, mereka itu pengacara atau penyiar to ya? Wajahnya bolak-balik muncul di layar kaca??"

"Embuh..Le… embuh… omonganmu iku tak rasak2ke kok rodo moralis. rodo idealis. Wes, nek nggo Simbok, asalken ada yang bagi2 beras buat makan besok pagi, cukuplah kiranya."

"Wo alaahh…mbok…mbok… jiwa ngere kok diopeni.."

3 Responses to “Pikun kok kolektif”

  1. dina Says:

    Aduh, mbak eka, topik yg berat nihh, hehe, secara negara kita emang udah mengalami kepikunan n retardasi mental kronis.. semua jd sah2 aja.
    Sbg generasi muda (ciee..) aku jd bingung jg mau gimana:(

  2. Riza Says:

    yang ga perlu tidak perlu di bahas, yang perlu silahkan di bahas. apakah YZ masuk kasus perlu dibahas? layaknya sudah menjadi kasus yang membahas. sebagai penerima dan pendengar, ada kalanya hukum Allah yang akan merajam, bukan masyarakat. sekehendaknya biarkan saja semua berjalan apa adanya,…jangan mba bebani mbokmu dengan pembicaraan politis, karena bagi dia hidup itu sederhana mba….

  3. X-a Says:

    Riza: Hooh ki, simbok kok yo pikun tenan yo? Gampang memaafkan, gampang dikibuli..

    Dina: Generasi muda ikutan aja wakil rakyatnya :P (ups!)

Leave a Reply