Republik Toet
Waktu kutinggalkan negaraku masih berupa kerajaan. Presidennya otoriter ndak karuan. Main ciduk sana-sini. Bungkam sana-sini.
Negara itu besar memang. Mungkin hampir 1/4 Kanada tercinta. Bedanya, negara itu berupa kepulauan. Laut luas membiru di tepi Pasifik raya. Penduduknya sebagian besar bertani dan berlaut, mengendarai perahu2 luar biasa menyusuri pulau2 hijau jamrud khatulistiwa.
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa
Itu syair lagu yang sering kunyanyikan. Ditemani seragam merah putih, berdiri ditengah lapangan terik. Memandang ke arah bendera pusaka, walau aku tak yakin itu pusaka siapa, dan punya kekuatan apa?
Indonesia sudah kutinggalkan sejak lama. Hanya bahasanya saja yang masih melekat dalam bibir dan ludahku. Logat Jawa medhokpun tak bisa kutinggalkan. Tak urung kemanapun aku pergi di tengah2 Kanada ini, semua orang mengenaliku sebagai Asia, atau lebih parah lagi: Jawa!!
Ia kutinggalkan sejak berubah menjadi republika, ketika semua anggota dewan sudah toet semua. Bagai kerupuk udang yang melempem, meski hanya tertiup angin. Ketika hukum menjadi simbol belaka, dan penegak hukum cuma cari untung dan selamat bagi pribadi dan anggota pribadi. Ketika raja2 sudah tidak ada yang sekuat Bandung Bandawasa atau Dinasti Syailendra, arsiteknya pun sudah tidak mampu membangun kejayaannya Borobudur dan Prambanan.
Maka sah2 saja to kalau kutinggalkan Indonesia?
Apa hukumnya kalau kutinggalkan Indonesia??
Ndak ada, Jo! Yang ada adalah pertengkaran moralku sendiri yang sok alimis, nasionalis, agamis, lamis!
Kenapa to mau ninggalin Indonesia segala?
Halah biyung, biyung, di Indonesia itu ndak ada yang aman. Jadi pengusaha dituduh kolusi, jadi pengacara harus pinter muncul di Tivi, jadi DPR dicurigai korupsi. Jadi dosen pun juga malah dientuti. Blaik!
Kesana kena, kesini kena. Kiri kanan penuh marabahaya. Darat, laut, udara, taruhannya nyawa semua. Mau Mas Senopati, mau Mas Adam, atau Pakde Lion: amburadul semua! Naik gethek saja masih bisa terjungkal je. Lha mbok pikir jalan kaki pun aman? Keserempet, kesandung, kebentur, ketabrak: itu mah biasaaa…
Lha, apa bukan lebih baik kiranya kalau negeri yang seperti itu ditinggalkan saja?
Yuk hijrah saja dari republik toet ini. Biar bisa jadi WNA dan nonton pertunjukan realisme sebuah ketoetan dan keamburadulan.
Ambumu, Yu! Hijrah kemana?
Ke Kanada??
Lha kok minul!!
January 24th, 2007 at 12:31 am
selamat menikmati sejuknya udara kanada. maka ingatlah betapa kotornya udara bernama Indonesia itu. tapi kenyataannya, engkau hidup menghirup udara kotor itu…