Saatnya untuk malu

Semua orang pada latah.

Kenapa?

Kemarin orang2 masih hangat membicarakan bagaimana baiknya relokasi korban lumpur Lapindo.

Eh, lha dalah, kemudian kok arah beritanya jadi ndak nggenah….

Cerita dari media ke media santer menyoroti kasus poligami-nya Paklik Gym yang mengemparkan masyarakat Bandung dan sekitarnya. Argumentasi yang diusung mirip seperti kontroversi Puspo Wardoyo ketika mengumumkan Poligami Award. Malah para pemburu berita ngobok2 friendsternya Nyah Gym pula. Gendeng! Bahkan friendsterpun bisa jadi bahan gosip ria.

Poligami oh poligami… Although it is legal, doesn’t mean it never hurts.

Kasak-kusuk selanjutnya adalah beredarnya ‘video game’ Yahya Zaini yang sedang bermain filem dengan seorang wanita, Eva Maria katanya. Tiba2 halaman komentar di koran jadi semarak: penuh hujatan dan tanda tanya, penuh kalimat kasar dan cerca. "Kau, DPR! Tak seharusnya ngesek diluar nikah. Itu zina! Betul itu cuma soal selakangan, namun jika selangkanganmu sendiri tidak kau jaga, bagaimana selangkangan rakyat dan masyarakatmu, bangsa dan negaramu, anak dan generasimu??"

Lalu tiba2 rakyat pun terbagi dalam dua blog besar: satu berusaha menghakimi bahkan dengan kata dan cara keji. Kedua: berusaha membela dan menutupi [dengan cara mengatakan, "Dia cuma manusia..bla..bla.. Jangan lihat kesalahannya saja, lihat pula jasanya..bla..bla.."].

Dan di tengah blog2 besar itu, muncullah blog ini! Yang menggugat siapa saja yang pantas digugat. Bahkan menggugat diri ini yang terlanjur berbakat menelanjangi aib dan bergosip. Bergunjing sana-sini, menyelidik sana-sini, ngintip sana-sini.

Ah, mungkin aku tidak lebih baik dari mereka… Setidaknya mereka mendapat rasa malu sebagai hukumannya, namun malu kah aku ketika memaparkan kesalahan orang segamblang2nya, meski dalam tulisan saja??? Malukah aku ketika nyari2 berita2 tentang mereka??

Seharusnya, aku lebih mawas diri……

————————-

+ Kenapa, nduk??
- Bangsat, mas! Aku sudah terkena sindrom munafikisme dan Merriyahnya gossipria. + Hahaha..biasa kalau kamu sudah kurang kerjaan, pasti cuma begitu itu kerjaannya. Mbok yang positif to, nduk… setidaknya nyari resep di internet lebih berguna daripada baca berita2 yang tidak jelas juntrungannya.
-Kan lagi tren mas, berita2 gituan. Aku kan juga ga mau gagap informasi to, mas…
+ Kenapa? Biar gak ketinggalan berita katamu?? Gundulmu, itu bukan berita, nduk…Itu dokumen super secret dari babak kehidupan manusia.
-Terus aku harus komentar apa, Mas? Aku kan juga ikut bertanggung jawab atas kebobrokan mental di negara kita?
+ Sok kamu! SSttt..sudah, tanggung jawabnya pada Mas saja. Jadi istri yang baik dan membesarkan anak2 bermental baik. Itu cukup kiranya.

[Hmmmm....Kayanya, mas-ku ga sekasar ini deh biasanya..]

2 Responses to “Saatnya untuk malu”

  1. Riza Says:

    Memang sudah saatnya,…kita malu akan aib, malu akan kebodohan kita, malu akan segala yang belum pernah kita wujudkan untuk membuat hidup lebih baik, malu akan agama yang selalu kita tinggalkan…

    sudah saatnya….

    salam untuk suamimu yang “simple” dan “tegas” itu, hehe. :)

  2. X-a Says:

    Suami?? mmmm..maksudmu, pacarku ya?? hehhehe, iya deh ntar ta sampein

Leave a Reply