Live in Khatulistiwa
Aku berlari2 kecil menyambutnya. Lelaki ku yang lajang oleh perpisahan. Akhirnya kutemui juga dengan sisa kekuatan sehabis sebuah perjalanan mengelilingi separuh bumi.
"Aku bahagia." sujud syukurku diiringi airmata.
Lelakiku menantang matahari, mencoba melindungi dari panas negeri khatulistiwa. Semua masih semeriah dulu. Jakarta masih semegah dulu. Dan dia pun memelukku. Tak rela kiranya jika pesawat angkasa itu membawaku pergi ke antah berantah. Benua di seberang samudera yang tidak terjamah oleh mata.
"Aku bahagia." sujud syukurku diiringi kesadaran. Kesadaran bahwa kini aku telah menginjak bumi yang sejati, pun dengan kesengsaraannya yang sejati.
Aku menoleh.
Seorang anak kecil mengulurkan tangannya. Kutatap matanya. Diam tak bergeming. Dia meminta.
Aku menoleh.
Tukang koran menjajakan berita. Aceh ditenggelamkan oleh bencana, sekali lagi. Aku diam tak bergeming. Mencoba meresapi kekayaan derita yang bertubi2 dikandung negeri ini.
Aku menoleh.
Gelandangan muda menjadi tua oleh jalanan berjelaga.
Aku menoleh.
Tak ada rimbun pohonan dan sejuk dedaunan lagi.
Tapi, sumpah!
Tak sedikit pun aku aku menoleh lagi pada pesawat udara yang mengajakku terbang serta dari Kanada. Ilusi itu semua. Kehidupan sejati ada di depan mataku kini.
Ku melangkah, sejenak bau busuk menyergap hidung. Bertahan. Menutup indera. Dan melangkah. Itulah syarat hidup di khatulistiwa. Tidak apa2… Jalan ini sudah kupilih untuk kutempuhi. Ndak usah ngantri, bisa main serobot sana-sini. Ndak usah gengsi, bisa pipis di pinggir kali. Ndak usah jaim, bisa memaki2 pake bahasa sendiri.
Diamput!!!
Kenapa begini ku cintai negeri ini. Atau, bagaimana jika sumpahku hanya sebatas bibir belaka? Esok hari aku sudah menangis di depan kaca, membayangkan istana megah di montreal sana. Haduh, nyamuk kucrut pun sempat2nya menggigit pipiku yang jelita.
Maka, aku berhenti menoleh lagi. Agar tidak merindukan istana kaca yang bukan milikku semata.
January 23rd, 2007 at 11:18 pm
maka memandanglah ke depan mba eka. sudilah engkau menghabiskan sisa hidupmu di bumu khatulistiwa ini, dimana segala kecurangan berada di dalamnya, tetap menyenangkan asal tidak menimpa kita. bersama sang pangeran rengkuhlah kehidupan “sederhana” yang diidamkan. membina sebuah generasi, dan terlebih, nikmati dirimu apa adanya…
August 14th, 2007 at 10:58 pm
itulah ibumu,
ibu kita, dengan segenap sampah yang orang kata,
tapi…di sini ada surga:
sayuk rukun rame-rame