Anakku sayang…
Thursday, December 27th, 2007Aduh sayang kusayang anakku sayang,
lahir di kota yang menyajikan makanan yang serba "tidak fresh"!
Hah apa itu gudeg? Tidak lain adalah sayur nangka yang sudah dipajang diatas kompor selama berhari-hari.
Tempe? Tempe hanyalah persatuan antara jamur dan kedelai, diperam berhari-hari dibalik buntalan daun pisang, jati, atau kertas koran. Dibilang higienis darimana?
Tahu? Ini juga cuma produk olahan kedelai, tidak ada bersih-bersihnya, makin segar dengan keringat si empu pembuatnya. Hmmm…
Gatot? Tiwul? Grontol?
Stop! Jangan sebut makanan2 yang kukonsumsi itu sebagai produk ndesit dan kampungan. Nyatanya, anak pertamaku kutumbuhkan dan kususui dengan semua itu. Lengkap dengan atribut2nya: sambal terasi berformalin, saos sambal berboraks, penyedap rasa kaya monosodium glutamat. Hmmmm…coba bayangin aja jadi apa anakku sayang… *sambil bercucuran airmata*
Yah, dialah putri kecilku, yang gigi ompongnya masih belum mampu melafadzkan kata "mama" apalagi "papa". Dialah ILya Shaumi ku yang bertumbuh selama 9 bulan 8 hari di dalam rahimku (lengkap dengan gudeg, tahu, tempe, grontol, growol, boraks, MSG, formain…dan lain sebagainya)
Hari ini ILya ku sudah genap 80 hari, hihihi saatnya kutinggal lari untuk ngeblog lagi, setelah puas kususui dengan asi yang berasal dari lauk teri *mana ada gizi*.
So, again, live in khatulistiwa is not easy. Indonesia gitu loh…
Lalu, setelah ini aku akan pulang lagi, menimang Shaumi sambil makan sambel teras yang baunya pesing setengah mati. Hehehe..salah ding, yang pe*ing itu bau pompol anakku.
(PS. Tulisan ini sedang tidak bermutu, maka jangan dicela dan dihina)