Mati

Emang enak jadi *mantan* presiden

Rumahnya dulu gedong magrong-magrong

Istana, orang menyebutnya

Maklum, presiden = raja.

Bukankah raja penghuni istana?

Pun peran raja pula yang di sandang *nya*

Memaksa setiap manusia yang berPancasila untuk sendiko dawuh atas perintah*nya*

Dilarang membantah jika tidak ingin dimamah.

Itu cerita ketika jayanya

Emang enak jadi *mantan* presiden

Rumah masa depannya berdiri megah di atas bukit gemah ripah.

Astana Giri*Laya* kita sebut demikian adanya

Walau ironi, sebab mati tak kunjung terjadi; orang sudah ramai mengerumuni

Tak ingin ketinggalan prosesi demi prosesi.

Lalu apa makna astana itu??

Batu, tanah, tangis, pilu…

Selebihnya, diam

Diam diatas kasus supersemar

Diam di atas kasus korupsi sekian milyar

Diam di atas tahta dan singgasana yang dipeluk hingga renta

Lalu..diam

Langit akan membawanya membumi. Bila tiba saatnya nanti.

(Maka biar aku menangis untuk hutang anak cucu dan keturunanku)

2 Responses to “Mati”

  1. Uton Says:

    aku ga terima…

    *Diam di atas kasus korupsi sekian milyar*

    sungguh aku ga terima
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    karena angka sebenarnya mencapai trilyunan yang harus dikalikan lagi dengan angka 1000 *wes ga jelas sebutannya apa*

  2. bocah angon Says:

    wong wanine ngrasani wong mati, kalah karo tukang cukure tuan paduka raja ! the most brave man in Indonesia at Soeharto’s time is his barber.

Leave a Reply