Menikah*
December 13th, 2006 by eikasalim"To love somebody is not just a strong feeling- it is a decision, it is a judgment, it is a promise, [and it is a commitment]." (Erich Fromm)
Alkisah temanku perempuan, usianya sebaya denganku, masih muda, cantik, cekatan, dengan karir yang bagus di usianya yang sangat muda. Aku sempat iri dengan keberuntungannya dalam berkarir. Sungguh cepat betul dia mendapat pekerjaan, sementara aku butuh waktu yang lama. Bahkan sampai sekarangpun, karirku bisa dibilang begitu2 saja: tidak menjanjikan materi apalagi kesejahteraan.
Dia begitu tangguh, begitu lulus kuliah, pergi dari kampung halaman pun dia lakoni. Menaklukkan bumi nusantara yang demikian luas, itu cita2nya. Walhasil, dia pun bekerja di perusahaan multi nasional dengan gaji sekian juta per bulan. Hidup enak, tidak kekurangan, teman banyak, duit berlimpah.
Namun dia mengeluh. Dia mengeluh tak bahagia. Dia mengeluh dan mengiri pada kebahagiaanku yang tampak demikian sempurna.
"Apa katamu?" tanyaku setengah membelalak.
"Aku ini tak lebih dari housewife yang kerjanya mencereweti suami tiap hari. Menanyakan ini itu sampai suami kadang bingung mau menjawab yang mana dulu. Mengecek sarapannya, makan siangnya, dan makan malamnya. Menunggu saat gajian untuk bisa merencanakan anggaran satu bulan. Apa yang kau iri dari kehidupanku??"
"Kau punya lelaki."
"Hah! Apa pula itu. Tiap wanita juga akan punya lelaki jika sudah gilirannya." kataku membela.
"Lalu kapan giliranku?" tanyanya meredup. Ada getaran halus dari suaranya, seolah ingin menggugat sebuah ketidakberuntungan. Sebuah gugatan yang tidak masuk akal bagiku, dia toh masih sangat muda.
"Lha kau ini nyari pacar saja tidak berani." kataku menghakimi.
"Bukan tidak berani. Tapi aku selalu ragu untuk menerima laki2 yang datang. Benarkah mereka serius? Atau cuma menjajaki untuk kemudian lari setelah mengetahui siapa diriku ini."
"Lha memang siapa dirimu?"
"Kau tau, di usiaku yang semuda ini orang memanggilku ‘ibu’. Disaat kamu masih dipanggil ‘mbak’ bahkan ‘dik’ oleh kolega2mu, aku sudah dipanggil ‘ibu’! Mana ada orang kantor yang berani macam2 sama ‘ibu2′. Kalau pun ada yang mendekatiku, mereka dari kalangan ‘bapak2′ yang usianya jauh lebih tua dariku. Aku benci begini, X-a. Aku ingin laki2 seusiaku yang sematang aku.. dst…dst.."
"Ah kau kebanyakan kriteria! Terus kau mau bagaimana? Keluar dari pekerjaan yang menempatkanmu sebagai ‘ibu2′ itu? Atau menetap sebagai ‘ibu2′ dan menemukan ‘bapak2′ muda?"
"Gundulmu! Aku makan apa kalau keluar. Lagipula, pekerjaan ini sudah jadi cita2ku sejak dulu. Aku membangun karirku ini sejak jaman kau belum lahir, X-a! Yang aku benci, kenapa sampai sekarang aku lebih bermain logika daripada cinta. Proses screening untuk mendapatkan laki2 terbaik sungguh menyakitkan sekali. Sakit dan melelahkan. Bagaimanapun juga aku tidak mau dikatakan perempuan gampangan to?? Apalagi diusiaku dan dikarirku yang sematang ini? Aku juga harus seimbang dengan laki2 pilihanku to?"
"Ya kalau memang itu proses yang ingin kamu jalani, sabar aja dulu sambil berjalannya waktu…. Kau pikir nikah diusia muda gampang apa?? Kau pikir kisah hidupku lantas menjadi sempurna karena telah menikah? Orang itu kan wang sinawang to, Jeng. Sama seperti pekerjaan, rumah tangga pun butuh komitmen, butuh dedikasi, butuh totalitas. Kau tidak bisa menilai bahwa ketika orang sudah menikah lantas habis perkara. Justru menikah itu menimbulkan banyak perkara baru. Kadang bahkan yang kita nikahi tidak hanya satu gelintir lelaki, namun juga kakak2 ipar, adik2 ipar, mertua, om2 dan saudara2 yang bejibun banyaknya. Bahkan kadang seorang wanita juga menikahi pekerjaan suami. Misal, suami seorang petani, paling tidak si istri harus cawe2 mempersiapkan bekal suami di sawah. Bukan begitu?"
"Tapi bukankah lebih baik sedih-sepi, suka-duka berdua daripada sendirian? Kemana2 lontang-lantung sendiri?"
"Yah, pikiran demikian memang benar juga. Apalagi ketika kita semakin dewasa. Orang2 disekeliling kita semakin sibuk dengan urusannya masing2. Akhirnya yang tertinggal cuma suami, yang menjadi satu2nya sahabat sejati, satu2nya teman curhat yang bisa dipercayai dan mau membantu sepenuh hati"
"Tuuhh, bener kan??!! Aku mau nikaaahhhh!"
Temanku mulai histeris. Sebuah percakapan yang tidak berguna. Aku tidak bermaksud untuk membuatnya semakin merana. Namun, ujung2nya kata2ku hanya memberi kesimpulan bahwa menemukan pasangan hidup adalah segala2nya. Padahal bukan itu yang menjadi maksudku.
Akhirnya kukatakan diam2: "Maaf teman, dulu aku pun pernah mengalami kegelisahan serupa. Yaitu ketika aku dalam perjalanan panjang sebelum akhirnya menemukan seorang pasangan. Mungkin kegelisahanku tidak berkepanjangan, karena aku segera memberanikan diri membuat keputusan: sudah tiba waktuku untuk menikah, maka aku menikah saja. Tidak usah banyak kriteria, bikin sakit kepala. Kau jangan meniru caraku, karena kau punya hidupmu. Jika menunggu dan memilih-milih pasangan yang tepat membuatmu lebih nyaman, jalani saja…"
*for a friend yang lagi gelisah