Menikah*

December 13th, 2006 by eikasalim

"To love somebody is not just a strong feeling- it is a decision, it is a judgment, it is a promise, [and it is a commitment]." (Erich Fromm)

Alkisah temanku perempuan, usianya sebaya denganku, masih muda, cantik, cekatan, dengan karir yang bagus di usianya yang sangat muda. Aku sempat iri dengan keberuntungannya dalam berkarir. Sungguh cepat betul dia mendapat pekerjaan, sementara aku butuh waktu yang lama. Bahkan sampai sekarangpun, karirku bisa dibilang begitu2 saja: tidak menjanjikan materi apalagi kesejahteraan.

Dia begitu tangguh, begitu lulus kuliah, pergi dari kampung halaman pun dia lakoni. Menaklukkan bumi nusantara yang demikian luas, itu cita2nya. Walhasil, dia pun bekerja di perusahaan multi nasional dengan gaji sekian juta per bulan. Hidup enak, tidak kekurangan, teman banyak, duit berlimpah.

Namun dia mengeluh. Dia mengeluh tak bahagia. Dia mengeluh dan mengiri pada kebahagiaanku yang tampak demikian sempurna.

"Apa katamu?" tanyaku setengah membelalak.
"Aku ini tak lebih dari housewife yang kerjanya mencereweti suami tiap hari. Menanyakan ini itu sampai suami kadang bingung mau menjawab yang mana dulu. Mengecek sarapannya, makan siangnya, dan makan malamnya. Menunggu saat gajian untuk bisa merencanakan anggaran satu bulan. Apa yang kau iri dari kehidupanku??"

"Kau punya lelaki."

"Hah! Apa pula itu. Tiap wanita juga akan punya lelaki jika sudah gilirannya." kataku membela.

"Lalu kapan giliranku?" tanyanya meredup. Ada getaran halus dari suaranya, seolah ingin menggugat sebuah ketidakberuntungan. Sebuah gugatan yang tidak masuk akal bagiku, dia toh masih sangat muda.

"Lha kau ini nyari pacar saja tidak berani." kataku menghakimi.

"Bukan tidak berani. Tapi aku selalu ragu untuk menerima laki2 yang datang. Benarkah mereka serius? Atau cuma menjajaki untuk kemudian lari setelah mengetahui siapa diriku ini."

"Lha memang siapa dirimu?"

"Kau tau, di usiaku yang semuda ini orang memanggilku ‘ibu’. Disaat kamu masih dipanggil ‘mbak’ bahkan ‘dik’ oleh kolega2mu, aku sudah dipanggil ‘ibu’! Mana ada orang kantor yang berani macam2 sama ‘ibu2′. Kalau pun ada yang mendekatiku, mereka dari kalangan ‘bapak2′ yang usianya jauh lebih tua dariku. Aku benci begini, X-a. Aku ingin laki2 seusiaku yang sematang aku.. dst…dst.."

"Ah kau kebanyakan kriteria! Terus kau mau bagaimana? Keluar dari pekerjaan yang menempatkanmu sebagai ‘ibu2′ itu? Atau menetap sebagai ‘ibu2′ dan menemukan ‘bapak2′ muda?"

"Gundulmu! Aku makan apa kalau keluar. Lagipula, pekerjaan ini sudah jadi cita2ku sejak dulu. Aku membangun karirku ini sejak jaman kau belum lahir, X-a! Yang aku benci, kenapa sampai sekarang aku lebih bermain logika daripada cinta. Proses screening untuk mendapatkan laki2 terbaik sungguh menyakitkan sekali. Sakit dan melelahkan. Bagaimanapun juga aku tidak mau dikatakan perempuan gampangan to?? Apalagi diusiaku dan dikarirku yang sematang ini? Aku juga harus seimbang dengan laki2 pilihanku to?"

"Ya kalau memang itu proses yang ingin kamu jalani, sabar aja dulu sambil berjalannya waktu…. Kau pikir nikah diusia muda gampang apa?? Kau pikir kisah hidupku lantas menjadi sempurna karena telah menikah? Orang itu kan wang sinawang to, Jeng. Sama seperti pekerjaan, rumah tangga pun butuh komitmen, butuh dedikasi, butuh totalitas. Kau tidak bisa menilai bahwa ketika orang sudah menikah lantas habis perkara. Justru menikah itu menimbulkan banyak perkara baru. Kadang bahkan yang kita nikahi tidak hanya satu gelintir lelaki, namun juga kakak2 ipar, adik2 ipar, mertua, om2 dan saudara2 yang bejibun banyaknya. Bahkan kadang seorang wanita juga menikahi pekerjaan suami. Misal, suami seorang petani, paling tidak si istri harus cawe2 mempersiapkan bekal suami di sawah. Bukan begitu?"

"Tapi bukankah lebih baik sedih-sepi, suka-duka berdua daripada sendirian? Kemana2 lontang-lantung sendiri?"

"Yah, pikiran demikian memang benar juga. Apalagi ketika kita semakin dewasa. Orang2 disekeliling kita semakin sibuk dengan urusannya masing2. Akhirnya yang tertinggal cuma suami, yang menjadi satu2nya sahabat sejati, satu2nya teman curhat yang bisa dipercayai dan mau membantu sepenuh hati"

"Tuuhh, bener kan??!! Aku mau nikaaahhhh!"

Temanku mulai histeris. Sebuah percakapan yang tidak berguna. Aku tidak bermaksud untuk membuatnya semakin merana. Namun, ujung2nya kata2ku hanya memberi kesimpulan bahwa menemukan pasangan hidup adalah segala2nya. Padahal bukan itu yang menjadi maksudku.

Akhirnya kukatakan diam2: "Maaf teman, dulu aku pun pernah mengalami kegelisahan serupa. Yaitu ketika aku dalam perjalanan panjang sebelum akhirnya menemukan seorang pasangan. Mungkin kegelisahanku tidak berkepanjangan, karena aku segera memberanikan diri membuat keputusan: sudah tiba waktuku untuk menikah, maka aku menikah saja. Tidak usah banyak kriteria, bikin sakit kepala. Kau jangan meniru caraku, karena kau punya hidupmu. Jika menunggu dan memilih-milih pasangan yang tepat membuatmu lebih nyaman, jalani saja…"

*for a friend yang lagi gelisah

Republik Toet

December 11th, 2006 by eikasalim

Waktu kutinggalkan negaraku masih berupa kerajaan. Presidennya otoriter ndak karuan. Main ciduk sana-sini. Bungkam sana-sini.

Negara itu besar memang. Mungkin hampir 1/4 Kanada tercinta. Bedanya, negara itu berupa kepulauan. Laut luas membiru di tepi Pasifik raya. Penduduknya sebagian besar bertani dan berlaut, mengendarai perahu2 luar biasa menyusuri pulau2 hijau jamrud khatulistiwa.

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa

Itu syair lagu yang sering kunyanyikan. Ditemani seragam merah putih, berdiri ditengah lapangan terik. Memandang ke arah bendera pusaka, walau aku tak yakin itu pusaka siapa, dan punya kekuatan apa?

Indonesia sudah kutinggalkan sejak lama. Hanya bahasanya saja yang masih melekat dalam bibir dan ludahku. Logat Jawa medhokpun tak bisa kutinggalkan. Tak urung kemanapun aku pergi di tengah2 Kanada ini, semua orang mengenaliku sebagai Asia, atau lebih parah lagi: Jawa!!

Ia kutinggalkan sejak berubah menjadi republika, ketika semua anggota dewan sudah toet semua. Bagai kerupuk udang yang melempem, meski hanya tertiup angin. Ketika hukum menjadi simbol belaka, dan penegak hukum cuma cari untung dan selamat bagi pribadi dan anggota pribadi. Ketika raja2 sudah tidak ada yang sekuat Bandung Bandawasa atau Dinasti Syailendra, arsiteknya pun sudah tidak mampu membangun kejayaannya Borobudur dan Prambanan.

Maka sah2 saja to kalau kutinggalkan Indonesia?

Apa hukumnya kalau kutinggalkan Indonesia??

Ndak ada, Jo! Yang ada adalah pertengkaran moralku sendiri yang sok alimis, nasionalis, agamis, lamis!

Kenapa to mau ninggalin Indonesia segala?

Halah biyung, biyung, di Indonesia itu ndak ada yang aman. Jadi pengusaha dituduh kolusi, jadi pengacara harus pinter muncul di Tivi, jadi DPR dicurigai korupsi. Jadi dosen pun juga malah dientuti. Blaik!

Kesana kena, kesini kena. Kiri kanan penuh marabahaya. Darat, laut, udara, taruhannya nyawa semua. Mau Mas Senopati, mau Mas Adam, atau Pakde Lion: amburadul semua! Naik gethek saja masih bisa terjungkal je. Lha mbok pikir jalan kaki pun aman? Keserempet, kesandung, kebentur, ketabrak: itu mah biasaaa…

Lha, apa bukan lebih baik kiranya kalau negeri yang seperti itu ditinggalkan saja?

Yuk hijrah saja dari republik toet ini. Biar bisa jadi WNA dan nonton pertunjukan realisme sebuah ketoetan dan keamburadulan.

Ambumu, Yu! Hijrah kemana?

Ke Kanada??

Lha kok minul!!

Pikun kok kolektif

December 7th, 2006 by eikasalim

"Mbok..simbok..sudah…wes pokoke gombal! Aku sudah tidak mau lagi ngurusi berita2 ra genah. Mau yang digosipkan itu politisi lah, wakil rakyat lah, artis lah. Ndak peduli! Wong semua juga sudah jadi sama saja. Lali kacang sama kulitnya. Lha dulu waktu kampanye, ndakik-ndakik katanya mau memperbaiki moral rakyat, tapi jebule moralnya sendiri malah kere, sekere-kerenya. Melik nggendong lali!!"

"E..ee…ee ndak boleh begitu, Le. Kualat. Sejak jaman mbah-mbahmu dulu, lha ya wakil rakyat dari Pohon Beringin itu to yang mengayomi. Kita punya budi besar lho sama punggawa2 Pohon Beringin yang sudah pensiun. Kalau ada satu atau dua dari ranting2 beringin itu yang busuk, rak yo wajar. Hatimu kudu jembar, Le. Memaafkan, beri kesempatan to, Le, Pohon Beringin kalau disiram bisa hidup lagi dan kembali ke jalan yang benar."

"Inget, Le.. dulu jaman Pohon Beringin masih dipunggawani Pak Harmoko, walah simbok dan orang2 kampung ini sering kecipratan rejeki. Sik penting nyoblos gambar ringin, nanti diberi beras dan bantuan macam2. Lha jalan aspal di depan rumah ini kan atas kemenangan Pohon Beringin juga to Le.."

"Walah, mbok…. naif kok dipelihara. Ya terang saja kaya, makmur, lha wong duwit utangan. Lambe politisi itu kan turah semua, mbok. Bisanya ngobral janji dan meninabobokkan rakyat. Rakyat dikibuli semua dengan materi. Lha hayo, sampai 50 tahun Indonesia merdeka,masih banyak anak2 Indonesia yang  buta aksara, perempuan2 gobloknya masih luar biasa. Di poligami masih mau2 saja. Korupsi merajalela. Kolusi? Haduh nomer satu sedunia!"

"Negara kita ini mengalami kepikunan kolektif lho, Mbok. PERMISIF. Mudah melupakan, mudah memaafkan. Sudah pikun, bobrok lagi. Lak yo mesakne anak2ku to, Mbok. Ra ono sik iso digugu lan ditiru. Kabeh wes dadi koyo asu: rebutan balung seru kerahe"

"Haduh, ngomongmu kok jadi dakik2 ngene, to? Kepikunan kolektif bagaimana? Permisif bagaimana? Pesimis kok dipiara, to Le.."

"Lha iya, to, Mbok… Coba, ketika wakil rakyat itu ketahuan berbuat mesum, coba itung ada berapa diantara kita2 ini yang memaafkan begitu saja. Beberapa malah mengambil apologi bahwa Pak YZ itu cuma manusia, bisa salah dan khilaf. Terus, sebentar lagi pasti akan dilupakan. Malah2, bisa2 YZ kembali lagi yang-yangan sama ME. Lha wong katanya masih cinta, je. Lha kok nyimut tenan!! Lebih parah lagi, Pohon Beringin bahkan belum menjatuhkan sangsi apa2. Padahal, inget loh Mbok, jamannya Kanjeng Nabi dulu orang zina ya dirajam…ditimbuni pakai batu sampai mampus. Lha ini..yang zina wakil rakyat, je… Apa cuma cukup dirajam saja?"

"Njur karepmu itu piye?"

"Ya diseret ke pengadilan gitu loh. Apa ga berani 120 juta rakyat nyeret wakil2nya yang bejat ke depan pengadilan? Tapi yo embuh ding, Mbok… aku sendiri juga bingung. Lha wong pengacara orang kaya pasti ngetop2 semua, je. Pinter banget membalik-balikkan kata. Blaik! Jangan2 mereka juga juga punya akses untuk jual beli hukum pidana, ya, mbok?? Walah, ruwet. Nek semua sudah memihak kepada kekuasaan, terus yang memihak kita ini siapa ya, mbok? Lha coba, lihat saja, Pengacara orang kaya kok kayanya itu2 saja, dan sering menang pula… Kadang aku bingung, mereka itu pengacara atau penyiar to ya? Wajahnya bolak-balik muncul di layar kaca??"

"Embuh..Le… embuh… omonganmu iku tak rasak2ke kok rodo moralis. rodo idealis. Wes, nek nggo Simbok, asalken ada yang bagi2 beras buat makan besok pagi, cukuplah kiranya."

"Wo alaahh…mbok…mbok… jiwa ngere kok diopeni.."

Saatnya untuk malu

December 4th, 2006 by eikasalim

Semua orang pada latah.

Kenapa?

Kemarin orang2 masih hangat membicarakan bagaimana baiknya relokasi korban lumpur Lapindo.

Eh, lha dalah, kemudian kok arah beritanya jadi ndak nggenah….

Cerita dari media ke media santer menyoroti kasus poligami-nya Paklik Gym yang mengemparkan masyarakat Bandung dan sekitarnya. Argumentasi yang diusung mirip seperti kontroversi Puspo Wardoyo ketika mengumumkan Poligami Award. Malah para pemburu berita ngobok2 friendsternya Nyah Gym pula. Gendeng! Bahkan friendsterpun bisa jadi bahan gosip ria.

Poligami oh poligami… Although it is legal, doesn’t mean it never hurts.

Kasak-kusuk selanjutnya adalah beredarnya ‘video game’ Yahya Zaini yang sedang bermain filem dengan seorang wanita, Eva Maria katanya. Tiba2 halaman komentar di koran jadi semarak: penuh hujatan dan tanda tanya, penuh kalimat kasar dan cerca. "Kau, DPR! Tak seharusnya ngesek diluar nikah. Itu zina! Betul itu cuma soal selakangan, namun jika selangkanganmu sendiri tidak kau jaga, bagaimana selangkangan rakyat dan masyarakatmu, bangsa dan negaramu, anak dan generasimu??"

Lalu tiba2 rakyat pun terbagi dalam dua blog besar: satu berusaha menghakimi bahkan dengan kata dan cara keji. Kedua: berusaha membela dan menutupi [dengan cara mengatakan, "Dia cuma manusia..bla..bla.. Jangan lihat kesalahannya saja, lihat pula jasanya..bla..bla.."].

Dan di tengah blog2 besar itu, muncullah blog ini! Yang menggugat siapa saja yang pantas digugat. Bahkan menggugat diri ini yang terlanjur berbakat menelanjangi aib dan bergosip. Bergunjing sana-sini, menyelidik sana-sini, ngintip sana-sini.

Ah, mungkin aku tidak lebih baik dari mereka… Setidaknya mereka mendapat rasa malu sebagai hukumannya, namun malu kah aku ketika memaparkan kesalahan orang segamblang2nya, meski dalam tulisan saja??? Malukah aku ketika nyari2 berita2 tentang mereka??

Seharusnya, aku lebih mawas diri……

————————-

+ Kenapa, nduk??
- Bangsat, mas! Aku sudah terkena sindrom munafikisme dan Merriyahnya gossipria. + Hahaha..biasa kalau kamu sudah kurang kerjaan, pasti cuma begitu itu kerjaannya. Mbok yang positif to, nduk… setidaknya nyari resep di internet lebih berguna daripada baca berita2 yang tidak jelas juntrungannya.
-Kan lagi tren mas, berita2 gituan. Aku kan juga ga mau gagap informasi to, mas…
+ Kenapa? Biar gak ketinggalan berita katamu?? Gundulmu, itu bukan berita, nduk…Itu dokumen super secret dari babak kehidupan manusia.
-Terus aku harus komentar apa, Mas? Aku kan juga ikut bertanggung jawab atas kebobrokan mental di negara kita?
+ Sok kamu! SSttt..sudah, tanggung jawabnya pada Mas saja. Jadi istri yang baik dan membesarkan anak2 bermental baik. Itu cukup kiranya.

[Hmmmm....Kayanya, mas-ku ga sekasar ini deh biasanya..]

Apa2an ini?*

December 2nd, 2006 by eikasalim

"Mah, kita teguhi rumah tangga kita ini. Papah toh tidak akan menikah lagi. Mamah saja yang akan menjadi pendamping hidup papah…dunia-akhirat."

Lega, kusambut uluran tangan suamiku. Kucium dengan mesra. Dia meraih keningku, mengecupnya dalam damai. Sebuah ritual dalam perjalanan cinta kami, terutama setelah kami sama2 bersembahyang, menyatakan cinta kami kepada-Nya, dan kepada rumah tangga yang kami bangun dengan cinta, kasih, keringat, bahkan airmata.

Lengkap sudah rasanya hidupku. Suamiku, meski bukan pejabat, namun dia termasuk orang berpengaruh. Ia dicintai oleh banyak orang. Dan di atas cinta itu, ada cintaku dan cinta anak2 yang selalu memujanya sebagai laki2 pilihan dan ayah terbaik. Allah, bersyukur aku karena-nya. Bersyukur hatiku, karena Kau telah mengaruniaku kebahagiaan berlebih dengan kehadiran laki2ku dan anak2 kecilku.

Karir suamiku pun bisa dibilang bagus. Dalam usia yang menjelang kepala 4, dia memiliki banyak kesibukan: mulai dari jualan tabloid sampai mendirikan MLM berbasis usaha bersama. Aku memang tidak terlibat dalam urusan mencari uang dan pergaulan suami-ku di luar rumah untuk mencari nafkah. Bahkan, kadang aku merasa bersyukur karenanya. Suamiku benar2 memperlakukanku sebagai perhiasan terindah yang tidak ingin dipaparkannya pada debu dan tanah. Dengan cara ini, aku tau dia mencintaiku.

Subhanallah, laki2 terbaikku. Seseorang yang selalu lembut dan tidak pernah mencelaku. Memberikan yang terbaik kepada anak2 dan lingkungan tempat dia tinggal.

Sampai suatu ketika…..

"Mamah, Papah tau keputusan ini berat bagi Mamah. Papah pun tidak memaksa mamah untuk membuat keputusan sekarang. Tapi coba dipikirkan ya, sayang.. Papah melakukan ini untuk kebaikan kita bersama. InsyaAllah, Papah sanggup menjalankan amanah ini, sekali lagi..hanya untuk kecintaan Papah kepada-Nya"

Apa-apaan kau, Pah?  Anak-mu yang paling besar saja sudah menjelang dewasa. Usia papah juga sudah tidak  muda. Apa kah yang kurang dari diri Mamah? Tak cukup-kah pengabdian Mamah kepada Papah? Jika Papah ingin membantu perempuan itu, tak perlu lah sampai menikahinya…

Aku terdiam. Mana berani ku gugat suamiku. Ia terlanjur begitu sempurna bagiku, wakil Tuhan dalam dunia kecilku. Aku terlanjur mempercayai apapun keputusan yang dibuatnya. "Dia telah mengambil diriku bahkan dari diriku sendiri.."

Kehidupan baru harus kujalani kini: anak2 punya mamah baru lagi, dan suamiku sudah bukan milikku pribadi. Atau mungkin sejak dulu dia tidak pernah kumiliki? Pergaulannya di luar rumah tidak pernah aku ketahui, cerita2nya di kasur mungkin hanya kisah2 ‘cover story’. Astaghfirullah, bagaimana mungkin aku bisa memiliku gugatan keji terhadap laki2 bersih yang telah lama sekali kunikahi. Aku berbisik: "Mungkin, bagaimanapun…..aku memendam ketidakikhlasan ketika aku harus berbagi suami. Laki2ku tidak perlu tau ketidakikhlasanku ini, bahkan jika bisa kusembunyikan juga dari Illahi."

"Kriiiing…."

Telpon berdering membangunkan lamunanku, cerita sedihku.

MAs: "Lagi ngapa nduk?"
Nduk: "Eh, mas.. ini aku lagi nulis blog."
MAs: "Apa temanya, nduk?"
Nduk: "Poligami."
MAs: "Ah, imajinasi mu pasti berlebihan lagi."

Nduk: "Ya maaf, mas…tapi ada selebritis kawin lagi.."

MAs: "Ah biasa itu, Nduk…Yang penting bukan mas kan yang kawin lagi……."

Nduk: "He-em.."

Aku mengangguk diam2, sambil mensyukuri keadaanku yang begini-ini: semoga rumah tangga kami tidak mengundang kehadiran istri2 baru lagi, madu2 baru dari kembang yang tidak bertuan. InsyaAllah…

*Fatima Mernissi, atas gugatan terhadap kehidupan perempuan*

Ketawa seperti anak kecil

November 29th, 2006 by eikasalim

"Kadang kita ditertawakan, atau malah tidak tau kalau kita sedang ditertawakan??"

Sebuah cerita dalam perjalanan karir akademisku:

Hari ini -seperti biasa- aku ngetem di Lantai 6, McLennan. Dengan sok gagah -seperti halnya pelajar sungguhan- aku bawa2 komputer dari rumah. Seperti pelajar sungguhan pula, aku penuhi backpack-ku dengan buku, kotak makan siang, dan air minum. {Laga2nya sih seperti mau tinggal di perpus lamaaaa gitu loh}.

Spot terbaik pun sudah kududuki. Pertama-tama yang kulakukan adalah menyambungkan laptop ke colokan di dinding, lalu memasang headset di telinga. Biar bisa konsentrasi dari suara2 kaki yang berlalu lalang di dekatku. {Spot terbaikku itu berada di carrel yang berjajar diantara ribuan buku, jadi di sekitarku banyak orang lalu lalang untuk mengacak-acak buku dirak-rak}.

Menit pertama aku buka yahoo messenger, chatting sebentar dengan teman di ujung benua sana, yang masih ngelayap malam2 jaga warnet. Hiks, kau memang teman yang hebat malam2 masih nyari rejeki pula {Buat yg merasa disinggung jangan Geer}. Seperempat jam pertama aku habiskan untuk melanglang dari satu koran ke koran lain. Sambil senyum kecil2 baca cerita wagu2 dari negeriku. Bahkan ada lagi yang paling wagu: Ki Gendeng mau nyantet Bush, agar tidak menang pemilu. Hahahah..kayanya dia harus menyantet SEMUA simpatisan Partai Republik dan Demokrat di Amerika sana juga. What a waste of time! Mending nyantet gw, supaya cepat selesai kuliah.Hehehehehe

Setengah jam berikutnya, aku sudah asyik dengan email. Ada mbak ini yang nanyain kabar, tante itu yang nanyain utang, bang anu yang ingin kenalan, mas ani yang ngajak gojekan. Wadau rame juga mailbox-ku hari ini. Ketambahan email2 dari milis a,b,c,d,e…x…Wah semarak sempurna. Satu jam berlalu cuma untuk ngebahas itu semua.

Jam berikutnya, aku kebelet beol. Terpaksa lari ke toilet dulu. Waduh, masih harus ngantri juga rupanya. Terpaksa deh ditahan-tahan. Caranya? Ada deh ;) {Bukan pakai nyelipin batu di anus lho yaa…}.

Setelah email, apa lagi? Waduh, rupanya ada lagu baru yang muncul dari mBak Nelly Furtado. Aduh, dengerin dulu ah..Hehehe..satu album habis juga deh akhirnya. Asyiknya sambil nyari2 lirik2nya sehingga bisa ngikutin nada dan iramanya. Na.na.na.na..

Kulirik jam dipojok sebelah kanan dekstop. Ups! Udah jam 2, saatnya kupergi makan siang. Hmmmm, kantin di perpus tidak menyediakan makanan enak. So, aku terpaksa ke SSMU mengunjungi counter Tiki Ming untuk memesan semangkuk sup Wonton. Aduh, hangat dan nikmat. Apalagi dingin2 begini, diiringi hujan rintik2…wah pokoknya nikmat tiada terhingga.

Sejam kemudian balik ke perpus. Aku kok merasa ngantuk. Kayanya harus tidur sebentar deh. Akhirnya mampirlah aku ke pojokan. {DI McLennan ada sleeping corner -itu istilahku- yaitu tempat deretan sofa2 empuk, dimana kita boleh ngapain aja, asal tidak mengeluarkan suara}.

Rasanya tadi aku terpejam sebentar, tapi kok ternyata lama juga ya. Waduh ini sudah jam 4. Aku belum sempat ngetik dan baca apa2.

Akhirnya, kembali juga aku ke spot kerjaku di lantai 6. Dengan bersusah payah kubuka file2 microsoft basi kerjaan kemarin hari. "Oh, my gosh!" aku mendesis. Sejenak tak percaya. Aku masih belum mengedit 50 lembar paperku. Aduh, padahal besok aku ketemu supervisor pula, padahal aku maunya segera selesai pula, padahal..padahal…

"You have a new message" kata YM-ku tiba2. Waaah, rupanya temanku mengupdate blog-nya. Waduh aku juga tidak mau ketinggalan ah.

Gedubrak, akhirnya ngebloglah aku sambil meninggalkan perkerjaan yang tersisa.

"Oh, adinda, kapan kau bisa pulang jika begini caranya??" {Tanya mas-ku sambil megangi kepala}

{Aku cuma nyengir kuda}

Onani intelektual

November 24th, 2006 by eikasalim

Aku punya sedikit masalah. Masalahku adalah:

Aku akan ujian. Kata orang pendadaran. Yaitu ketika semua data dan fakta harus aku kuasai sampai titik koma. Kalau perlu halaman referensinya juga dihapal luar kepala.  Mungkin juga aku harus menghapal ini dan itu karena ini dan itu potensial mengundang pertanyaan. Atau juga aku perlu refer ke ani dan anu, karena ani dan anu adalah pakar di bidangku. Biar dianggap pintar dan bisa lulus ujian, perlu juga kan sering2 kusebut nama ani dan anu. Atau mungkin perlu juga mengutarakan konsep yg dakik-dakik dan muluk-muluk sampai berbusa-busa mulut dan ubun-ubunku.

Gundulmu! Pada akhirnya, aku tidak beroleh apa2. Menjelang ujian pendadaran, dan aku tidak mendapat apa2 selain pengalaman membaca berlembar2 makalah yang melelahkan mata, mengkritik teori2 masa silam, dan mencoba menggali fakta2 yang sudah ada. Mempresentasikan dengan teknologi power point mutakhir, mencoba segagah2nya: Lha wong sudah sepantasnya kan kalau calon sarjana itu gagah dan tau segalanya!

Gombal! Justru pada saat2 seperti inilah, aku temui kekosongan.Pendidikan formal ini cuma mengharapkan ku untuk berpandai2 mengeluarkan isi otakku kedalam mesin ketik dan menjadikannya file2 microsoft word yang rapi jali. Namun sesungguhnya, lipatan2 otakku tidak serapi itu! Otakku ada fantasinya, ada ide jahatnya, ada intriknya, ada nafsu dan angkaranya! Ada cinta dan kesepiannya! Ada keindahan dan kemegahannya! Bagaimana bisa merangkum semia kompleksitas itu dalam sejumlah kertas!! Bahkan libido-ku pun tidak terpenuhi dalam 50 halaman kertas yang berbusa-busa menawarkan hasil karya intelektual.

Sungguh aku tidak puas. Pergaulanku dengan dunia akademik, profesor, guru, buku dan sistem tidak lantas membuatku menjadi tau apa2 yang ingin aku tau. Akhirnya, menjelang pendadaran begini aku cuma meratapi 50 halaman tulisanku tanpa mendapat esensi dan pencerahan berarti. Semua hitam, seperti times new roman yang gundul-gundul dan tidak berirama. Wahai Tuhan, aku ingin keriting!! Aku ingin nuansa! Aku ingin berwarna!

Kenapa tidak kugambar saja karya intelektualku dengan warna2 tinta seperti manusia guwa yang menulis cerita2nya! Mengapa tidak kubikin sendratari saja kapasitas otakku ini seperti Ramayana dan Sinta di Prambanan sana! Ah, setidaknya mbikin sambel terasi masih lebih puas rasaya ketimbang menulis begini….

Wahai Saraswati, aku tidak puas begini. Ini bukan ilmu, bukan pula kekayaan diri. Ini hanya 50 halaman di kertas persegi yang melegitimasiku sebagai sarjana. Pada dasarnya, ini sama sekali tidak menjadikanku sarjana kehidupan, punggawa dari dewa pendidikan dan penerangan. Ini hanya cerita sebuah onani intelektual yang tidak sejati…

Atau aku harus kembali dari titik dimana aku berawal? Menggugat guru TK-ku yang mengajariku membaca setengah memaksa? Menggugat guru SD-ku yang menyuruh menghapal Pancasila tanpa terbata-bata?

Bodoh!
Sekolah bukanlah guru sejati, sebab sang guru sejati tidak akan pernah memproklamirkan diri. Sejak aku dilahirkan Sang Guru Sejati sudah mengaspirasiku untuk bernapas, mengenyot tetek ibu, menangis…semua tanpa aba2….Bahkan bermain cinta pun juga tidak perlu aba2 kan?? Hanya Sang Guru Sejati yang bisa menginspirasi tanpa harus melakukan presentasi.

Aku….cuma sang Onanist intelektual dlm upaya mencari kesejatian. Biar saja apa adanya. Ijinkan aku pisuhi diriku ini, sekali ini….

BusHyeet deh

November 20th, 2006 by eikasalim

"Bismillah..dengan rasa tak sabar, aku ingin menyampaikan gugatan."

Keluargaku sedang dalam gonjang-ganjing. Ayah dan para paman sedang menantikan "tamu"…..

Akhirnya hari itu "dia" datang, setelah diwanai oleh konflik yang tak berujung pangkal dari beberapa anggota keluarga. Ada yang setuju, ada yang menggugat dan menghujat. Bahkan, kebanyakan orang menganggap kedatangannya cuma menimbulkan masalah. Lebih baik tidak pernah menginjakkan kaki di tanah yang sudah turun temurun dari jaman Sriwijaya dan Majapahit dihuni oleh kami sekeluarga *sambil mengepalkan tinju ke udara!!*

Aku bingung. Mungkin aku terlalu naif untuk memahami adat dan tata cara dalam keluargaku. Setahuku, nenek selalu berwanti-wanti untuk menghormati tamu, walau betapa bencinya kita terhadap tamu itu. Seperti halnya Empu Gandring yang menerima kedatangan Ken Arok dengan tangan terbuka, meskipun pada saat itu dia -mungkin- sudah tau bahwa Ken Arok menyimpan kelicikan dan kemunafikan.

"Dia" orang besar. Itu aku tau. Setidaknya wajahnya sering aku lihat di televisi. Dengan kebesarannya pula, dia memang berkuasa. Karena kekuasaannya pula, ayah dan paman-pamanku ketakutan dibuatnya. Mereka ingin menghadirkan yang istimewa untuknya. Taman di depan rumah kami pun di bersihkan, maksudnya pohon2 puluhan tahun pun akan dipangkas. Tukang kebun keluarga bilang kalau "dia" akan datang dengan helikopter. Wah, seumur-umur aku belum pernah meihat helikopter mendarat di kebun rumah kami. Alangkah asyiknya!!

Tapi ibuku menangis, membayangkan baling2nya akan merusak kolam teratai disamping rumah membuat ibu selalu bersedih. Juga kakak perempuanku marah-marah, dia tidak terima karena tidak diijinka ayah untuk membuat keributan di hari H. Bahkan tidak juga untuk berinternetan atau email2an dengan pacarnya di Irak. Kasihan betul kakak perempuanku.

Yang lebih sadis adalah tindakan uwakku, demi menolak kedatangan "dia", uwak menyiapkan santet khusus. Iih serem amat ya. Tapi, bagi aku yang kecil ini, rasanya asyik2 saja melihat uwak memotong kobra, gagak, kambing lalu minum darahnya.Hiiyy… Kakak laki2ku yang sekolah di pesantren bilang, "Itu syirik, namanya. Menyekutukan Allah."

Ah aku tak paham.

Yang jelas, aku libur dari sekolah. Ayah sengaja memerintahkan anak2nya yang masih duduk di bangku sekolah untuk libur. Tiga hari! Wah, enaknya. Aku berencana akan bermain sepak bola dengan teman2 lain di belakang rumah. Biasanya belakang rumah kami menjadi pasar kecil, tempat mbok-mbok bakul menggelar dagangan, lalu tukang2 ojek bersliweran. Tapi kali ini ayah sengaja menutup belakang rumah kami, tidak ada aktifitas ekonomi selama "dia" berkunjung. Semua untuk "dia"

Sebenarnya, dari berita yang kudengar, "dia" cuma berkunjung sebentar. Cuma mampir katanya, setelah seharinya mengunjungi tetangga kami di sebelah utara sana. Tapi, kok ayah dan para paman sibuknya luar biasa. Bahkan, ketika kakak tertuaku menikah, mereka tidak sesibuk ini loh.

Ah, bagi anak kecil seperti aku, pikiranku sederhana saja. Mungkin "dia" terlalu kaya, terlalu gagah. terlalu berkuasa, terlalu mumpuni, dan terlalu arogan untuk bisa mendapat sambutan yang biasa-biasa. Apalagi kalau "dia" datang tanpa mendapat pengawalan, wah bisa jadi sudah jadi dendeng oleh ulah sepupu-sepupuku yang mengacungkan pedang menolak kehadirannya.

Anyhow, yang jelas "dia" tadi sudah datang. Ayah dan paman-paman menyambutnya di beranda. Wah entah apa yang mereka bicarakan, kaku sekali, layaknya bukan seperti teman lama. Bahkan pertanyaan yang ayah ajukan padanya dijawab datar2 saja. Senyumnya seperti menyeringai, mencemooh keluarga kami yang terlampau sederhana. Yah, sudah nasibnya sih kami tidak pernah kaya. Sebenarnya kami punya banyak penghasilan, tapi gimana lagi, wong keluarga kami besar sekali.

Sebagai anak kecil aku memang tidak tahu menahu pembicaraan itu intinya apa. Kok seperti formalitas saja. Diakhir perjumpaan, ayah menjabat tangan "dia". Seolah-olah tersenyum bangga, beberapa wartawan mengambil gambar dan mewawancara. Ai..ai..ai.. kok sepertinya kami sekeluarga jadi tontonan para tetangga. Hahahahahaha

Indahnya perbedaan

November 19th, 2006 by eikasalim

Kemarin aku nongkrongin Parade Santa Claus. Sebuah parade tahunan yang datang lebih awal tahun ini. Masih 18 November, bok! Tapi kayanya Montreal sudah siap menyambut kedatangan Santa dengan kereta salju dan para kurcacinya.

Paradenya ramai sekali. Berbagai elemen masyarakat turut serta berparade, berkostum, berjingkeakan, bersuka cita. Wah, aku pun juga jadi hanyut dalam suasana. Meski sedikit mendung dan dingin, ah tidak ada yang mau beranjak sebelum parade selesai. Alhasil terpaksa berdesak-desakan. Semua etnis tumplek blek: yang ada didepanku orang Filipina, disampingnya orang Perancis, di belakangku Orang Jepang dan Arab, di kananku orang Afrika, di kiriku orang Brazil -Amerika Selatan-. Aha!!

Yah itulah Montreal. Terlalu banyak perbedaan, terlalu banyak perayaan, dan terlalu banyak festifal. Herannya, meskipun banyak perbedaan, Montreal tidak lantas menjadi chaotic dan penuh huru-hara. Melainkan semakin manis dan mempesona.

Bayangin, setiap tahunnya ada kurang lebih 30 festifal di Montreal. Apa saja dijadikan festifal. Mulai dari Festifal Natal (Christmast in the Garden or Santa Claus festifal), festifal Jazz, festifal Gay (gay pride), festifal anak2 (Fete des Enfants), festifal kembang api, festifal lampion (Lantern in Chinesse Garden), festifal musik Arab, festifal musik ritmik, festifal film porno (hahhahaha). Pokoknya ada2 saja.

Uniknya lagi, ketika ada satu festifal, semua orang (hitam, putih, kuning, pendek, tinggi, gendut, kurus, botak gondrong), semuanya boleh ikutan or nonton! N gratis! Contonya: aku seorang Muslim, tapi nonton festifal Santa, nonton festifal pumkin menyambut Haloween, festifal Summer Solistice (adatnya Romawi), dst, dst..

Anyway, ini lah yang jadi cerita manis tentang Montreal, disamping semua tangis bombay tersedu sedan ditengah ngerjain paper, peer, tugas, dan merindukan Sang Kekasih… uhuk..uhuk..

Andai saja pluralisme di Indonesia bisa sedemikian indahnya…

Tapi sudah ding, Indonesia pernah membuktikan keindahan hidup dalam pluralisme dan perbedaan. Remember: kita pernah punya lagu Satu Nusa Satu Bangsa, kita punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika, kita punya Ketuhanan Yang Maha Esa.

Siapa sangka Indonesia pernah demikian indahnya…

Ah, Indonesia memang pantas dicintai.

Negeri yang aneh

November 15th, 2006 by eikasalim

Di negeri ini, anak-anak kecil perutnya buncit, malnutrisi dan kena infeksi. Infeksinya bisa apa saja: mulai cacing tambang, cacing gelang, sampai panu dan malaria. Namun anak-anak tetaplah anak-anak, inguspun dijadikan mainan, tak bebaju tetap juga berlarian di kolong jembatan. "Hide and seek" bersama teman2. Ah, mungkin "hide and sick" bersama malaikat kematian.

Di negeri ini, perempuan-perempuan muda melacurkan diri di pinggir sungai. Tidak apa-apa, katanya. Yang penting asap mengepul dari dapur rumah tangga, syukur-syukur bisa beli bedak dan beha. Tapi wanita tetaplah wanita, kalau haid tiba sudah tidak bisa apa-apa. Ah, jangan-jangan tidak makan pula. Kasihan.

Di negeri ini, kere-kere pada musim tertentu bisa bersuka cita. Yaitu musimnya demonstrasi dan anarkhi yang menyulut pada kerusuhan massa. Semakin besar kerusuhan, semakin banyak hasil jarahanan. Itu katanya. Walau pada akhirnya, kere-kere pula yang masuk penjara. Hah! Memang biasa, aktor intelektual memang terlalu pintar menampakkan wujud fisiknya. Atau, jangan2 aktor intelektual itu tidak pernah ada? Artinya, memang kere lah yang mendalangi anarkhi itu sendiri. Ironi.

Di negeri ini, laki-laki baik dan lugu pun bisa menjadi eksekutor paling sadis. Coba saja, siapa yang menyangka kalau M.Nuh bisa merakit bom bunuh diri, siapa yang menyangka Imam Samudera menjadi dalang bencana. Kala itu….

Di negeri ini, kereta-kereta pedati sudah tidak berfungsi lagi, becak sudah terpinggirkan, andong hanya untuk keperluan wisata. Semua mengarah keserbacepatan dan keserbamewahan; walau akhirnya cuma menimbulkan polusi dan kemacetan. Katanya, busway pun ikut-ikutan menjadi penyebab mampetnya jalana ibukota. Siapa sangka.

Di negeri ini, kita bisa mati kapan saja dengan cara apa saja. Keluar rumah di sambar truk nyelonong karena kelebihan muatan sudah biasa, terlindas diperlintasan kereta karena sopir tidak waspada sudah banyak ceritanya, dibunuh saudara karena rebutan harta warisan sudah jamak adanya.  Nyawa manusia tak lebih berharga daripada sekotak mi dan sepiring nasi. Kayanya.

Pemerintah ribut-ribut urusan pornografi, ribut-ribut urusan hukum syar’i, bahkan terakhir ini ribut-ribut kedatangan diktator tunggal jagad raya dari Amerika sana. Tapi ya begitu itu pemerintahan dalam negeri kami, Sepi ing gawe rame ing pamrih.